zakat online

Zakat Online Jadi Tren, Apa Hukumnya?

Seiring perkembangan zaman, ada banyak hal yang dilakukan untuk memudahkan aktivitas manusia. Seseorang bisa berbelanja secara online, memesan makanan, membeli tiket, dan lain-lain. Termasuk, zakat online. Kini, berbagi pun ternyata bisa lebih mudah dan lebih cepat, di manapun dan kapanpun.

Bagaimana kah hukum membayar zakat secara online?

Sebelum kita membahas itu, mari pahami terlebih dahulu perihal zakat. Zakat merupakan besaran 2,5% dari jumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim dan diberikan kepada 8 golongan yang berhak menerimanya. Hukum wajib ini merujuk pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Islam didirikan atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji ke baitullah, dan puasa ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sementara, Al Quran sendiri menegaskan, “Mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan aga dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah : 5)

Hukum Zakat Online

Pertanyaan yang kerap muncul terkait zakat online ini adalah sah atau tidaknya zakat online. Sebab, tidak ada ijab qabul yang dilakukan melalui teknologi digital ini. Yang dipermasalahkan adalah para muzakki (orang yang membayar zakat) tidak bertemu langsung dengan mustahik (penerima zakat).

Menjawab hal ini, mari kita perhatikan pendapat dari ulama kontemporer Syaikh Yusuf al Qaradhawi. Pendapatnya menjadi rujukan bagi para lembaga zakat, bahwa hakikatnya zakat online itu diperbolehkan.

Ia berpendapat, “Seorang pemberi zakat tidak harus menyatakan secara eksplisit kepada mustahik bahwa dana yang ia berikan adalah zakat. Oleh karena itu, apabila seorang muzakki (pemberi zakat) tanpa menyatakan kepada penerima zakat bahwa uang yang ia serahkan adalah zakat, maka zakatnya tetap sah.” (Fiqh Az Zakat)

Dari jawaban ini, kita bisa menyimpulkan, bahwa setiap muslim yang telah dikenai wajib zakat bisa membayar zakat secara online. Dengan demikian, seseorang dapat menyerahkan dana ZISWAF atau donasi nya secara online kepada lembaga amil zakat (LAZ). Namun terkait hal ini, donatur pun harus melakukan konfirmasi, untuk memudahkan lembaga menyalurkan donasi kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Para ulama pun bersepakat, bahwa syarat wajib zakat adalah beragama Islam, merdeka, baligh, berakal, kepemilikan harta yang penuh, lalu mencapai nishab dan haul. Sementara itu, syarat sahnya adalah adanya niat berzakat, lalu pemindahan kepemilikan harta pada penerima. Sedangkan ijab qabul bukan suatu keharusan.

Wallahu a’lam bish shawwab. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by