Usai Konferensi Internasional Filantropi Islam, Selanjutnya Apa?

SF-UPDATES,– Para akademisi dan praktisi filantropi berkumpul dalam South East Asia International Islamic Philanthropy Conference (SEAIIPC) di Melaka Malaysia, 14-16 Februari 2017 lalu. Menurut Direktur Center for Islamic Philanthropy and Social Finance (CIPSF), DR Abdul Halim bin Mohd Noor,  setidaknya ada dua hal yang dicapai dalam kegiatan tersebut.

Pertama, memasyarakatkan kembali aktivitas filantropi di tengah masyarakat, sehingga semangat menolong sesama terus mengemuka. Kedua, menyinergikan dan melaksanakan seluruh unsur filantropi, mulai dari wakaf, infak, dan zakat, secara komprehensif. Sebab ia menegaskan, semua unsur tersebut memiliki potensi yang sama kuat.

“Memang sekarang pun sudah banyak diterapkan, namun belum dilakukan dengan optimal. Semua unsur ini harus dilakukan secara bersamaan, komprehensif, agar impactnya pada masyarakat membutuhkan pun lebih menyeluruh,” kata DR Abdul Halim.

Pun, ia menerangkan, para peserta SEAIIPC menggodok ide agar bisa menjadi percontohan filantropi di Asia Tenggara. Mereka berkaca pada Turki, yang menjadi role model sistem filantropi dunia, terutama dalam hal wakaf. Ia menyoroti sejarah, bagaimana di masa Utsmani, wakaf tunai dan properti berkembang untuk menyejahterakan sekolah, masjid, gedung kebudayaan, dan perpustakaan negara.

“Sekarang pun, setelah masa Utsmani usai, mereka bisa mengelola wakaf dengan baik. Mereka memiliki Dirjen Wakaf, yang perannya amat besar di bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial. Turki mengembangkan wakaf produktif, yang hasilnya dialokasikan untuk sosial,” terangnya.

Namun, ia tak menampik, di Asia Tenggara pun banyak praktif filantropi yang kini berkembang baik. Misalnya, di Malaysia, ada Lembaga Zakat Selangor yang terus menggiatkan dana zakat untuk kesejahteraan warganya. Atau, ada Taman Wakaf Firdaus Memorial Park di Indonesia, yang menjadi percontohan pemakaman berbasis wakaf yang diperuntukkan bagi dhuafa. Juga, ada pengelolaan wakaf WAREES yang dikelola oleh MUIS di Singapura.

“Belum benar-benar maksimal, namun semua praktik filantropinya tengah berkembang dengan baik,” pungkasnya. [agh]

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.