Sinergi Foundation

merupakan lembaga independen milik publik yang berupaya mendorong serta membangun kolaborasi
menuju masyarakat yang mandiri, produktif dan berkarakter
 

Donasi Sawah Produktif - Lumbung Desa


sawah produktif, sawah rakyat, selamatkan sawah produktif, program ketahanan pangan, program kemandirian pangan, lumbung desa, program sinergi foundation, beras sawah rakyat

 

Inspirasi Dari Joglo Tani

“Prinsipnya ada sebelas,” kata TO sembari mengangkat jemari di kedua lengan, lantas mengakhiri dengan acungan jempol kanan. ”Lima di hati: niat, bekerja, jujur, ibadah, ikhlas. Enam di aksi: budidaya, pertanian, peternakan, perikanan, mengelola limbah, mengelola lingkungan.” Formula yang senantiasa ia bagi, di pelbagai kesempatanyang ada. Di forum yang formil ilmiah, pun di sudut-sudut pinggiran, tempat petani kita melelehkan bulir-bulirpeluhnya. Agar kelak, asa kebangkitan petani Indonesia bukan isapan jempol belaka.

Di sepenggal September mentari baru naik sepenggalah. Sedikit menyengat, bercampur angin kemarau yang menusuk pori-pori. Di dusun (2015) pagi, Mendungan, Margoluwih, satu sudut Kabupaten Sleman, Yogyakarta, tim Sinergi Foundation (SF) menyengaja datang. Hendak silaturahim, diskusi, belajar, sekaligus membuktikan sebuah kabar. Kabar ihwal keberadaan sebuah kawasan pertanian terpadu. Kawasan yang konon menginspirasi banyak pribadi, juga komuniti, menuju cita-cita berdikari. Joglo Tani, sepetak lahan seluas lima ribu meter persegi itu dinamai. Bukan tanpa alasan sang Arsitek, TO Suprapto, mengusung nama itu. Ia mengajak petani untuk tidak kecewa terhadap keadaan, melainkan bergerak maju dengan kemandirian. Mimpi itulah yang menjadi filosofi dasar Joglo (Ojo (Jangan) Gelo (Kecewa)) Tani. Di tangan Pak TO, begitu ia karib disapa, pertanian dan peternakan berpadupadan menjadi sesuatu yang inspiratif, lagi produktif. Inspiratif lantaran ia meyakini keberadaan pertanian dengan perternakan merupakan dua hal yang seharusnya sinergis. Karenanya TO kerap mendawamkan: Awal pertanian adalah akhir dari peternakan. Sebaliknya, akhir peternakan adalah awal dari pertanian.


Betapa tidak, limbah (kotoran) ternak bisa menjadi sumber nutrisi bagi pemenuhan kehidupan tanaman. Begitu pula sebaliknya, limbah yang dihasilkan dari pertanian, semisal dedaunan, bisa menjadi sumber kehidupan (pakan) bagi ternak. Produktif, lantaran dari sepetak lahan seluas 5000 meter persegi itu, bisa berbuah pendapatan bersih puluhan Juta Rupiah setiap bulannya. Dari mana? Ya dari pertanian dan peternakan. Ada area yang ditanami buah-buahan, padi, sayur mayur. Ada pula yang disemai bibit ikan, ternak unggas (bebek dan ayam) yang terutama dioptimalkan produksi telurnya.

Selain itu, Pak TO via Joglo Tani lantas menginisiasi optimalisasi tanah kas desa seluas 2 hektar-an. Lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan dan padi oleh kelompok masyarakat di desa tempat ia tinggal. Tentu agar lahan menjadi produktif dan bisa berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan petani. Lantas, dari mana mantan wasit dan pemain sepakbola Galatama ini belajar pertanian? Tembang-tembang Jawa Kuno, ia akui sebagai salah satu sumber inspirasi tekadnya untuk berkhidmat di dunia tani. Dari situ lahir konsep pertanian MAS (Manajemen Akar Sehat). Di Joglo Tani, yang kerap TO sebut sebagai Monumen Kebangkitan Petani, konsep MAS ia bagikan kepada petani dari 16 negara yang tengah menimba ilmu,
tahun 1996 lalu. 

Jika pembaca ingat istilah SRI (System of Rice Intensification), itu adalah alih bahasa dari MAS. Metode SRI ini terbagi tiga prinsip pertanaman, yaitu tanam satu, tanam muda, dan tanam dangkal. Padi ditanam satu bibit satu lubang, bibit harus sudah berdaun empat, dan ditanam dangkal. Metode SRI terbukti meningkatkan hasil dan ramah lingkungan. Metode SRI sukses dikembangkan di Madagaskar. Anehnya, Pemerintah Indonesia mengadopsi teknologi itu dari Madagaskar, bukan dari sumbernya di Sleman. ”Teknologi temuan petani masih dianggap remeh karena bukan temuan institusi,” ujar Pak TO, seperti dikutip laman Kompas.com Januari 2011 lalu. 

Ojo Gelo Ojo (Jangan) Gelo (Kecewa), seperti filosofi Joglo Tani,TO terus melangkah. Tiada hari tanpa produktivitas. Dari konsep dan implementasi pertanian yang terintegrasi itu, muncul istilah penghasilan harian, pekanan, dwi pekanan, bulanan, hingga enam bulanan. Semua itu bukan untuk TO seorang. Ia tampung Lima ratusan anak putus sekolah dari pelbagai daerah, untuk ditempa menjadi generasi pelanjut cita-cita. Dalam istilah TO, menimba ilmu di Monumen Kebangkitan Petani Indonesia (Joglo Tani), Fakultas Kejujuran, Jurusan Jalan Lurus, Universitas Jagat Raya. “Ini serius!” tegas TO, sambil sedikit merekahkan bibir. “Mereka memang kuliah ganda. Di jalur akademik, dan di dunia nyata. Jalur akademiknya ya di Fakultas Pertanian. Jalur praktisnya, ya di Joglo Tani ini!” kata TO. Ia sudah berpikir jauh ke depan, termasuk penyiapan kader-kader unggul, yang diharapkan kelak menjadi agen kebangkitan petani. “Dari mana biayanya?” TO tersenyum saja saat ditanya. Tentu sudah bisa ditebak jawabannya. Siapa lagi jika bukan dari kemurahan Sang Pemberi. Salah satunya dari buah karyanya, Joglo Tani. Sejak diresmikan 19 Januari 2008 lalu, langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, puluhan, bahkan ratusan tamu dari dalam negeri, bahkan mancanegara, seliweran saban hari ke Joglo Tani. Ada yang sekadar melepas penasaran ingin menyaksikan. Banyak pula yang serius ingin berguru pada sang suhu, ihwal pertanian terpadu. Belakangan, saking padatnya jadwal sang Founder, dalam sebulan, hanya lima belas hari waktunya di Joglo Tani. Selebihnya, keliling Nusantara, hingga mancanegara. Berbagi inspirasi, menggapai visi kemerdekaan petani, melalui gerakan pembangunan rakyat sejahtera. Caranya? "Membangun Lumbung Desa! Lumbung Desa yang bukan sekadar bangunan tempat menyimpan cadangan pangan. Melainkan optimalisasi pengelolaan jengkal demi jengkal lahan yang ada agar kian optimal, lagi produktif," Kata TO. Fisik boleh jadi letih. Tapi spirit berbagi, membangkitkan marwah petani Indonesia, melunturkan sang letih.

Seperti pagi itu. Sejak lepas subuh, sudah ada tamu yang berkunjung, sebelum tim Sinergi Foundation. Jam 9 pagi, rombongan pelajar dari Jakarta dan Depok yang berjumlah lebih dari 20an siswa dan gurunya, merapat ke Joglo Tani, demi seteguk inspirasi dari sang perintis. Di atas pendopo sederhana berbahan kayu, di tengah lokasi Joglo Tani, para siswa tadi tampak antusias menyimak paparan Pak TO, ihwal pertanian terpadu. Pak TO yang multitalenta ini, tengah berperan sebagai Trainer cum praktisi pertanian yang begitu menguasai persoalan. Sesekali demi memecah kebuntuan suasana, TO Suprapto menyelingi dengan ‘ice breaking’, yang membuat audiens kembali cair. Tentu menarik ditelisik, apa resep ampuh yang membuat ia istiqamah, bertahan untuk terus menebar kebaikan? “Prinsipnya ada sebelas,” kata TO sembari mengangkat jemari di kedua lengan, lantas mengakhiri dengan acungan jempol kanan. ”Lima di hati: niat, bekerja, jujur, ibadah, ikhlas. Enam di aksi: budidaya, pertanian, peternakan, perikanan, mengelola limbah, mengelola lingkungan.” Formula yang senantiasa ia bagi, di pelbagai kesempatan yang ada. Di forum yang formil ilmiah, pun di sudut-sudut pinggiran, tempat petani kita melelehkan bulirbulir peluhnya. Agar kelak, asa kebangkitan petani Indonesia bukan isapan jempol belaka.

lumbung desa, program pembangunan huller, bantuan mesin huller, program sinergi foundation, program ketahanan pangan sinergi foundation


Kembali
 
 




Members of Sinergi Foundation