Setangkai Komitmen, Dedikasi untuk Ibu dan Generasi

SF-UPDATE,– Ada yang baru dalam 12 tahun kiprah Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC) untuk negeri ini. Tak berbicara soal fisik, lebih dalam dari itu ini berbincang soal visi. Belasan tahun menyapa dengan tagline “Mengelola dengan Profesional, Melayani dengan Maksimal”, kini RBC mulai menyosialisasikan spirit baru, “Dedikasi untuk Ibu dan Generasi.”

Menanggapi perubahan ini, dr. Dewi yang juga sebagai Satuan Pengawas Internal (SPI) ini berpendapat, perubahan tersebut lebih tepatnya bukan berubah tagline, tapi memperluas cakupan pelayanan.

“Kalau selama ini kita melayani dengan profesional, itu kan standarnya memang harus seperti itu. Namun, dedikasi di sini bukan sekadar pelayanan kesehatan, tapi juga membangun spiritual,” kata Dokter Pelaksana Harian RBC dr. Dewi Noor Ainy belum lama ini. .  

“Kita tiap bulan ada kajian dengan materi tentang parenting. Para member kita hubungi untuk datang. Kenapa kita fokus ke sana juga, karena kita melihat tingkat pendidikan member banyak yang tamatan SD yang minim ilmu kepengasuhan,” lanjutnya.

Selain itu juga ada pelatihan kewirausahaannya. Sehingga ketercakupan lingkaran aspek kehidupan; pendidikan, sosial, dan ekonomi lebih terpenuhi.

Menambahkan, Manager Fundraising RBC Taufik Hidayat menjelaskan maksud dari dedikasi di sana adalah RBC tak bekerja sekadar tataran profesi namun sudah di aspek kemanusian, kepedulian terhadap kelompok yang lemah ini.

“Dedikasi, persembahan terbaik bagi kaum dhuafa agar tecipta kesehatan yang layak. Yang harus digarisbawahi, kami tak mau hanya bergerak di persalinan, tapi juga soal edukasi perencanaan berkeluarga.

“Kalau kami membantu ribuan persalinan saja, tapi membiarkan mustahik tidak mengerti konsep berkeluarga, ya kami tak benar-benar menolong. Kami ingin mengedukasi mereka, bahwa perlu ada terciptanya generasi yang kuat, tidak lemah. Mengatur dan merencanakan keluarga ini jadi program kami ke depan,” lanjutnya.

Lantas langkah kongkret apa yang dilakukan RBC untuk mendukung ‘wajah’ barunya itu? Di antaranya Sosialisasi kader dari keterlibatan masyarakat. Ini yang menjadi rangkulan RBC saat ini.

“Pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keluarga dikuatkan. Bukan keluarga berencana, tapi merencanakan keluarga. Ini dilakukannya di Sapa Warga yang dilakukan tiap minggu. Tak hanya itu, tapi juga seminar kesehatan, atau radio. Edukasi tentang kehamilan, dan lain-lain,” ujar Opik, sapaan karibnya. 

12 tahun ini juga, RBC mengalami perkembangan yang signifikan. Saat ini RBC telah berstatus menjadi klinik pratama. Optimalisasi layanan, terkhusus masalah rujukan, sangat diperlukan sebagai langkah-langkah awal mengubah statusnya menjadi klinik utama, baru kemudian status Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) disematkan pada RBC.

“Kita masih mengupayakan agar bisa naik tingkat, sehingga niat melayani mustahik dengan kapasitas lebih besar bisa terlaksana. Dan ini juga harus didorong oleh berbagai unsur, mulai dari bidan, fasilitas, jejaring kesehatan, dan pemerintah,” kata Opik.

Memang RBC adalah institusi yang pure melayani, tidak hanya soal tataran profesional. Tapi sudah dedikasi untuk kesehatan ibu dan anak. Dari segi pelayanan, dapat dikatakan sudah all out.

Kendati cuma-cuma, pelayanan tetap profesional, tenaga medisnya juga unggul dan berpengalaman. Hal ini agar tercipta proses persalinan yang normal dan baik. Sering terjadinya kasusnya ibu melahirkan anak di bawah berat standar, karena mereka dhuafa, kekurangan gizi seperti yang dipaparkan di muka, mendorong RBC untuk memperbaikinya.

Menurut Opik, RBC ini merupakan program monumental, artinya program yang dibutuhkan oleh dhuafa, dengan kasus angka kematian ibu yang tinggi.

“Saya yakin, akan terus bertambah orang yang membutuhkan program ini. bukan hanya mustahik, tapi juga donatur. Tinggal bagaimana kita ke depan, setidaknya dalam pengelolaan dan pengembangan RBC,” lanjut Opik.

“Jadi tak hanya soal kelahiran anak saja, tapi juga melahirkan kader-kader dan tenaga RBC yang peduli dengan kesehatan ibu dan anak. Di sini butuh dokter yang tak hanya berorientasi pada uang,” lanjutnya.

Opik menyadari bahwa RBC ini belum bisa membantu keseluruhan golongan papa di Indonesia, Baru bisa beberapa di antaranya. Tapi RBC bermimpi bisa menjadi role model bagi institusi sejenis, seperti NGO atau lembaga lainnya yang concern pada kesehatan.

“Oh nanti kalo ingin mendirikan lembaga kesehatan, bisa mencontoh dan melihat track record berdirinya RBC. Selain medis, juga ada pemberdayaan, spiritual, pendidikan berkeluarga. Menciptakan generasi yang lebih baik,” kata Opik.

Kedua, imbuhnya, RBC juga menjadi miniatur studi banding bagi lembaga pendidikan kesehatan. Jadi tempat untuk mengaplikasikan ilmu.

Ketiga, pungkasnya, RBC jadi sebuah gerakan (movement) dalam kesehatan ibu dan anak, juga gaya hidup. In syaa Allah, mohon do’anya pembaca. []

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Ada yang bisa Kami bantu?