Rekah Senyum di Kampung Cibaeud

Badai Pasti Berlalu, mungkin kalimat itulah yang cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat di Kampung Cibaeud Desa Cigalontang Tasikmalaya kini. Pasalnya, selipatan episode silam, kampung terisolir dan terintimidasi ini selayang kerap dipandang sebelah mata.  

Tak sedikit dari masyarakat Cigalontang yang menjadi kurang percaya diri atau takut bertemu satu sama lain, apalagi dengan orang-orang di luar kampung. Ditambah, para pemuda yang tenaganya sangat diperlukan untuk perkembangan desa itu, justru memilih mengadu nasib di kota. 

Sepenggal penggambaran itulah yang dicurahkan salah seorang tokoh masyarakat di Desa Cigalontang, Ustaz Gugun saat visitasi peserta Seminar Lumbung Desa yang digagas Sinergi Foundation belum lama ini. 
“Dulu, kampung sini, kampung cibiran dan hinaan. Kami selalu diintimidasi dan diteror. Bahkan, pernah terjadi pembakaran di salah satu rumah warga dan Poskamling oleh preman-preman di luar desa kami,” ujar Ustaz Gugun di aula Masjid Al Hidayah Tasikmalaya di akhir Agustus.  

“Lalu saya berpikir, dan mengamanahkan kepada masyarakat agar jangan melawan mereka dengan kekerasan, tapi lawanlah dengan prestasi. Kita buktikan suatu saat kita bisa maju dan punya harga diri,” lanjutnya. 

Kata-kata itu tak hanya keluar tanpa ada pembuktian. Ustaz Gugun memulai dengan pendidikan dan teknologi. Ia selalu mendorong kepada masyarakat untuk tanggap Iptek, cum kepada pelajar-pelajar untuk berprestasi. Tak jarang ia harus mengeluarkan sejumlah pundi rupiah agar anak-anak yang masih sekolah terus meningkatkan prestasinya, kendati ihwal jumlah belumlah seberapa.

“Alhamdulillah, di salah satu SMK di sini, SMK Cipasung, ada yang juara umum. Pun di sekolah tingkat menengah dan dasarnya, satu dua juga menorehkan prestasi yang gemilang,” ucap Pembina Ikatan Remaja Masjid (Irema) Al Hidayah, bangga lagi bersyukur. 

Hal itu, imbuh Ustaz Gugun mengubah cara pandang warga lainnya dalam melihat Kampung Cibaeud ini. “Oh, ternyata di Kampung Cibaeud juga, kalau diistilahkan, ada mutiara-mutiara yang terpendam,” aku Ustaz Gugun sembari tersenyum kecil. 

Meski perubahan itu adalah hal yang niscaya, namun, ustaz Gugun mengaku bukan hal yang mudah mewujudkan perubahan di sana. Selain faktor eksternal yang dipaparkan di muka, rendahnya pendidikan masyarakat sedikit banyaknya menjadi tantangan tersendiri. 

Dan pertemuan dengan Sinergi Foundation memang menyimpan kesan tersendiri di hati masyarakat, khususnya pada diri Ustaz Gugun. Perkenalan yang telah digariskan dengan cara yang tak dinyana. 
Kala itu, sekitar tahun 2014 yang lalu, Desa Cigalontang terkena musibah terjangan puting beliung, ratusan rumah porak poranda. Kemudian datanglah ragam bantuan, salah satunya dari Sinergi Foundation, melalui SF-Rescue. 

“Saya masih ingat dulu ada Kang Hanafi dan Kang Ipin membuka posko darurat. Dengan merekalah saya kordinasi terkait kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan para korban musibah,” kenang Ustaz Gugun lebih lanjut. 

Waktu pun berganti melipat menjadi masa lalu. Usai momentum itu, rupanya tak mengakhiri ikatan pertemuan di antara mereka. Seperti dikisahkan CEO SF Ima Rachmalia bahwa sebelum menjadi Lumbung Desa seperti saat ini, masyarakat Desa Cigalontang, khususnya ustaz Gugun juga melalui proses yang panjang. 

“Ya, adanya Lumdes di sini juga bukan hal yang terjadi begitu saja. Semuanya melalui proses yang lumayan panjang. Kita uji coba dulu kejujurannya, keamanahannya,” kenang Ima. 

“Mulai dari satu dua kambing, kita lihat apakah Ustaz Gugun ini amanah atau tidak. Hasilnya beliau sangat bertanggungjawab dengan tugas yang kita berikan,” lanjutnya saat memberikan sambutan, sekaligus menutup kegiatan visitasi peserta seminar.

Barulah setelah evaluasi dan sebagainya, imbuh Ima, SF menawarkan program Lumdes ini, dan itupun tidak sekaligus. Ya, semuanya sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. 

Maka mulailah Ustaz Gugun diberi tanggung jawab memegang Lumdes Cigalontang. Dengan semangat gotong royong bersama masyarakat di sana, perlahan Lumdes pun tumbuh bak kembang yang mekar. Wanginya pun mulai ranum dicium banyak pihak. 

Awalnya hanya sekitar 20-30 warga yang tergabung sebagai mitra kelompok Lumbung Desa Al Hidayah. Seiring waktu berjalan, anggota kelompok bertambah signifikan mencapai 157 jiwa.

Berbagai aktivitas usaha produktif telah dilakukan, semisal: Pertanian, beserta penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan), peternakan, hingga pembangunan huler, juga lumbung, yang berfungsi penyimpanan cadangan pangan. 

Bukan soal ketahanan pangan saja,, Lumbung Desa sedikit banyak membantu ihwal kebutuhan aspek kehidupan lainnya. Sebut saja perkara kesehatan dan pendidikan. Tanpa harus membuat kartu ini, kartu itu, masyarakat Cigalontang, khususnya Kampung Cibaeud sangatlah terbantu. 

“Ya, hasil dari Lumdes ini juga membantu untuk urusan kesehatan dan pendidikan. Kalau ada yang ingin berobat, kita usahakan bantu biaya pengobatan atau tebus resepnya,” kata Ustaz Gugun. 

“Pun pendidikan, seperti yang saya ceritakan, walaupun tidak besar, pelajar yang berprestasi kami berikan insentif,” lanjutnya.  

Maka, kampung Cibaeud yang dulu terisolir, perlahan mulai dikenal dan diakui banyak pihak. Bahkan, tak sedikit yang bersilaturahim sekaligus menimba ilmu bagaimana mengembangkan lumbung desa. Seiring dengan itu, bantuan dari pemerintah pun mulai didapatkan. 

Kendati demikian, Ustaz Gugun dan masyarakat di sana sangat menjaga. Agar Lumdes Al Hidayah, garapan mereka dari kepentingan dan janji-janji manis para pemangku kebijakan. 

“Lumdes ini milik kita bersama. Jangan sampai ada kepentingan pihak-pihak tertentu di dalamnya. Kita berusaha untuk menjaga amanah dari pihak SF ataupun donator yang sekali-sekali suka datang ke sini,” tandasnya. []

 

penulis: Maharevin

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.