Zakat Era Utsman bin Affan: Rintis Kebijakan Zakat Uang

SF-UPDATES,– Ketika Utsman dibaiat sebagai Khalifah, wilayah kaum muslimin sudah semakin luas. Utsman melanjutkan kewajiban jihad hingga dapat membeaskan wilayah Armenia, Tunisia, Rhodes, Cyprus dan beberapa wilayah bagian dari Persia. Beberapa pemberontakkan di wilayah Iskandariah berhasil ditumpas.

Dengan mata berkaca-kaca, Utsman berkomitmen untuk terus memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan kelak hal tersebut terbukti dalam sejarah. 

“Allah telah menciptakan dan memerintahkan kepada pemimpin supaya menjadi gembala, bukan datang untuk memungut pajak. Cara yang paling adil adalah kalian harus melihat keadaan kaum Muslimin dan apa yang menjadi kewajiban mereka. Berikanlah segala hak mereka dan ambillah apa yang menjadi kewajiban mereka,” tegas Utsman sedari awal.

Utsman menyadari kepemimpinan adalah amanah. “Amanah adalah tetap amanah, maka berpegang teguhlah pada amanah itu, dan janganlah kalian menjadi orang pertama yang melanggarnya, karena apa yang kalian lakukan akan dicontoh oleh orang-orang sesudah kalian. Tepatilah janji, sekali lagi tepatilah. Janganlah merugikan anak yatim dan pihak yang sudah dalam perjanjian. Allah menjadi musuh mereka yang melakukan kezaliman. Kalian sudah bersungguh-sungguh dalam mengambil contoh dan tauladan, maka janganlah pesona dunia membuat kalian lupa dari keadaanmu ini.”

Di era Utsman, Baitul Mal sudah berkembang pesat dan memiliki kas Negara yang sangat besar. Dengan kesungguhan menunaikan amanah, Utsman menolak mengambil upahnya sebagai Khalifah.

Sebaliknya, sebagai pengusaha ia justru menyimpan uangnya untuk diberikan kepada Negara. Khalifah Ustman Ibn affan tetap mempertahankan pemberian bantuan dan santunan serta memberikan sejumlah besar uang kepada masyarakat yang berbeda-berbeda. 

Meskipun meyakini prinsip persamaan dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, ia memebrikan bantuan berbeda pada tingkat yang lebih tinggi dengan demikian pendistribusian harta baitul maal, Khalifah Ustman Ibn Affan menerapkan  prinsip keutamaan seperti halnya Umar Ibn Al-Khattab.

Ia tetap meneruskan kebijakan Umar tentang pemberian santunan dan jaminan sosial bagi kaum papa, para janda dan orang-orang utama dalam berislam yang mencurahkan harta dan jiwanya dalam jihad fisabilillah.

Dalam beberapa literature seperti buku Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, terjadi terobosan baru dalam hal zakat sebagaimana era Umar. Pada zaman Utsman, ia berijtihad harta dapat ditaksir dan dihitung dulu dalam bentuk uang dan dizakatkan 2,5 %nya dalam bentuk uang. 

Sahabat senior Zaid bin Tsabit dipilih Utsman sebagai departemen pengelola zakat di Baitul Mal. Petugas zakat di era Utsman menghitung harta para muzakki dan mengambil harta mereka untuk zakat.

Sepenggal waktu, Zaid diperintah  oleh Utsman untuk membagikan harta kepada yan berhak untuk menerimanya, namun harta yang dibagikan sisa mencapai 1000 dirha. Melihat hal tersebut,  kemudian Utsman memerintahkan kepada Zaid untuk membelanjakan hartanya untuk membangun dan memakmurkan Masjid Nabawi. 

“Di era Utsman, zakat terkumpul sangat banyak dan disalurkan di setiap daerahnya masing-masing, sistemnya kewilayahan,” kata pakar perzakatan Prof. Ahmad Satori Ismail. Menurut anggota BAZNAS ini, karena wilayah Islam sangat luas sekali, maka pengelolaan zakat mulai dikelola di daerah walau berkoordinasi dengan pengelola zakat  pemerintah pusat.

Di era Utsman inilah, ekonomi umat sangat makmur. Bahkan diceritakan Utsman sampai harus juga mengeluarkan zakat dari harta kharaz dan jizyah yang diterimanya, artinya pendapatan Negara ia zakatkan!

Karena semakin luas wilayah kaum muslimin, Baitul Mal mendapat pemasukan sangat banyak baik dari zakat maupun jizyah. Oleh karena itu, Khalifah Us’man ibn Affan membuat beberapa perubahan administrasi tingkat atas dan pergantian beberapa gubernur. Tercatat negara bisa mendapatkan pemasukan hingga 50 juta dirham dengan kebijakan Utsman. []

Reporter: mr

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Ada yang bisa Kami bantu?