Secuil Pengabdian di Tanah Legenda

SF-UPDATE,–  Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-19 dan Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) ke-15 (XV) resmi digelar. Setelah penantian panjang selama lima puluh satu tahun akhirnya untuk kedua kalinya Jawa Barat terpilih menjadi tuan rumah. Hal tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Jabar, khususnya bagi daerah yang menjadi tempat perhelatan event tersebut.

Sebagai warga Jawa Barat tentu sepakat momen seperti ini harus dimanfaatkan. Karena selain kesempatan yang langka juga akan menjadi sejarah yang takkan terlupakan. Saya berpendapat ketika PON XIX dan Peparnas XV dilaksanakan, akan banyak tamu -bukan hanya kontingen- yang datang untuk menyaksikan perhelatan akbar ini. Sehingga sebagai tuan rumah, kita wajib memberikan kesan yang baik dan kenangan yang indah untuk mereka.

Banyak cara yang bisa dilakukan sebagai bentuk kontribusi kita dalam event tersebut. Jalan yang saya tempuh untuk berkontribusi adalah dengan menjadi panitia pendukung, karena dengan begitu saya akan terlibat dan berhadapan langsung dengan para kontingen dari berbagai daerah di Indonesia.

Proses awalnya, Panitia Besar (PB) PON yang diketuai langsung Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, melakukan open recruitment untuk menjaring sekitar seribu panitia pendukung yang akan ditempatkan dalam beberapa divisi. Seperti  divisi Liaison Officer (LO), Hubungan Daerah (Hubda), Akomodasi dan Konsumsi (Akomsi), Transportasi dan divisi lainnya.

Ada beberapa tahapan seleksi yang diterapkan oleh PB PON yakni seleksi administrasi dan juga interview. Pada waktu itu, seleksi administrasi dilakukan secara online, sementara interview dilakukan di lapangan Pussenif Kota Bandung. Saat proses interview dilakukan, antrian panjangpun tak terhindarkan karena ribuan orang melakukan interview -sudah seperti audisi ajang pencarian bakat- dalam satu tempat.

Saat itu, saya diberikan pilihan untuk memilih divisi apa yang akan saya tempati. Kemudian saya memilih divisi Akomodasi dan Konsumsi (Akomsi) karena bagi saya sukses tidaknya suatu event itu dilihat dari seberapa baiknya pelayanan akomodasi dan konsumsi karena urusan perut dan urusan bantal manusia itu lebih penting dibandingkan yang lainnya. Hehe

Setelah proses interview selesai, beberapa minggu kemudian barulah hasil seleksi diumumkan. Dari sekitar tujuh ribuan pendaftar, kurang dari seribu orang yang lolos menjadi panitia pendukung. Tentu ini menimbulkan perasaan cemas karena belum tentu saya lolos seleksi. Setelah dicek ternyata nama saya tercantum dan dinyatakan lolos. Alhamdulillah.

Selanjutnya saya harus mengikuti bimbingan teknis selama 4 hari untuk mendapatkan arahan mengenai tupoksi saya dalam melayani atlet dan official. Kebetulan, saya mendapat tugas untuk mengoperasikan aplikasi SIMPON (Sistem Informasi PON) yang memuat khusus tentang pelayanan akomodasi dan konsumsi. Setelah bimbingan selesai, akhirnya pembagian tempat kerja dirilis. Alhamdulillah saya ditempatkan di Hotel Grand Tjokro Cihampelas.

Setiap harinya saya bekerja di depan komputer untuk mengoperasikan aplikasi SIMPON. Dalam aplikasi tersebut, saya harus memantau jadwal kedatangan kontingen, menyiapkan kamar yang akan digunakan, melakukan pengaturan jadwal makan hingga memonitor kecocokan jenis makanan yang ditetapkan oleh PB PON dengan makanan yang disediakan oleh pihak hotel.

Tentu ini sebuah tugas yang cukup berat bagi saya karena memiliki tanggung jawab yang besar mengingat jika ada keterlambatan yang saya lakukan maka dampaknya adalah pelayanan terhadap kontingenpun akan terlambat sedangkan jika pelayanan terlambat maka akan menimbulkan reaksi negatif dari para kontingen. Meskipun demikian, alhamdulillah saya mendapatkan partner kerja yang sangat solid dan saling mendukung satu sama lain, sehingga dalam pelaksanaan PON dan Peparnas ini tidak mendapati kendala yang berarti

Selama hampir sebulan lebih saya menjadi panitia pendukung PON dan Peparnas ini, banyak muncul pertanyaan yang masuk pada saya mengenai bagaimana dengan kuliah saya dan tanggung jawab saya terhadap program Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB). Saya sering mendapati orang lain yang nyinyir karena menganggap saya telah melalaikan kewajiban kuliah dan kewajiban terhadap program BPB. Saya menanggapinya dengan santai dan tanpa emosi karena bagi saya, momen empat tahunan ini sangat langka dan harus menunggu puluhan tahun bahkan ratusan tahun agar Jawa Barat menjadi tuan rumah lagi. Tentu tidak salah jika saya memanfaatkan momen bersejarah tersebut dengan ikut andil di dalamnya.

Bagi saya, ini bukan tentang melalaikan kewajiban kuliah atau BPB, tetapi ini tentang menjamu tamu sebaik-baiknya dan juga menambah wawasan dan pengalaman memimpin orang lain dalam tim serta berinteraksi dengan orang-orang yang berasal dari seluruh Indonesia sehingga kita bisa saling mengetahui kekhasan daerah masing-masing.

Sahabat, setiap apa yang kita lakukan pasti akan menuai pro-kontra. Namun, yang mengetahui nilai sesungguhnya tentang apa yang kita lakukan adalah diri kita sendiri.

Hal lain yang membuat saya dan warga Jawa Barat bangga adalah diraihnya predikat juara umum baik PON XIX maupun Peparnas XV oleh tuan rumah, sehingga ini menjadi kado indah tersendiri dan sangat wajib bagi warga Jawa Barat untuk memberikan penghargaan setinggi-tinggiya kepada para atlet yang telah berjuang sekuat tenaga demi mengembalikan kejayaan di Tanah Legenda. []

Ditulis oleh Nurodin, Penerima Manfaat Beasiswa Pemimpin Bangsa Angkatan 4

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.