Ulurkan Tangan, Ringankan Beban #SavePalestine

SF-UPDATES,– Ketegangan pecah antara Israel dan Palestina menyusul penutupan total Masjid Al-Aqsa di Yerusalem timur pasca baku tembak pada 14 Juli lalu. Masjid dibuka kembali dua hari kemudian dengan cara melewati metal detektor dan CCTV canggih.

Sontak, kemarahan pun meluas hingga ke ranah internasional. Masyarakat Muslim dari seluruh dunia mengecam tindakan Israel tersebut. Tak tahan menghadapi kritikan keras, Israel pada Senin pekan ini akhirnya mencabut seluruh perangkat keamanan yang terpasang di Al-Aqsa.

Namun keputusan itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Alih-alih leluasa beribadah, Israel justru menerapkan aturan dengan batasan usia. Disebutkan bahwa pria di bawah 50 tahun dilarang untuk memasuki Masjid Al-Aqsa.

Namun beberapa jam menjelang solat Jumat (28/07) aturan itu kemudian dicabut. Umat Muslim yang berkumpul di depan pintu gerbang Al-Aqsa merayakan keputusan itu dengan berbondong-bondong memasuki Al-Aqsa.

Konflik Palestina dengan Israel sendiri sudah berlangsung kurang-lebih 50 tahun. Sebagian ketegangan itu terjadi di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Kantor berita Aljazeera mencatat konflik kedua negara mulai memanas sejak akhir 1948. Ketika itu, pasca-Perang Dunia II, PBB mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa, "Tempat suci, bangunan keagamaan, dan situs bersejarah di Palestina harus dilindungi dan terbuka untuk umum, mengingat nilai sejarah dan keberadaannya." 

Namun Israel mengingkari resolusi itu. Pada akhir 1948, tercatat 85 persen wilayah Yerusalem dikuasai oleh Israel. Pemerintah Yordania hanya mengontrol 11 persen wilayah dari Tepi Barat, meliputi kompleks tua Al-Quds (Yerusalem) dan permukiman di sekitarnya.

Pada 1967, Israel mengklaim telah menguasai seluruh wilayah Tepi Barat atau Yerusalem Timur sampai Gaza. Israel juga mengklaim kompleks Kota Tua Al-Quds, termasuk Yerusalem Timur, berada di atas wilayah hukum mereka. Klaim sepihak tersebut hingga kini tidak pernah diakui sepenuhnya dunia internasional.

Sejak saat itu, ketegangan demi ketegangan sering terjadi di Yerusalem. Hingga akhirnya pada 1994 terbit Wadi Araba Agreement untuk meredam ketegangan. Dalam perjanjian itu, seperti dikutip dari Aljazeera, Israel menyatakan menghargai hak historis Yordania yang diwakili Islamic Waqf dalam perannya untuk menjaga Al-Aqsa.

Hanya berselang dua tahun kemudian, tepatnya September 1996, lagi-lagi Israel berulah. Mereka membuat terowongan di dekat tanah Al-Aqsa. Kolong Al-Aqsa digempur dan tanah di bawahnya digali dengan berbagai dalih. Hingga akhirnya pada 2000 terjadi konflik besar-besaran antara anak-anak muda Palestina dan pasukan keamanan Israel. 

Tak kurang 3.300 jiwa anak muda Palestina wafat dalam peristiwa yang dikenal sebagai Al-Aqsa Intifada atau The Second Intifada itu.

Setelah hampir separuh abad, tanda-tanda berakhirnya penjajahan Israel atas Palestina tak kunjung muncul. Masih maukah Anda berdiam diri?

Mari bantu ringankan beban mereka!

Salurkan donasi Anda ke:

Bank Syariah Mandiri 700 546 3108
a.n Sinergi Foundation

#BerbagiBersinergi

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.