Sinergi Foundation

merupakan lembaga independen milik publik yang berupaya mendorong serta membangun kolaborasi
menuju masyarakat yang mandiri, produktif dan berkarakter
 

Syam, Bumi Tauhid Yang Terbelah

Rabu, 11 Mei 2016 16:53 WIB | Admin - Sinergi Foundation
 

SF-UPDATE --, Berbilang abad, Al Aqsa adalah potret kedamaian. Potret toleransi. Tanah yang dirindukan, dikunjungi oleh setiap insan. Kubah As Sakhrah, tempat nabi berpijak Mi’raj. Mesjid biru, tanah-tanah itu begitu syahdu, dalam lindungan Islam. Hingga kekhilafahan Turki Utsmani runtuh.

Malam semakin larut dalam cahaya bulan. Suasana begitu syahdu. Pria nan mulia itu tiba. Dengan Buraq, dari Al Haram di Mekah, kini ia telah tiba Baitul Maqdis, Masjdil Aqsa. Ada rasa yang terperi di sana. Di hadapannya, ialah Masjid Al Aqsa. Batu batanya yang begitu kusam dan tua, mengingatkan masa ribuan tahun lalu, ketika Nabi Daud dan Sulaiman bersama meninggikannya.

Mesjid itu, begitu besar. Dilihatlah sekelilingnya. Tembok tua membatasi. Inilah kompleks Al Aqsa. Wilayah yang Allah namakan Masjid Al Aqsa. Kini, Rasul nan mulia melangkah. Takjub rasanya, di balik gerbang nan tinggi itu, ratusan ribu nabi dan ratusan Rasul berada di hadapannya. Kini, Rasul nan dinanti itu telah tiba. Sungguh, tak ada satupun Rasul yang diutus, kecuali bersaksi atas Muhammad. Ada rasa rindu di sana. Inilah wajah Rasul terakhir yang dikabarkan. Kini berhadap-hadapan.

Al Aqsa di Syam. Ia menjadi saksi bisu, berkumpulnya para nabi dan Rasul sedunia. Dengan syahdu, semua berbaris rapi. Mempersilahkan Rasul terakhir itu menjadi imam. Rasul-Rasul mulia itu, kini menjadi makmum. Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa hingga lainnya, kini berada di belakang pundak Muhammad. Mereka larut bermunajat kepada Allah dipimpin Rasul nan mulia.

Bumi Syam, negeri nun jauh di sana. Negeri yang dirindukan Rasul, karena kini harus berpisah dengan para nabi. Usai shalat, Rasul harus melakukan mi’raj ke langit bertemu dengan kekasih-Nya. Ditatapnya wajah-wajah mulia itu, duhai Syam, sungguh, tanah ini menjadi saksi atas berkumpulnya para utusan Allah. langkahnya menjauh meninggalkan mereka, sekian puluh langkah. Diinjaknya batu (sakhrah) itu. Pijakannya kuat. Berangkatlah Rasul nan mulia hingga ke langit ke tujuh, Sidratul Muntaha.

Bumi Syam, negeri pelipur lara, ketika Rasul  larut dalam duka ditinggalkan istri dan pamannya. Negeri ketika seluruh nabi dan Rasul pernah mengecupkan keningnya, larut dalam ibadah. Negeri ketika ayat itu terlafal dari bibir Rasul nan mulia, ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS Al-Isra: 1)

Dr. Saiful Bahri, Direktur Asia Pacific Community for Palestine  (ASPAC for Palestine) mengatakan bahwa pada ayat tersebut, Alladzii baarakna haulahu, (Masjid Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) bisa bermakna fleksibel untuk radius wilayah sekitarnya.”Rasululullah secara spesifik menyebutnya Syam (yang diberkahi sekelilingnya),” ungkapnya.

Syam, negeri yang dirindukan Rasul nan mulia. Alumnus Universitas Al Azhar, Mesir ini menjelaskan bahwa sejarah panjang Syam bermula dari sentralnya, Masjid Aqsa, yang telah dibangun oleh Nabi Adam. “Dalam hadits disebutkan bahwa Mesjdil Aqsa dibangun 40 tahun setelah Masjid Haram. Jangan dibayangkan bahwa Mesjid itu fisiknya seperti sekarang ini, tapi bisa jadi hanya garis atau batas saja,” katanya.

Syam, negeri yang diberkahi oleh Allah, ialah sebuah kisah panjang. Bermula dari manusia pertama Adam. “Al Quds atau Masjd Al Aqsa adalah sentrumnya,” ungkap Dr. Saiful Bahri. Menurutnya, seluruh nabi pernah mengunjungi Masjid Aqsa di Syam. Al Aqsa menjadi saksi ketika Ibrahim mencari kebenaran. Atau Luth ketika selamat dari adzab, dan para nabi lainnya.

Hal senada diungkapkan oleh Dr. Muslih Abdul Karim, Dosen LIPIA, Alumni Jami’ah Muhammad Ibn Su’ud. ”Syam, kini terpecah menjadi wilayah sekitar empat Negara. Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon. Sejarahnya sangat panjang, karena hampir semua nabi berada dan diutus di pelbagai wilayah sana,” ungkapnya.

Sejarah Syam, menurut Dr. Muslih tak terpisahkan hingga kini, salah satu bagiannya, Palestina dijajah oleh Zionis Israel. Dr. Muslih, menceritakan ihwal sejarah Syam kepada Alhikmah medio September 2013 lalu. Bermula ketika ribuan tahun silam, ayah para Nabi, Ibrahim, tinggal di negeri yang diberkahi ini.

Sang putera, Ishaq, diasuhnya hingga dewasa, menikah, hingga memiliki anak bernama Yaqub (Israil). Kelak, Yaqub memiliki 12 putera, yang disebut Bani Israil (keturunan Yaqub). Kisah yang diabadikan oleh Al Quran, tentang salah satu anaknya Yaqub, Yusuf. Yusuf, pria yang akhirnya Allah takdirkan menjadi nabi setelah dibuang saudaranya, dipungut oleh saudagar Mesir. Berpindahlah ia, dari Syam menuju Mesir.

Lihatlah ketika skenario Allah, bagaimana indahnya ketika Yusuf diangkat menjadi bendaharawan Negara di Mesir karena ia pandai menafsirkan mimpi saat di penjara, dan menyelamatkan Negara ketika musim Paceklik. Tahun-tahun itu, ialah tahun kelabu. Ketika padi tak lagi tumbuh. Tanah kering kerontang. Hewan ternak tinggal tuang belulang.

Yusuf, atas wahyu Allah, membuat strategi menyelamatkan Negara Mesir atas krisis pangan yang maha dahsyat itu. Jadilah Mesir negeri yang berdaulat, dan memiliki ketahanan pangan, selama bertahun-tahun lamanya. Saat itu, terjadi eksodus besar-besaran dari penduduk Arab ke wilayah Mesir, termasuk saudara-saudara Yusuf (Bani Israil) yang datang memohon bantuan.

Yusuf, mengetahui bahwa pria-pria dihadapannya kini adalah kakak-kakaknya yang dulu membuangnya dalam sebuah sumur. Diberikannya makanan, dengan syarat ia bawa adik dan ayahnya. Walhasil, datanglah Yaqub dan seluruh putranya di Mesir. Mengetahui puteranya Yusuf yang masih hidup, para putra Yaqub meminta maaf pada Yusuf. Bulir bening tak tertahankan mengalir deras pada pipi mereka. Ada tangis duka dan gembira di sana, pada keluarga Israil (Yakub). Dalam damai, tinggalah mereka di Mesir, hingga keturunan-keturannya beberapa generasi.

“Jadi, Bani Israil itu tinggal di Mesir, bukan di Palestina,” tegas Dr. Muslih. Di Mesir, zaman berlanjut. Allah utus Musa, untuk melawan kezaliman Fir’aun. Bersama keturunan-keturunan Yaqub (Bani Israil), ia berjuang. Turunlah perintah Allah untuk hijrah ke Palestina, Syam. Disaksikannya sendiri, Firaun mati di belakangnya tenggelam ketika mereka menyeberang Laut Merah, menuju Syam.

Mukjizat yang Allah tunjukkan pada Musa, berbalas sebuah pengingkaran. Lihatlah ketika di Palestina, negeri subur itu di hadapan mata. Ketika itu, ia dikuasai raja yang zalim. Nabi Musa mengajak Bani Israil berperang untuk masuk ke Palestina. Tapi, mereka malah menjawab,” Berperanglah kamu berdua bersama Tuhanmu, kami hanya duduk-duduk di sini.”

Karena mereka tak ta’at pada perintah Allah, maka Allah hukum mereka tersesat, tak bisa masuk ke Palestina selama 40 tahun. Musa wafat, mereka bisa masuk saat zaman Yusa bin Nuh. Karena, tak taat pada Allah dan RasulNya, Bani Israil akhirnya harus pergi meninggalkan Palestina, Allah cerai beraikan mereka.

Zaman terus berlanjut, hingga mereka keluar masuk Palestina, Syam, hingga diutus seorang Nabi yang menunjuk seorang pria bernama Thalut menjadi pimpinan Bani Israil. Lagi-lagi mereka tak ta’at dan Allah turunkan mukjizat kotak nabi Musa dari langit dan akhirnya mereka ta’at pada nabi tersebut dan dipimpin oleh Thalut.

Thalut memiliki seorang puteri yang menikah dengan Daud. Dalam peperangan, atas izin Allah, Daud dapat mengalahkan penguasa zalim saat itu, Jalut. Suasana damai terasa. Thalut wafat dan mewariskan kerajaan sangat luas yang beribukota di Syam kepada Daud. Daud sang raja memiliki putera bernama Sulaiman. Kini, atas wahyu Allah, Daud dan Sulaiman membangun kembali Masjd Al Aqsa yang telah dibangun sejak Adam.

“Karenanya, Zionis kini mengklaim ingin menemukan kembali Haikal Sulaiman, yang sebenarnya Masjid Aqsa yang Nabi Sulaiman Bangun,” kata Dr. Saiful Bahri. Zaman terus berlalu. Yunani, Romawi masuk merangsek, mengusir para Bani Israil dan terpencar-pencar ke seluruh dunia.

Hingga kaki Rasul nan mulia menjejak di sana. Bersama para nabi. Semua berkumpul dalam syahdu. Al Aqsa, mesjid nan dirindu. Ada doa di sana, akan keberkahan Syam. Baitul Maqdis, tempat Rasulullah dan umat Islam menghadap pada kiblat pertama. Al Aqsa, menjadi impian Rasulullah. Kelak, ia akan ada dalam pangkuan Islam.

Pembebasan Al Aqsa

Cita-cita Rasul berbalas pada zaman Umar bin Khattab menjadi khalifah. Setelah bebasnya Suriah dan Mesir, kini Al Aqsa berada di depan mata. Dengan damai, akhirnya Al Quds terbebas. Umar, amirul mukminin masuk hanya berdua dengan ajudannya dengan bergantian menaiki keledai. Terheran-heran penduduknya, apakah ini pemimpin tertinggi umat Islam. Kunci itu, diserahkan begitu saja oleh Pendeta Sophornus. Ada kedamaian di sana, antara pelbagai agama. Mesjid Umar, menjadi saksi, bahwa di hadapan gereja di Al Quds, Yerusalem. Ada kedamaian di sana, selama berabad lamanya dalam pangkuan Islam.

Hingga, awal abad 10, darah tiba-tiba membanjiri jalanan. Puluhan ribu penduduk Al Quds dibantai. Kumandang perang Salib oleh Paus disambut dengan pembunuhan masal. Al Quds kembali menjadi saksi, akan kezaliman yang ada. Ia rindu ketika Islam berada di sana. 90 tahun ia menanti dibebaskan oleh keadilan Islam.

Sang penerus Umar nan dinanti kini berada tepat di kota suci itu. Setelah membebaskan Mesir dari sekte Syiah dan Suriah dari pasukan Salib, takbir itu menggema. Penantian Al Quds, bersambut dalam sujud. Shalahuddin Al Ayyubi, sang pembebas Al Quds, kini memandang kembali Masjid Al Aqsa.

Berbilang abad, Al Aqsa adalah potret kedamaian. Potret toleransi. Tanah yang dirindukan, dikunjungi oleh setiap insan. Kubah As Sakhrah, tempat nabi berpijak Mi’raj. Mesjid biru, tanah-tanah itu begitu syahdu, dalam lindungan Islam. Hingga kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, Al Aqsa kini menjadi wilayah jajahan Inggris pasca Perang Dunia I dan II.

Ribuan tahun, Al Quds, dalam damai. Kini, ia kembali berduka. Inggris memberikan tanah itu pada zionis Israel, para orang Yahudi. Ada duka di sana, pada wajah para penduduk palestina. Pria mana yang begitu pedih hatinya, melihat tempat tinggalnya dirampas begitu saja

Dr. Saiful Bahri bertutur tentang kondisi wilayah Palestina kini, “Ketika PBB tanggal 29 november 1947 membagi wilayahnya menjadi 50 % milik Israel dan Palestina, dari sana semua bermula. Tahun 1967 terjadi perang, juga tahun 1973 perang, dan bangsa Arab kalah sehingga sekarang sedikit sekali wilayah Al Quds. Itulah Al Quds dalam sejarahnya.”

Kini, bumi Syam menanti pejuang-pejuang pada zamannya. Suriah yang sedang bergejolak, melawan rezim Syiahnya. Mesir yang bergolak melawan rezim militernya. Al Quds, kini ia menanti. Dari Mesir laiknya Umar bin Khattab. Juga dari Suriah seperti Shalahuddin Al Ayyubi. Ia menanti ada sujud di sana, dengan damai. Menanti kita di sana. Ya Allah, sampaikanlah kami mengecupkan kening ini di tanah yang Engkau berkahi, seperti para pendahulu, Rasul dan nabi. Bumi Syam.

(Rizki Lesus/ ed:hbs/ Pic:  NewsWeek, Nation Of Change)

Dikutip dari Tabloid Alhikmah edisi 87


 

Lihat Berita Lainnya



Members of Sinergi Foundation