Ketegasan Abu Bakar Tindak Muslim yang Tak Zakat

Berita

Home » Berita » Ketegasan Abu Bakar Tindak Muslim yang Tak Zakat

Zakat merupakan ibadah harta yang juga termasuk dalam rukun Islam. Karena itu memeluk agama Islam, artinya siap dalam menegakkan tiang-tiangnya guna mengokohkan Islam sebagai pilihan hidup.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari)

Ibadah zakat, wajib dilaksanakan oleh muslim yang telah mampu apabila hartanya telah mencapai nishab dan haul (disimpan selama 1 tahun). Karena itu tidak bisa, memeluk Islam namun memilih menolak untuk melaksanakan zakat.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Zakat adalah suatu kepastian dalam syari’at Islam, sehingga tidak perlu lagi kita bersusah payah mendatangkan dalil-dalil untuk membuktikannya. Para ulama hanya berselisih pendapat dalam hal perinciannya. Adapun hukum asalnya telah disepakati bahwa zakat itu wajib, sehingga barang siapa yang mengingkarinya, ia menjadi kafir.” (Fathul Bari, 3: 262)

Maka, sepeninggal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, benarlah keputusan Abu Bakar Ash Shiddiq ketika memutuskan untuk memerangi muslim yang mau melaksanakan shalat namun enggan melaksanakan zakat.

Padahal Allah secara tegas telah menyebutkan shalat dan zakat secara beriringan dalam surah Al Baqarah ayat 110, “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”

Meski begitu, keputusan Abu Bakar saat itu menuai kontra dari sahabat lain, termasuk Umar bin Khattab. Sebab, setelah kabar Rasulullah wafat, umat Islam dihadapkan persoalan pelik lainnya. Seperti munculnya nabi-nabi palsu dan gelombang besar pemurtadan dari kabilah-kabilah yang sebelumnya menyatakan diri masuk Islam.

Kebanyakan sahabat lain menyarankan untuk mengambil hati mereka sampai keimanan di dalamnya menjadi kukuh, maka setelah itu mereka akan menunaikan zakat dengan sendirinya. Namun Abu Bakar menolak saran tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia menuturkan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu;

“Bagaimana bisa engkau memerangi orang-orang itu, padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, ‘Aku diperintahkan memerangi orang-orang sampai mereka mengucapkan syahadat La Ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Apabila orang-orang itu telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka terjaga dariku, kecuali jika mereka tidak menjaga hak Islam.”

Abu Bakar Radhiallahu’anhu menjawab, “Demi Allah, seandainya mereka enggan memberikan ‘anaq-dalam riwayat lain: ‘iqal (tali) yang dahulu mereka berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, niscaya aku akan memerangi mereka karena keengganan itu. Sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah, aku akan memerangi mereka yang memisahkan antara shalat dan zakat.”

Pada kesempatan lain, Umar Radhiallahu’anhu menyatakan, “Kekukuhan Abu Bakar itu membuatku yakin ia berpendapat demikian karena Allah Azza Wa Jalla telah meneguhkan hatinya untuk melakukan penyerangan. Kemudian akau pun sadar itulah yang benar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pada prinsipnya Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yang menjadikan kelemah-lembutan sebagai salah satu pokok-pokok dasar dan awal dalam berdakwah. Namun perlu digarisbawahi, langkah yang diambil ini bukan sebuah langkah pertama, namun sebuah tindakan akhir untuk memberikan efek jera pada pelakunya dan pelajaran bagi yang lain. Wallahua’lam bishawwab..

(Source: dbs)

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!
Powered by