Tak Berkategori

Mahasiswa BPB V Sabet Juara Pertama dalam Ajang National Paper Competition 2016.

SF-UPDATE,– Mahasiswa penerima Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB) angkatan 5, Raih Rona Althof berhasil menyabet juara pertama dalam perlombaan Hi-Great National Paper Competition 2016, Ahad (22/05/2016). Bersama dua teman lainnya, Rona menjadi perwakilan Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika STEI-ITB. Kemenangan tersebut menghantarkan mereka mendapatkan trophy dan uang pembinaan senilai 4 juta rupiah.

Perlombaan ini sendiri dihelat Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian (HIMATITAN) Universitas Brawijaya Malang. Hi-Great National Paper Competition 2016 merupakan kompetisi membuat paper antar mahasiswa se-indonesia. Paper Competition ini berorientasi pada Inovasi Kreatif Tepat Guna Berbasis Pengolahan Agroindustri menuju Indonesia Emas 2045.

Dari tema Paper Competition ini dibagi menjadi 3 (tiga) sub temanya yaitu Inovasi Teknologi Pengolahan Bahan Baku Agroindustri guna Meningkatkan Daya Saing Produk. Penerapan Energi Terbarukan Ramah Lingkungan guna Meningkatkan Mutu Produk Agroindustri, dan Inovasi Sistem Agroindustri guna Meningkatkan Kualitas Produk Pangan. Acara tersebut dimulai dari pengiriman abstrak, pengiriman paper, dan babak final. []

 

penulis : Nurull

didieto24 Mei 2016

Tak Berkategori

Komunitas Ibu Cerdas Indonesia Gelar Talkshow Jelang Ramadhan 1437 H

SF-UPDATE,– Komunitas Ibu Cerdas Indonesia bekerjasama dengan Sinergi Foundation dengan bangga mempersembahkan Talkshow Jelang Ramadhan Bangkit dan Raihlah Hidayah di Balroom Hotel Jayakarta Dago-Bandung, Jumat (27/05/2016).

Acara ini menghadirkan Ibu Netty P. Heryawan selaku Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Publik Figur cum model Ratih Sanggarwati, Selebritas Reny Djayusman. Selain itu, demi kelancaran dan semaraknya talkshow, kegiatan ini juga akan dipandu oleh motivator Indah Soekotjo. 

Selain Sinergi Foundation, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari Ina Cookies. 

didieto24 Mei 2016

Berita

Gandeng SF, Ramadhan Nanti Majelis Inspirasi Gagas Berbagi Ceria Bersama 400 Anak Dhuafa

SF-UPDATE,– Majelis Inspirasi #NgajiNgajakNgajak bekerja sama dengan Sinergi Foundation akan menghelat kegiatan berbagi bersama 400 anak yatim bertajuk Ceria Ramadhan Untuk Semua. Kegiatan akan dilaksanakan selama dua hari di dua tempat berbeda. Yaitu, di Trans Studio Mall, Ahad (19/06/2016) dan Sabtu (25/06/2016) di Festival Citylink Bandung. Adapun rangkaian acaranya akan diisi dengan Nonton bareng Film Ketika Mas Gagah Pergi, Berbelanja di Supermarket, pembagian…

Baca selengkapnya

didieto24 Mei 2016

Berita

Ratusan Donatur Tinjau Perkembangan FMP Lewat Helatan Tea Walk

ratusan-donatur-tinjau-perkembangan-fmp-lewat-helatan-tea-walk

SF-UPDATES,– Guna menjalin hubungan erat dengan donatur, Sinergi Foundation (SF) mengadakan silaturahim melalui acara Tea Walk Akbar bertajuk “Dan Wafat pun Membawa Manfaat”, Sabtu (21/05/2016). Acara yang diadakan di kawasan terpadu Firdaus Memorial Park (FMP) ini dihadiri sekira 109 orang donatur. Pada kesempatan tersebut, donatur diajak berkeliling menyusuri lahan wakaf, mulai dari pemakaman, lokasi pembangunan…

Baca selengkapnya

didieto23 Mei 2016

Berita

Wakaf Produktif Firdaus Memorial Park Hasilkan Seratus Telur Bebek Sehari

sedekah produktif, kambing, domba, sapi, peternakan, ternak, sinergi foundation

SF-Update,– Taman wakaf pemakaman muslim Firdaus Memorial Park (FMP) yang digagas Sinergi Foundation rupanya tak hanya menjadi tempat pemakaman yang asri dan sesuai syariah, tetapi juga menghasilkan pelbagai macam komoditas sehari-hari berbasis Wakaf Produktif. Pengurus FMP, Aan Setiawan mengatakan bahwa selain untuk pemakaman, area FMP digunakan sebagai tempat wisata keluarga dan juga lahan pertanian dan…

Baca selengkapnya

didieto23 Mei 2016

Tak Berkategori

Warga Aleppo : Terima Kasih Sinergi Foundation, Terima Kasih Indonesia

“Bum..Bum..” dentuman bom yang dijatuhkan rezim pemerintah Suriah masih menggelegar selepas shalat Jumat di salah satu sudut Aleppo, Suriah. Sambil berjalan keluar dari masjid, tim Road4Peace Syria sedikit berbincang dengan penduduk setempat. “Saya dari Indonesia,” kata saya kepada penduduk yang mengerubungi kami. “Alhamdulillah. Indonesia adalah saudara kami,” kata salah seorang penduduk asli Aleppo.

Senyum lain mengalir hangat dari para jama’ah Masjid. “Indonesia?” tanya yang lain sambil tersenyum. “Kalian banyak membantu kami,” tambahnya lagi. “Kita adalah saudara,” ungkap yang lainnya. Begitu senangnya mereka, ketika tahu bahwa di hadapan mereka kini ada saudaranya yang datang dari negeri nun jauh di sana.

Kesenangan itu nampak ketika amanah itu tertunaikan. Usai Shalat Jum’at, langit masih begitu biru cerah. Pesawat rezim itu masih berputar-putar di atas, siap memangsa anak-anak, wanita, pelajar, hingga wartawan. Para pejuang Suriah hanya dapat menghalaunya dengan senjata seadanya. Dalam suasana penuh ketegangan itu, amanah dari masyarakat Indonesia, berupa bantuan musim dingin harus tertunaikan.

Melajulah mobil kami, tim Road4Peace menyusuri lorong-lorong kota. Melewati beceknya pasar-pasar yang berdenyut seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa Tapi onggokan bangunan itu berkata lain. Urat-urat besi yang berserakan mengisahkan bahwa dulu, ada roket-roket dan bom Birmil rezim yang jatuh di sini.

“Di sini, warga sudah terbiasa dengan dentuman bom,” kata Abu Nizham, mahasiswa Malaysia asal Suriah, juga aktivis Lembaga Kemanusiaan Salim Sadeed, sambil turun dalam mobil menuju sebuah pabrik pakaian musim dingin. Dalam ruangan itu, baju-baju tebal bertumpuk. Sarung tangan berjejer. Jaket-jaket tebal semuanya berderet rapi.

“Semuanya dibagikan gratis bagi masyrakat Aleppo yang tak mampu, juga yang merasa membutuhkan,” kata Abu Nizham. Di luar sana, anak-anak Aleppo hanya menggunakan sweater tipis, tanpa sarung tangan juga pakaian seadanya. Sedangkan di sini, timRoad4Peace menggunakan baju berlapis tebal, jaket tebal, hingga sarung tangan. Sungguh, begitu beratnya ujian mereka.

“Saya mewakili masyarakat Indonesia memberikan bantuan untuk pabrik ini agar terus membantu warga Aleppo dalam musim dingin. Terima kasih untuk Sinergi Foundation, Forum Indonesia Peduli Syam, juga masyarakat Indonesia yang membantu masyarakat Suriah,” kata saya mewakili tim Road4Peace kepada salah satu pengurus Yayasan Salim Sadeed yang mengurus kemanusiaan di Suriah.

“Terima kasih Sinergi Foundation,, Terima kasih Indonesia..” ungkapnya. Ucapan syukur terlafal darinya, bahwa mungkin dengan ikhtiar ini, tak ada lagi anak-anak yang mati membeku. Dalam dingin yang menusuk, kami melanjutkan perjalanan menuju masyarakat kurang mampu di Aleppo.

Yayasan Salim Sadeed pun membagikan kupon bagi warga Aleppo yang kekurangan dan membutuhkan makanan. Dalam lorong-lorong kota itu, bom kembali menggelegar entah di mana. Kami berjumpa dengan Abdullah, seorang tua yang lusuh dengan rumah sempit hanya satu ruangan.

Peralatan masak, kompor, karpet kecil, dan melompongnya ruangan menemani Abdullah dalam kesehariannya. Ruangan mungil dan gelap dalam gang-gang Aleppo mengisahkan kesendirian Abdullah. Matanya berkaca-kaca ketika kami memberikan sekantung makanan untuk satu bulan.

“Terima kasih Indonesia..” katanya sambil menahan tangis. Saya yang mewakili hanya dapat tertunduk senyum, begitu kurang bersyukurnya kami ya Rabb. Kami meninggalkan Abdullah dalam lorong gelap itu. Berjumpa dengan Abdullah-Abdullah lainnya, total ada 300 kantung makanan yang kami bagikan untuk 300 keluarga.

Usai membagikan makanan, mentari berjalan menuju peraduannya. Senja meninggalkan kami berganti pekatnya Malam di kota Aleppo. Tak ada listrik yang menyala-nyala di malam hari. Apalagi sekadar untuk menikmati tayangan malam di TV seperti laiknya di sini. Aleppo saat itu benar-benar gelap.

Gelapnya Aleppo menemani kami menunaikan amanah masyarakat Indonesia menuju Rumah Sakit Umar bin Abdul Aziz, salah satu rumah sakit Trauma Terapi terbesar di Aleppo. Dalam gelap, kami menyusuri anak tangga Rumah Sakit empat lantai ditemani lampu senter dengan secercah cahaya.

“Di sini memang gelap,” kata dr. Abdu Abdillah, kepala RS Abdul Aziz. Semenjak bom-bom rezim Assad membombardir warga, suasana gelap menyapa masyarakat Aleppo, termasuk di rumah sakit. Dalam gelap, kami berbincang, dan beberapa saat kemudian ruangan dr. Abdul Aziz menyala dengan bantuan genset.

“Bum..” ledakan bom di luar sana. “Kalian dengar? Di sini, rumah sakit menjadi salah satu target ledakan,” kata dr. Abu Abdillah. Kami berpikir heran, mengapa rumah sakit bisa menjadi target? “Sepuluh terakhir saja, sudah lebih dari seribu orang terluka dan dirawat hanya di rumah sakit ini saja,” kata dr. Abu Abdillah.

Di kota Aleppo sebenarnya terdapat 14 Rumah Sakit, namun yang beroperasi hanya tinggal tiga sampai empat rumah sakit, salah satunya adalah RS Umar bin Abdul Aziz. “Di sini juga sekaligus trauma center,” tambahnya.

Dr. Abu Abdillah mengisahkan bahwa sudah puluhan orang meninggal dalam 10 hari terakhir. “Ada tiga ratus mortir meledak melukai warga. Dua ratus anak kecil menjadi korban,” kata dr. Abu Abdillah sambil memperlihatkan foto anak –anak korban ledakan bom tentara pemerintah Bashar Al Assad.

Alhamdulillah, dokter di sini ada 50 orang terus beraktivitas. Kami sampai kewalahan, karena seharusnya pasien sehari bisa dioperasi ada sepuluh sampai lima belas, tapi ruangan hanya ada tiga. Sampai-sampai mereka dirawat di lantai dan lorong-lorong rumah sakit,” kata dr. Abu Abdillah.

“Tapi Alhamdulillah. Allah pertemukan kita di sini. Kami tidak sendiri. Kalian datang jauh-jauh ke sini sangat membantu kami. Kalian saudara kami,” ungkapnya saling tersenyum. Usai berbincang dalam RS yang gelap itu, kami, tim Road4Peace memberikan bantuan obat-obatan, alat-alat medis kepada dr. Abu Abdillah.

“Terima kasih Indonesia,” katanya. Malam itu, nama Indonesia kembali terlafal dari bibir para pejuang medis. Di sana, para dokter bekerja dua puluh empat jam. Relawan-relawan medis berdatangan, hanya ingin berjihad dengan tenaganya. Ucapan terima kasih yang tulus dari mereka, saudara kita. Bahwa perjuangan mereka menginspirasi saudaranya nun jauh di sana, Indonesia.

Bumi Syam, ketika malam itu kaca-kaca bergetar hebat. Kini, Indonesia menjadi sebuah negara dalam kenangan penduduk Syam yang Allah berkahi. “Terima kasih Indonesia,” ucapan itu pun terlafal dari bibir Abu Nizham, saat kami berpelukan meninggalkan bumi Syam esoknya. Ada kerinduan mendalam, ingin kembali rasanya menjejakkan kaki di sana, di tanah yang Allah berkahi. Sungguh, pada hakikatnya, kitalah yang berterima kasih atas keberkahan tanah dan penduduk Syam.

“Beradalah kalian di Syam. Sesungguhnya ia merupakan negeri pilihan Allah, dihuni oleh makhluk pilihanNya.” (HR Tirmidzi). Insya Allah, ucapan terima kasih penduduk Syam akan kami sampaikan kepada pembaca di Indonesia.

 

(Rizki Lesus/Relawan Sinergi Foundation dalam Misi Kemanusiaan Road4Peace Istanbul to Syria 20-31 Desember 2013)

didieto20 Mei 2016

Tak Berkategori

Re-Launch “Cek Tagihan”, Aplikasi Online Payment Ramah Sedekah

SF-UPDATE –, Bayar Tagihan Online (+ Sedekah) tanpa potongan biaya?

Inovasi di ranah teknologi daring (online) hadir seiring kebutuhan manusia melakukan beragam aktivitas dengan cepat dan mudah. Termasuk dalam hal berbagi kepedulian terhadap sesama, sedekah. Kamis 12 Mei 2016, relaunch aplikasi ramah sedekah "Cek Tagihan" digelar di RM Ampera berbasis Wakaf Produktif pertama di bilangan Pasteur, Bandung.

Dalam sambutannya, Direktur PT. Indotama (pemilik Aplikasi) Yosep Syarief mengatakan bahwa aplikasi Online Payment 'Cektagihan' ini membantu kita melakukan pembayaran berbagai tagihan rutin bulanan. Termasuk diantaranya pembelian pulsa, paket data internet, tiket kereta api, pesawat, dan lainnya.

"Yang tak kalah menarik, dari setiap transaksi online yang dilakukan, sudah termasuk bersedekah, tanpa potongan transaksi," kata Yosep.

Sedekah yang terkumpul setiap bulannya, kata Yosep, akan disalurkan via Sinergi Foundation, untuk keberlangsungan program-program pemberdayaan kalangan lemah di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Yosep menambahkan, selain benefit kemudahan Online Payment, aplikasi cek tagihan pun turut berkomitmen membangun kepedulian sosial masyarakat.

"Hal ini kami buktikan dengan membuat menu ZIS, yang juga memudahkan konsumen yang beragama Islam untuk menunaikan Zakat, Infak-Sedekahnya via menu ZIS Sinergi Foundation," ungkapnya.

Bagi para pengguna platform android, Aplikasi 'cektagihan' sendiri bisa diunduh di googleplay. Selamat berOnline Payment (+ sedekah) tanpa potongan biaya.

(emha/ SFNewsRoom)

didieto12 Mei 2016

Tak Berkategori

Gelar Pelatihan Internet Marketing, 15 Peserta Dinyatakan Lulus

SF-UPDATES,– Pelatihan Internet yang diadakan Sinergi Foundation telah menginjak waktu satu bulan. Sebanyak 15 orang peserta program dinyatakan lulus training pada Senin (9/05/2016).

Salah seorang peserta, Awaludin Putra menyatakan dirinya banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan dari pelatihan ini. Pria asal Ciparay ini mengaku sebelumnya tak pernah mengenal komputer sama sekali.

"Dari pelatihan ini, saya mulai belajar. Alhamdulillah, rupanya tak terlalu sulit," katanya.

Selama satu bulan, peserta dibekali dengan materi optimasi Google Search, juga media-media seperti Facebook, Twitter, dan Youtube, yang dianggap bisa melatih keahlian online peserta di dunia kerja. Kedepannya, 15 orang peserta ini mendapat kesempatan magang selama 2 bulan di Sinergi Foundation.

Direktur Program SF, Arie Suryani pun mengapresiasi upaya para peserta menjalani pelatihan Internet Marketing. Ia berharap, selepas magang, mereka dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat untuk diabdikan pada masyarakat.

"Jangan berhenti sampai selesainya program ini. Ilmu-ilmunya harus menjadi manfaat juga bagi diri sendiri, keluarga, dan terutama masyarakat," tutur Arie.

Pun, demi kontinuitas kegiatan dan silaturahmi, para peserta berinisiatif membuat Komunitas Internet Marketing SF angkatan pertama. Dede Surajab, terpilih menjadi ketua yang akan mengondisikan kegiatan-kegiatan komunitas ini berikutnya. 

 

Reporter : Aghniya Ilma Hasan

didieto9 Mei 2016

Tak Berkategori

Di Atas Sajadah di Hamparan Langit Aleppo

SF-Update — Ketika Lantunan Al Quran dan Ledakan Bom Saling Bersahutan di Langit Biru Aleppo. Ketika bulir-bulir bening itu menetes membasahi sajadah di sudut bumi para nabi. Inilah laporan pandangan mata junalis tabloid Alhikmah M. Rizki Utama yang juga relawan Sinergi Foundation di Aleppo, Suriah, Desember 2013. Kini, 2016, hampir 3 tahun berlalu, kondisi kian memprihatinkan. 

Tak ada hari yang begitu cerah di Kota Aleppo, kecuali hari Jumat (27/12/2013) ketika langit biru menghampar luas sejauh mata beredar. Masih dalam musim dingin yang mencubit kulit, jalanan Aleppo begitu lengang, melompong. “Hari ini adalah hari libur,” kata Abu Ridho, seorang relawan asal Suriah yang mengantarkan kami. Jumat, adalah hari libur di Kota Aleppo, dan Jumat ini terasa istimewa, karena langit begitu cerah.

“Jangan keluar dulu, langit sangat cerah,” katanya sembari membuka sedikit gorden di luar. “..Bum..Bum..” bom-bom itu masih saja menggelegar, sejak  kaki ini menjejak Bumi Syam. Kali pertama di sebuah sekolah di Kota Aleppo, kami sudah disambut oleh Bom Tentara Assad. Aleppo, ialah sebuah kota indah nan jauh di sana, di masa silam, ketika Mesjid Umawi itu pun berdiri tegap di sana. Aleppo, ialah sebuah kota impian, ketika taman-taman dan air-air mancur itu bertebaran di sudut-sudut kota. Aleppo, kota pemerintahan Umayyah masa silam, yang menyimpan berjuta kenangan.

Aleppo, ialah sebuah kota impian di masa silam, kota besar setelah Damaskus di Bumi Para Nabi, Syam. Tapi kini, cahaya malam, keindahan kota tak ada lagi di sana. Gelap pekat menemani perjalanan mata, ketika sniper-sniper rezim Assad itu siap menarik pelatuk dari kejauhan, di atas lampu kuning di atas menara di sudutnya. Kota yang bercahaya itu, kian gelap gulita. Tak ada lagi gemerlap kota, pun hanya untuk secuil sinyal, tak dapat kami dapati.

Taman-taman itu, kini berserak bercampur puing-puing ledakan yang bertebaran. Aleppo, ialah puing bangunan berserakan, saksi kebengisan sebuah rezim. Aleppo ialah ketika sampah-sampah itu menumpuk di jalanan, sangat berbeda dengan membayangkan Aleppo di masa silam, ketika Umar Ibn Al Khattab menaunginya dalam damai. Aleppo, ialah sebuah kota, dengan penuh harapan, akan sebuah perdamaian, ketika adzan Jumat berkumandang menggantung di langitnya yang  membiru.

Jumat biru itu, kumandang Adzan syahdu membelah langit Aleppo, bersahutan dengan bom-bom yang menggelegar. Sesaat sebelum adzan, kami baru bisa keluar menuju Mesjid. Dalam cerah, pesawat-pesawat itu begitu tinggi, memuntahkan bom kapan saja, di mana saja. “Bum..Bum..” ledakan besar, mengawali sang Imam muda itu berkhutbah, tentang harapan perdamaian, kemenangan atas para mujahidin.  Doa itu begitu syahdu, terlafal dari sang Imam mengawali khutbah.

“Jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolongmu,” kata pemuda tersebut di atas mimbar,  tempat khusus imam pada lantai dua. Hujan bom masih bersahutan di luar sana. Sang Imam, dengan tenang melanjutkan pesan-pesannya. Semua serius menyimak. Hujan bom, mungkin sudah menjadi kebiasaan. Shalat Jum’at berjalan dengan khidmat.

Ketika sang Imam mengangkat telunjuknya, berdoa begitu fasih. Ketika makmum pun mengangkat jari telunjuknya, tak berteriak kencang Amin, namun begitu meyakini doa-doa sang Imam. “…Bumm!..” suara gelegar terus terjadi, tak membuyarkan kekhuskuan Jama’ah shalat. Meski bisa saja bom tiba-tiba menghujam di dalam Mesjid, seperti laiknya beberapa saat silam, di hadapan Makam Nabi Zakariya itu, di Mesjid Umawi, ratusan orang menjadi korban serangan udara Rezim Bashar.

Tapi kini, dalam syahdu, Jumat itu semua menghadap RabbNya. Mendoakan kemenangan atas perjuangan mereka, rakyat Suriah.  Suara merdu dan tartil imam, mengawal shalat yang begitu syahdu dalam dingin. Suhu yang mulai nol derajat, membuat badan semakin rapat. Bom di luar sana, tak mengurangi kekhusyukan Imam membaca sebuah surat Al Baqarah dengan Tartlil, hingga ayat.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu kan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” (QS Al Baqarah: 214)

Ayat yang begitu menghujam. Sungguh, itulah yang mereka katakan setiap harinya, ketika cobaan berat itu datang melanda. Ketika bom itu dijatuhkan, melukai sang bocah yang hendak berangkat ke sekolah. Dalam rintihan sakit, ia bertahan. Ketika kucing-kucing lucu itu menjadi santapan mereka, karena tak ada lagi yang hendak mereka makan.

Ketika kaki bocah-bocah itu menahan dingin, tak ada sepatu untuk pergi ke sekolah. Ketika guru-guru mereka tak lagi masuk, karena telah tiada. Ketika salju-salju itu bertumpuk di atas tenda, membuat gigi bergetar hebat, menahan dingin. “Apakah kamu mengira bahwa kamu kan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang sebelum kamu.

Lembutnya Imam membaca surat Al Baqarah. Isak tangis sedikit terdengar. Bulir-bulir bening ini berkumpul di sudut mata. “Kapankah datang pertolongan Allah?”  dengan syahdu sang Imam melanjutkan, “Ingatlah Pertologan Allah itu dekat.

Sebuah janji yang meneguhkan, bahwa masa kemenangan itu semakin dekat. Sungguh beruntung ketika ujian itu datang, dan keluar perkataan “Kapankah datang pertolongan Allah..” Ketika bulir-bulir bening itu menetes membasahi sajadah di sudut bumi para nabi.

Haru menyeruak, jamaah larut dalam syahdu suara imam yang melanjutkan bacaannya. “Harta apa saja yang kamu infakkan hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang dalam perjalanan..” (QS Al Baqarah 215)

“..Bum…Bum..” dalam syahdu, kalam ilahi itu bersahutan dengan gelegar bom di langit Aleppo. Bahwa syukur terlafal, atas kenikmatan yang diberikan atas kondisi hidup di bumi Nusantara. Dalam syahdu, imam melanjutkan kalam sucinya, menutup shalat Jumat dalam langit biru Aleppo.

“..Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagmu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu  , padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui..” ( Al Baqarah 216)

Kalam ilahi itu terus terngiang-ngiang, dalam syahdunya bacaan imam. Suara Al Quran dan ledakan itu bersahutan di langit Biru Aleppo. Aleppo, kini ada dalam rindu berabad silam, ketika kalam-kalam suci itu menggema, terlafal. Berabad silam, ketika para nabi menjejakkan kakinya di sana. Tak lama lagi, masa itu akan kembali. Insha Allah.

Tiga Tahun Berlalu 2013-2016

Laporan pandangan mata junalis tabloid Alhikmah M. Rizki Utama yang juga relawan Sinergi Foundation di Aleppo, Suriah, Desember 2013. Kini, 2016, hampir 3 tahun berlalu, kondisi kian memprihatinkan. Jet jet tempur rusia, sekutu rezim diktator Bassar Assad terus membombardir Aleppo dan wilayah di sekitarnya. Korban sipil terus berjatuhan. Tak peduli siapa. Tua, muda, lelaki, wanita, termasuk bocah-bocah mungil tak berdosa menjadi sasaran kebiadaban menusia-manusia durjana.

“Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari Kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)

Kita tak mengenal warga sipil: tua renta, wanita dan bocah-bocah mungil, korban kebiadaban rezim di Suriah. Tapi Allah mempertautkan kita dalam ikatan iman, al Islam.

Jangan tunggu sampai kita merasa leluasa untuk berbagi. Buktikan empatimu pada sesama yang tengah teraniaya di bumiSyam, negeri para Nabi.

(MR/SF NewsRoom/ Pic: The Atlanctic)

didieto6 Mei 2016

Tak Berkategori

Sinergi Foundation Buka Donasi untuk #SaveAleppo

SF-UPDATE,–  Perang, bencana kemanusiaan. Jutaan warga sipil Suriah (termasuk perempuan dan anak-anak) menjadi korban kebiadaban rezim. Mereka tewas, terluka, bahkan mengungsi ke negeri-negeri tetangga, hingga melintas Eropa. Akankah kita berpangku tangan, menyaksikan sesama berguguran, meregang nyawa?

Untuk membantu para korban di sana Sinergi Foundation membuka rekening bagi siapa pun yang ingin berdonasi. Info selanjutnya ; 

 

Transfer Donasi

BCA 008 305 3485

a.n Sinergi Foundation / Yayasan Sinergi Umat

call center: 0851 0004 2009

sms/whatsapp : 081321 200100

 

#berbagiBersinergi #Save Aleppo

didieto4 Mei 2016

1 302 303 304 305 306 318
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!