Sinergi Foundation

merupakan lembaga independen milik publik yang berupaya mendorong serta membangun kolaborasi
menuju masyarakat yang mandiri, produktif dan berkarakter
 

Wakaf, Solusi Darurat Lahan Pemakaman di Perkotaan?

Jumat, 15 Januari 2016 17:10 WIB | Admin - Sinergi Foundation
 

SF-UPDATE -- Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung tahun 2011 mengatakan, bahwa jika dikalkulasi dengan angka rerata kematian warga yang meninggal dan dimakamkan di kota Bandung sejumlah 6.600 jiwa per tahun, maka lahan pemakaman yang dikelola Pemkot Bandung seluas 1.461.508 m2 akan habis kurang dari 9 tahun. Kini, 5 Tahun berselang, tahun 2016, apakah berarti lahan pemakaman di kota Kembang tinggal tersisa 4 tahun ke depan? Bagaimana dengan ketersediaan lahan pemakaman di kota-kota besar lainnya di negeri ini?

Melihat data dan fakta di atas, ketersediaan lahan pemakaman utamanya di kota-kota besar di Indonesia, tampaknya sudah menjadi masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Pengurus Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Jabar, Ir. Achmad Firmansam Bastaman, dalam artikelnya “Optimasi Pemakaman Muslimin sebagai RTH Potensial di Perkotaan” mengatakan bahwa keterbatasan lahan serta tingginya harga lahan di perkotaan merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Ketersediaan lahan kosong di perkotaan saat ini, termasuk untuk pemakaman,  dapat dikategorikan sebagai barang langka yang sulit di peroleh sekalipun dengan dana yang besar.

Adapun jika dilihat dari fungsi ruang terbuka hijau kota, Bastaman menambahkan, sumbangan pemakaman terhadap ekosistem kota adalah sebagai tempat tumbuh tanaman, paru-paru kota dan  daerah resapan air. Ketiga fungsi ruang terbuka hijau tersebut, berdasarkan pengamatan lapangan Bastaman, hampir tidak mungkin dilaksanakan oleh pemakaman muslim pada umumnya.  Kebiasaan masyarakat untuk membangun makam dengan bangunan perkerasan  permanen, menyebabkan pemakaman menjadi lahan penuh perkerasan yang diperkirakan memiliki building coverage ratio ( BCR ) lebih dari 90 %.  Dengan kondisi seperti tersebut, maka patut diragukan jika pemakaman dapat dikatagorikan sebagai RTH.

Ditinjau dari kenyamanan  peziarah, ia melanjutkan,  TPU yang telah  menampung jumlah makam yang melebihi kapasitas maksimalnya ini, sangatlah memprihatinkan.  Tidak tersedianya sirkulasi pejalan kaki yang memadai, serta kurangnya pohon pelindung menyebabkan  pemakaman tidak dapat memberikan kenyamanan pada pengunjungnya. Padahal tidak jarang pengunjung harus berjalan sangat jauh untuk mencapai kuburan kerabatnya, dengan harus menginjak makam satu dengan lainnya, di tengah teriknya sinar matahari.

 

Belum lagi bagi mereka yang tak berpunya, biaya termasuk penyediaan lahan pemakaman menjadi masalah tersendiri. Dana yang mencapai jutaan rupiah harus disediakan untuk dapat memakamkan sanak saudaranya dengan layak.

Ikhtiar Nyata, Pemakaman ‘Ideal’ Berbasis Wakaf

Menginjak tahun ketiga sejak peluncurannya 7 Desember 2013 lalu, Taman Wakaf Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park kini, per 15 Januari 2016, sudah dihuni 56 Jenazah. 17 Jenazah di antaranya berasal dari kalangan tak berpunya. Selebihnya, 43 berasal dari para Wakif (Pewakaf) dan keluarga. Bahkan, jenazah pertama yang dimakamkan di Firdaus Memorial Park berasal dari kalangan dhuafa. Ia Tati, seorang Nenek Renta, tanpa sanak saudara, warga Ciwaruga, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Selaras dengan analisa Pengurus Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Jabar, Ir. Achmad Firmansam Bastaman, Asep Irawan, Direktur WakafPro 99 – Sinergi Foundation yang merupakan  organisasi Nirlaba penggagas sekaligus pengelola Taman Wakaf Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park (FMP) mengatakan bahwa selain tingginya biaya pemakaman yang menjadi permasalahan pemakaman di Indonesia, beberapa faktor lain yang juga cukup berpengaruh, dan penting untuk dipikirkan solusinya antara lain: Ketersediaan lahan yang kian sempit, suasana pemakaman yang memunculkan kesan angker, hingga penanganannya yang tidak sesuai syariat. Padahal bagi kaum muslim, mengurus jenazah dan menyediakan lahan pemakaman hukumnya adalah fardhu kifayah. Wajib bagi orang-orang muslim di sekitar tempat tinggalnya.

Karenanya, menurut Asep, FMP dihadirkan sebagai upaya bersama untuk menjawab problematika tadi. Bagi kalangan dhuafa, misalnya, 24 Jam tim FMP siap melayani, mulai dari prosesi memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga memakamkan, plus penyediaan lahan pemakaman itu sendiri, murni cuma-cuma tanpa ada pungutan dalam bentuk apapun.

“Bagi mereka yang berpunya, yang merindukan ‘rumah’ masa depan yang nyaman, asri, ramah lingkungan, sesuai kaidah syar’i, serta lepas dari kepentingan bisnis yang berorientasi profit, Taman Wakaf Pemakaman Muslim “Firdaus Memorial Park” coba menawarkan  alternatif pilihan terbaik, dengan pola wakaf,” kata Asep.

FMP sendiri, berada di kawasan terpadu “Firdaus Park” di Desa Ciptagumati dan Desa Mandalamukti Kec. Cikalong Wetan Kab. Bandung Barat. Sebuah kawasan pemberdayaan masyarakat yang  mencakup: Kawasan Pertanian, Peternakan dan kawasan hijau, juga sentra pendidikan Pesantren berbasis Masjid.

Dari total target 31 Hektar, kata Asep, Alhamdulillah saat ini  8,2 ha lahan di antaranya telah dibebaskan. Khusus untuk pemakaman, 1,5 Hektar lahan yang terdiri dari 337 Kavling Liang lahat berkapasitas 1.011 Jenazah, siap huni, kini telah terisi 56 Jenazah. “Dalam masterplan, ditargetkan untuk alokasi pemakaman mencapai 20 hektar, terdiri dari 10ribu kavling liang lahat untuk pewakaf dan 10ribu kavling untuk dhuafa, dengan kapasitas mencapai 60 ribu jenazah, karena satu liang lahat bisa memuat 3 jenazah. Sementara untuk kawasan Pertanian, Peternakan dan kawasan hijau, baru 1 hektar lahan yang kini tengah digarap.  ” papar Asep Irawan.

Adapun untuk Masjid dan Pesantren, 2 Hektar lahan saat ini tengan dalam proses Land clearing dan pematangan. “Apabila Anda melalui tol Cipularang, lahan ini terletak tepat di KM 106,300-105,700 Tol Purbaleunyi arah Bandung - Jakarta (sebelah kiri jalan) Perkebunan Teh Panglejar bagian Maswati KM, Desa Ciptagumati, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat,” katanya.

Karenanya, Asep menambahkan, Sinergi Foundation mengajak segenap elemen peduli, untuk bersinergi, wujudkan Aset Sosial Masyarakat berbasis Wakaf ini, sebagai solusi konkrit atas kondisi  darurat lahan pemakaman di perkotaan.

 

Informasi:

HB Sungkaryo MarComm SF (phone & whatsapp: 081 322 4979 25/ 0821 305 240 77)


 

Lihat Berita Lainnya



Members of Sinergi Foundation