Serba-Serbi Sambut Ramadhan di Berbagai Negeri Muslim

Berita

Bulan suci Ramadhan selalu ditunggu kedatangannya oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Tak hanya keistimewaan bulan tersebut sebagai sayyidu syuhur, namun juga keunikan tradisi-tradisi yang selalu membuat bulan Ramadhan berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

Setiap daerah dan negara memiliki tradisi Ramadhan yang beragam dari mulai penyambutan hingga perayaan hari kemenangan Idul Fitri. Jika di Indonesia kita mengenal istilah munggahan dalam menyambut bulan ramadhan, kemudian ngabuburit dan tarling (tarawih keliling) sebagai budaya dan tradisi masyarakat, maka lain hal pula akan kita dapatkan di negara-negara Islam lainya.

Sudan: Semarak Penyambutan Ramadhan di Negeri Dua Nil
Di negeri yang dialiri oleh dua nil ini sangat lekat dengan kehidupan Islami dalam keseharian masyarakatnya. Beragam budaya dan tradisi lahir setelah Bangsa Arab melakukan ekspansi ke wilayah utara Afrika pada masa kekhalifahan Utsman Bin Affan. Lalu Amru Bin ’Ash yang memerintah Mesir pada waktu itu, melebarkan sayapnya ke negeri Sudan. Sejak saat itu, Bangsa Arab mulai banyak yang berhijrah dan menetap di Sudan menyebarkan tradisi-tradisi keislaman.

Di masa-masa bulan Ramadhan masyarakat muslim Sudan berbuka puasa bersama di luar rumah, di halaman bahkan di pinggir jalan. Jarang sekali orang berbuka di dalam rumah kecuali perempuan. Setiap keluarga membawa satu nampan berisi makanan khas ramadhan yang berbeda-beda seperti balilah, ashidah, rob, bamiyah, weka. Mereka berkumpul bersama dengan tetangga-tetangga terdekat untuk bertukar makanan menambah suasana kebersamaan di bulan Ramadhan. Ini merupakan tradisi turun temurun yang mengindikasikan sebuah solidaritas dan kemurahan hati masyarakat. Dan sajian buka puasa ini dapat dinikmati oleh siapa saja, mengundang orang miskin yang tidak mampu dan juga para pejalan kaki yang melintas.

Suasana buka bersama ini menyajikan sebuah pemandangan yang elok di sepanjang jalan kota Khartoum. Tikar-tikar terhampar membentuk kelompok-kelompok warga dengan berbagai macam latar tanpa dapat membedakan mana yang kaya dan miskin. Setelah selesai berbuka para pemuda sigap membersihkan nampan dan sisa-sisa makanan di atas tikar untuk kemudian melaksanakan shalat magrib berjamaah. Tradisi ini lah yang ditunggu masyarakat sudan dalam bulan Ramadhan karena memiliki nilai sosial yang tinggi di mana orang miskin dan orang kaya dapat menikmati hidangan yang sama.

Bagi masyarakat Indonesia di Sudan bulan Ramadhan juga menjadi ajang untuk berkumpul bersama. Momen Ramadhan dimanfaatkan juga oleh KBRI dengan menggelar buka puasa dan shalat tarawih bersama di halaman Wisma Duta (kediaman Duta Besar). Hal ini juga memberikan berkah tersendiri di mana WNI dapat merasakan masakan dan suasana khas Indonesia yang jarang dijumpai di negeri perantauan Sudan.

Irak:

Umat Muslim di Baghdad, Irak biasanya menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berbelanja di pasar Shorja (pasar tertua di Irak). Pasar Shorja ramai dikunjungi ketika datang bulan puasa dan waktu buka pasar hanya dari sore hari sampai menjelang malam. Barang-barang unik dapat dijumpai di pasar ini, mulai dari jajanan buka puasa hingga perlengkapan untuk beribadah.

Mesir:

Di Mesir juga terdapat tradisi Ramadhan yang disebut Maidah Rahman atau hidangan kasih-sayang. Maidah Rahman adalah hidangan makanan gratis bagi orang yang berpuasa. Tak hanya takjil, tapi juga makanan berbuka lainnya. Menunya pun bermacam-macam bahkan ada yang sekelas hotel berbintang. Program ini merata di seluruh negeri Mesir dan berlangsung selama bulan puasa.

Palestina
Meski sering didera konflik, di Palestina perayaan Ramadhan juga tak kalah meriahnya seperti di negara lain. Selain di Mesir, tradisi menyalakan lampu ketika datang bulan Ramadhan juga dimiliki oleh warga Palestina. Setap bulan Ramadhan tiba, warga Muslim Palestina akan memasang lampu Ramadhan ini di rumah masing-masing dan di sepanjang kota Palestina.

Selain itu, di negara yang satu ini tradisi membeli makanan juga sering dilakukan jelang Ramadhan. Qatayef, pancake yang menyerupai kerang berisi kacang atau keju manis yang digoreng, adalah makanan khas dan menjadi simbol datangnya Ramadhan di negara ini. Makanan ini dipadukan dengan sirup gula, dan biasanya spesial dikonsumsi di hari pertama Ramadhan saja.

Saudi Arabia
Bagi warga Saudi Arabia, pada bulan Ramadhan akan melakukan tradisi Mesaharati, yaitu tradisi membangunkan sahur yang dilakukan seorang pria selama 30 hari, dengan menabuh drum di sekitar lingkungan perumahan.

“Mesaharati di Saudi Arabia adalah tradisi turun menurun saat Ramadhan, seperti juga lentera dan meriam. Itu karena Ramadhan adalah bulan perayaan bagi umat muslim,” kata Ibraheem Hashim, salah satu warga berusia 85 tahun, seperti dikutip dari arabnews.

Menurut sejarah, Mesaharati dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Waktu itu, sahabat beliau, Bilal bin Rabah yang pertama kali melakukan Mesaharati untuk membangunkan sahur warga yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya.

Mesaharati adalah pekerjaan sukarela, tidak ada yang membayar secara khusus seseorang untuk membangungkan sahur. Tetapi biasanya, pada hari Idul Fitri, banyak orang akan memberikan bingkisan atau uang untuk orang yang membangunkan sahur sebagai ucapan terima kasih.

Bukan hanya Mesaharati, ada juga tradisi lain untuk membangunkan sahur. Dulu imam di Mekah akan memanjat bangunan yang tinggi untuk meletakkan lentera. Hal itu dilakukan agar warga rumahnya sangat jauh dapat melihat cahaya lentera sebagai penanda waktunya sahur. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Informasi!

Semua dana donasi terhimpun di Sinergi Foundation murni disalurkan untuk kepentingan sosial, dan BUKAN untuk tujuan pencucian uang, terorisme, maupun tindak kejahatan lainnya.

×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!