zakat, kewajiban, jumhur ulama, rukun Islam, zakat, tunaikan zakat, kewajiban, Allah SWT, rezeki, zakat, fakir miskin, harta mustahik, muzakki,, zakat, tumbuh, berkembang, An Numuw, rezeki, berkah, zakat, zakat penghasilan, zakat mal, haul, nishab, zakat, 8 asnaf, mustahik, zakat, umar bin khattab, umat, sejahtera

Di Zaman Umar bin Khattab, Umat Sejahtera dengan Zakat

Umar memberikan tunjangan kepada masyarakat karena banyaknya pendapatan negara.  Orang-orang Mekah yang bukan termasuk kaum muhajirin mendapat tunjangan 800 dirham, warga Madinah 25 dinar, kaum muslimin yang tinggal di Yaman, Syria dan Irak memperoleh tunjangan sebesar 200 hingga 300 dirham, serta anak-anak yang baru lahir dan yang tidak diakui masing-masing memperoleh 100 dirham.

Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Khattab semakin ‘nelangsa’. Dengan baju tambal sulamnya, ia datangi satu per satu warga untuk melihat kondisi ekonomi. Pernah, umar sendiri menangis dan mengangkut gandum untuk keluarga yang kelaparan.

Berkali-kali, Umar menagis tersedu-sedu dan menyesali jika ia tak bisa berkhidmat untuk umat. Karenanya, untuk mensejahterakan masyarakat, Umar mereformasi birokrasi dan juga pembaharuan di bidang zakat.

Umar menetapkan zakat untuk kuda yang tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah. Umar berpendapat bahwa kuda pada zamannya sudah diperjualbelikan, berbeda dengan zaman Nabi yang digunakan hanya untuk berjihad fisabilillah.

Umar pun menetapkan kharraj (sewa tanah), zakat di luar kebutuhan pokok, tanaman dan juga barang dagangan seperti madu, dll. Semua dilakukan semata-mata karena perintah Allah agar harta tidak berputar di satu kalangan saja.

Selama Umar memimpin pemerintahan, ia sangat memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Ia selalu mendengarkan keluhan dan protes rakyatnya, jalan ke pasar, keliling mengontrol rakyatnya di jalan, bahkan sering dengan menyamar sebagai rakyat biasa, sebab sulit membedakan antara penampilan dirinya dengan rakyat biasa jika tidak pernah mengenalnya.

Seperti halnya di era Rasulullah dan Abu Bakar, hasil zakat dikumpulkan di Baitul Mal. Imam Al-Mawardi menyebutkan bahwa baitul mâl adalah semacam pos yang dikhususkan untuk semua pemasukan dan pengeluaran harta yang menjadi hak kaum muslimin. Tiap hak yang wajib dikeluarkan untuk kepentingan kaum muslimin maka hak tersebut berlaku untuk baitul mâl, maka harta tersebut telah menjadi bagian dari pengeluaran baitul mâl, baik dikeluarkan dari kasnya maupun tidak.

Baitul Mal di era Umar bin Khattab mengalami kemajuan pesat karena perapihan administrasi. Kewajiban baitul mâl adalah untuk mengamankan harta benda yang tersimpan di kas, dan untuk mengurus penerimaan kekayaan perbendaharaan yang meliputi.

Mengurus nilai yang diterima, umpamanya dengan cara kompensasi untuk membayar para serdadu atau harga senjata dan kuda. Mengurus kepentingan umum.

Di zaman pemerintahan Umar bin Khattab, fungsi baitul mâl lebih dikembangkan dan diefektifkan lagi, dengan mendirikan lembaga khusus untuk pengurusan dan pengelolaannya karena pada era Umar, wilayah kaum muslimin sangat luas hingga mencapai Persia, Afrika hingga sebagian wilayah Syam.

Harta benda hasil zakat pertama kali disimpan di ibukota Madinah. Dan untuk menangani lembaga tersebut, Umar menunjuk Abdullah bin Arqam sebagai bendahara negara dengan Abdurrahman bin Ubaid al-Qari dan Muayqab sebagai wakilnya.

Kebijakan yang diterapkan oleh Umar dalam lembaga baitul mâl di antaranya adalah dengan mengklasifikasikan sumber pendapatan negara menjadi empat, yaitu:

Pertama, pendapatan zakat dan `ushr. Pendapatan ini didistribusikan di tingkat lokal dan jika terdapat surplus, sisa pendapatan tersebut disimpan di baitul mâl pusat dan dibagikan kepada delapan ashnâf, seperti yang telah ditentukan dalam al-Qur`an.

Kedua, pendapatan khums dan sedekah. Pendapatan ini didistribusikan kepada fakir miskin atau untuk membiayai kesejahteraan mereka tanpa membedakan apakah ia seorang muslim atau bukan.

Ketiga, pendapatan kharâjfaijizyah`ushr, dan sewa tanah. Pendapatan ini digunakan untuk membayar dana pensiun dan dana bantuan serta untuk menutupi biaya operasional administrasi, kebutuhan militer, dan sebagainya.

Pendapatan lain-lain. Pendapatan ini digunakan untuk membayar para pekerja, pemeliharaan anak-anak terlantar, dan dana sosial lainnya.

Klasifikasi sumber pendapatan negara di atas sangat penting untuk diterapkan dalam pemerintahan Islam. Salah satu tujuannya adalah agar suatu sumber pendapatan tidak tercampur dengan sumber pendapatan yang lain. Seperti zakat dan pajak. Redistribusi pendapatan hasil zakat, sudah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu kepada 8 golongan (ashnâf) yang berhak menerima zakat.

Dan jika terdapat sisa dari hasil pengumpulan zakat, maka khalifah dapat mengambil kebijakan untuk disesuaikan dengan kebutuhan sosial. Selanjutanya dalam mendistribusikan harta baitul mâl, Umar mendirikan beberapa departemen yang dianggap perlu, seperti departemen pelayanan militer. Departemen ini berfungsi untuk mendistribusikan dana bantuan kepada orang-orang yang terlibat dalam peperangan. Besarnya jumlah dana bantuan ditentukan oleh jumlah tanggungan keluarga setiap penerima dana.

Tak ketinggalan ada departemen jaminan sosial. Departemen ini berfungsi untuk mendistribusikan dana bantuan kepada seluruh fakir miskin dan orang-orang yang menderita.

Umar memberikan tunjangan kepada masyarakat karena banyaknya pendapatan negara.  Orang-orang Mekah yang bukan termasuk kaum muhajirin mendapat tunjangan 800 dirham, warga Madinah 25 dinar, kaum muslimin yang tinggal di Yaman, Syria dan Irak memperoleh tunjangan sebesar 200 hingga 300 dirham, serta anak-anak yang baru lahir dan yang tidak diakui masing-masing memperoleh 100 dirham.

Selanjutnya, negara Islam menjamin kebutuhan semua orang yang sakit, lanjut usia, kekurangan atau cacat, dan tidak mampu mengerjakan pekerjaan. Umar memberi bantuan dari Baitul Mal kepada semua orang yang telah disebutkan tadi. Umar pun memberikan santunan kepada Muazzin, Imam dan guru-guru departemen pendidikan.

Umar menyediakan makan kepada orang miskin dua kali, kemudian menetapkan bantuan makan kepada mereka dua kali, kemudian menetapkan bantuan makan bagi setiap orang.

Diriwayatkan oleh Abu Ubaid bahwa suatu saat Umar pernah memegang timbangan berat, di satu tangan dan pengukur di tangan yang lainnya seraya mengatakan bahwa ia telah menetapkan gaji setiap orang Islam dua timbang berat gandum, dua takar minyak zaitun dan tua takar cuka sebulan. Kemudian seseorang berdiri dan bertanya apabila takaran yang sama tadi diberikan kepada seorang budak. Umar menjawab,” ya, untuk budak adalah sama.”

Kemudian Umar pun berdiri di mimbar dan memberi penjelasan kepada mereka. Setelah memuji Allah dan shalawat kepada Rasulullah ia berkata sambil memegang timbangan berat dan takaran di tangannya, bahwa ia telah menetapkan bantuan dan sumbangan bulanan kepada mereka.

Tunjangan pun diberikan 5000 dirham bagi yang ikut perang badar, orang yang hijrah ke Abyssinia atau yang telah ikut berperang di Uhud diberikan 4000 dirha per tahun. Anak-anak dari orang yang ikut perang Badar mendapat 1000 dirham.

Kerabat nabi Hassan dan Hussein memperoleh 5000 dirham, orang yang hijrah sebelum penaklukkan Mekkah diberikan 3000 dirham. Memeluk Islam saat penaklukan mendapat 2000 dirham, anak-anak muda muhajirin dan anshar sebesar 2000 dirham.

Di samping itu, kaum muslimin memperoleh tunjangan pensiun berupa gandum, minyak, madu, dan cuka dalam jumlah yang tetap. Kualitas dan jenis barang berbeda-beda di setiap wilayah. Peran negara yang turut bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pakaian bagi setiap warga negaranya ini merupakan hal yang pertama kali terjadi dalam sejarah dunia.

Abu Ubaid pernah menuturkan sebuah riwayat tentang kesuksesan Umar dalam kitabnya al-Amwâl sebagai berikut. Pada masa Umar, Muadz bin Jabal pernah mengirimkan hasil zakat yang dipungutnya di Yaman kepada Umar di Madinah, karena Muadz tidak menjumpai orang yang berhak menerima zakat di Yaman.

Namun Umar mengembalikannya. Ketika Muadz mengirimkan kembali sepertiga hasil zakat tersebut, Umar juga kembali menolaknya dan berkata, “Aku tidak mengutusmu sebagai kolektor upeti, tetapi aku mengutusmu untuk memungut zakat dari orang-orang kaya di sana dan membagikannya kepada kaum miskin dari kalangan mereka juga.”

Muadz menjawab, “Seandainya aku menjumpai orang miskin di sana, tentu aku tidak akan mengirimkan apa pun kepadamu.” Pada tahun kedua setelah itu, Muadz mengirimkan separuh hasil zakat yang dipunugutnya di Yaman kepada Umar, tetapi Umar mengembalikannya. Dan pada tahun ketiga, Muadz berkata,“Aku tidak menjumpai seorang pun yang berhak menerima bagian zakat yang aku pungut.”

Riwayat di atas menunjukkan kesuksesan Umar dalam memerintah, khususnya dalam bidang ekonomi.Umar selalu berpesan, “Jika saya berikan peluang sekali lagi untuk membuat keputusan yang telah saya buat sebelumnya, saya akan mengambil kelebihan harta orang kaya dan membagikan kepada orang-orang miskin yang memerlukan.” []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by