Ada banyak keraguan saat seseorang ingin menunaikan wakaf bagi orang yang meninggal. Karena meskipun amalannya mulia, ada rasa tidak etis jika harus mewakafkan sepenuhnya. Oleh karena itu, artikel ini mencoba membahas hukum wakaf harta warisan.

Hukum Wakaf Harta Warisan

Berwasiat kepada ahli waris untuk melaksanakan wakaf, besarannya 1/3 dari harta. Hal ini disandarkan pada sebuah riwayat yang disampaikan oleh Sa’d bin Abi Waqash.

Terkait hukum wakaf harta warisan ini berdasarkan pada sabda Nabi. Suatu saat Sa’d bin Abi Waqash meminta izin kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasalam untuk mewasiatkan dua pertiga hartanya, Beliau berkata, “Tidak boleh.” Lalu Sa’d berkata lagi, “Kalau begitu sepertiganya.”

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasalam bersabda, “Sepertiganya. Sepertiga itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain.”

Pun dalam UU RI No 41 tahun 2004 tentang wakaf disebutkan, harta benda wakaf yang diwakafkan dengan wasiat paling banyak 1/3 (satu pertiga) dari jumlah harta warisan setelah dikurangi dengan utang pewasiat, kecuali dengan persetujuan seluruh ahli waris.

Mengamalkan Wasiat

Wakaf dengan wasiat dilaksanakan setelah pewasiat meninggal dunia. Penerima wasiat bertindak sebagai kuasa wakif dan harus mengamalkan wakaf sesuai wasiat yang ditinggalkan. Apabila ia mangkir maka pengadilan berhak memerintahkan penerima wasiat untuk melaksanakan wakaf sesuai wasiat.

Karena itu, bersegera dalam kebaikan sangatlah dianjurkan dalam Islam. Sebab bisa jadi, kesempatan berbuat baik akan terlewatkan jika tidak bersegera. Yang tersisa kelak, hanya penyesalan karena melewatkan kesempatan.

Perlu dipahami, bahwa wakaf adalah amalan sunnah yang dikerjakan selagi nyawa dikandung badan. Dan ibadah wakaf disebut sah, apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan rukunnya. Jadi tidak dibenarkan jika berwasiat mewakafkan seluruh harta setelah meninggal dunia.

“’Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu sedekah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga bila nyawa sudah sampai di tenggorokan (sekarat) maka kamu baru berkata: untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).’” (HR Bukhari dan Muslim)

Sahabat, yuk terus benahi diri dengan memperbanyak amal shaleh. Kita bahkan bisa memulainya dari hal-hal kecil. Misalnya, menjaga lisan, menolong orang yang menyeberang, hingga menyisihkan sebagian harta kita untuk berwakaf. KLIK LINK DI SINI

Source: dbs

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!