Sinergi Foundation

merupakan lembaga independen milik publik yang berupaya mendorong serta membangun kolaborasi
menuju masyarakat yang mandiri, produktif dan berkarakter
 

Di Atas Sajadah di Hamparan Langit Aleppo

Jumat, 06 Mei 2016 07:28 WIB | Admin - Sinergi Foundation
 

SF-Update -- Ketika Lantunan Al Quran dan Ledakan Bom Saling Bersahutan di Langit Biru Aleppo. Ketika bulir-bulir bening itu menetes membasahi sajadah di sudut bumi para nabi. Inilah laporan pandangan mata junalis tabloid Alhikmah M. Rizki Utama yang juga relawan Sinergi Foundation di Aleppo, Suriah, Desember 2013. Kini, 2016, hampir 3 tahun berlalu, kondisi kian memprihatinkan. 

Tak ada hari yang begitu cerah di Kota Aleppo, kecuali hari Jumat (27/12/2013) ketika langit biru menghampar luas sejauh mata beredar. Masih dalam musim dingin yang mencubit kulit, jalanan Aleppo begitu lengang, melompong. “Hari ini adalah hari libur,” kata Abu Ridho, seorang relawan asal Suriah yang mengantarkan kami. Jumat, adalah hari libur di Kota Aleppo, dan Jumat ini terasa istimewa, karena langit begitu cerah.

“Jangan keluar dulu, langit sangat cerah,” katanya sembari membuka sedikit gorden di luar. “..Bum..Bum..” bom-bom itu masih saja menggelegar, sejak  kaki ini menjejak Bumi Syam. Kali pertama di sebuah sekolah di Kota Aleppo, kami sudah disambut oleh Bom Tentara Assad. Aleppo, ialah sebuah kota indah nan jauh di sana, di masa silam, ketika Mesjid Umawi itu pun berdiri tegap di sana. Aleppo, ialah sebuah kota impian, ketika taman-taman dan air-air mancur itu bertebaran di sudut-sudut kota. Aleppo, kota pemerintahan Umayyah masa silam, yang menyimpan berjuta kenangan.

Aleppo, ialah sebuah kota impian di masa silam, kota besar setelah Damaskus di Bumi Para Nabi, Syam. Tapi kini, cahaya malam, keindahan kota tak ada lagi di sana. Gelap pekat menemani perjalanan mata, ketika sniper-sniper rezim Assad itu siap menarik pelatuk dari kejauhan, di atas lampu kuning di atas menara di sudutnya. Kota yang bercahaya itu, kian gelap gulita. Tak ada lagi gemerlap kota, pun hanya untuk secuil sinyal, tak dapat kami dapati.

Taman-taman itu, kini berserak bercampur puing-puing ledakan yang bertebaran. Aleppo, ialah puing bangunan berserakan, saksi kebengisan sebuah rezim. Aleppo ialah ketika sampah-sampah itu menumpuk di jalanan, sangat berbeda dengan membayangkan Aleppo di masa silam, ketika Umar Ibn Al Khattab menaunginya dalam damai. Aleppo, ialah sebuah kota, dengan penuh harapan, akan sebuah perdamaian, ketika adzan Jumat berkumandang menggantung di langitnya yang  membiru.

Jumat biru itu, kumandang Adzan syahdu membelah langit Aleppo, bersahutan dengan bom-bom yang menggelegar. Sesaat sebelum adzan, kami baru bisa keluar menuju Mesjid. Dalam cerah, pesawat-pesawat itu begitu tinggi, memuntahkan bom kapan saja, di mana saja. “Bum..Bum..” ledakan besar, mengawali sang Imam muda itu berkhutbah, tentang harapan perdamaian, kemenangan atas para mujahidin.  Doa itu begitu syahdu, terlafal dari sang Imam mengawali khutbah.

“Jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolongmu,” kata pemuda tersebut di atas mimbar,  tempat khusus imam pada lantai dua. Hujan bom masih bersahutan di luar sana. Sang Imam, dengan tenang melanjutkan pesan-pesannya. Semua serius menyimak. Hujan bom, mungkin sudah menjadi kebiasaan. Shalat Jum’at berjalan dengan khidmat.

Ketika sang Imam mengangkat telunjuknya, berdoa begitu fasih. Ketika makmum pun mengangkat jari telunjuknya, tak berteriak kencang Amin, namun begitu meyakini doa-doa sang Imam. “...Bumm!..” suara gelegar terus terjadi, tak membuyarkan kekhuskuan Jama’ah shalat. Meski bisa saja bom tiba-tiba menghujam di dalam Mesjid, seperti laiknya beberapa saat silam, di hadapan Makam Nabi Zakariya itu, di Mesjid Umawi, ratusan orang menjadi korban serangan udara Rezim Bashar.

Tapi kini, dalam syahdu, Jumat itu semua menghadap RabbNya. Mendoakan kemenangan atas perjuangan mereka, rakyat Suriah.  Suara merdu dan tartil imam, mengawal shalat yang begitu syahdu dalam dingin. Suhu yang mulai nol derajat, membuat badan semakin rapat. Bom di luar sana, tak mengurangi kekhusyukan Imam membaca sebuah surat Al Baqarah dengan Tartlil, hingga ayat.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu kan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” (QS Al Baqarah: 214)

Ayat yang begitu menghujam. Sungguh, itulah yang mereka katakan setiap harinya, ketika cobaan berat itu datang melanda. Ketika bom itu dijatuhkan, melukai sang bocah yang hendak berangkat ke sekolah. Dalam rintihan sakit, ia bertahan. Ketika kucing-kucing lucu itu menjadi santapan mereka, karena tak ada lagi yang hendak mereka makan.

Ketika kaki bocah-bocah itu menahan dingin, tak ada sepatu untuk pergi ke sekolah. Ketika guru-guru mereka tak lagi masuk, karena telah tiada. Ketika salju-salju itu bertumpuk di atas tenda, membuat gigi bergetar hebat, menahan dingin. “Apakah kamu mengira bahwa kamu kan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang sebelum kamu.

Lembutnya Imam membaca surat Al Baqarah. Isak tangis sedikit terdengar. Bulir-bulir bening ini berkumpul di sudut mata. “Kapankah datang pertolongan Allah?”  dengan syahdu sang Imam melanjutkan, “Ingatlah Pertologan Allah itu dekat.

Sebuah janji yang meneguhkan, bahwa masa kemenangan itu semakin dekat. Sungguh beruntung ketika ujian itu datang, dan keluar perkataan “Kapankah datang pertolongan Allah..” Ketika bulir-bulir bening itu menetes membasahi sajadah di sudut bumi para nabi.

Haru menyeruak, jamaah larut dalam syahdu suara imam yang melanjutkan bacaannya. “Harta apa saja yang kamu infakkan hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang dalam perjalanan..” (QS Al Baqarah 215)

“..Bum...Bum..” dalam syahdu, kalam ilahi itu bersahutan dengan gelegar bom di langit Aleppo. Bahwa syukur terlafal, atas kenikmatan yang diberikan atas kondisi hidup di bumi Nusantara. Dalam syahdu, imam melanjutkan kalam sucinya, menutup shalat Jumat dalam langit biru Aleppo.

“..Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagmu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu  , padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui..” ( Al Baqarah 216)

Kalam ilahi itu terus terngiang-ngiang, dalam syahdunya bacaan imam. Suara Al Quran dan ledakan itu bersahutan di langit Biru Aleppo. Aleppo, kini ada dalam rindu berabad silam, ketika kalam-kalam suci itu menggema, terlafal. Berabad silam, ketika para nabi menjejakkan kakinya di sana. Tak lama lagi, masa itu akan kembali. Insha Allah.

Tiga Tahun Berlalu 2013-2016

Laporan pandangan mata junalis tabloid Alhikmah M. Rizki Utama yang juga relawan Sinergi Foundation di Aleppo, Suriah, Desember 2013. Kini, 2016, hampir 3 tahun berlalu, kondisi kian memprihatinkan. Jet jet tempur rusia, sekutu rezim diktator Bassar Assad terus membombardir Aleppo dan wilayah di sekitarnya. Korban sipil terus berjatuhan. Tak peduli siapa. Tua, muda, lelaki, wanita, termasuk bocah-bocah mungil tak berdosa menjadi sasaran kebiadaban menusia-manusia durjana.

“Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari Kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)

Kita tak mengenal warga sipil: tua renta, wanita dan bocah-bocah mungil, korban kebiadaban rezim di Suriah. Tapi Allah mempertautkan kita dalam ikatan iman, al Islam.

Jangan tunggu sampai kita merasa leluasa untuk berbagi. Buktikan empatimu pada sesama yang tengah teraniaya di bumiSyam, negeri para Nabi.

(MR/SF NewsRoom/ Pic: The Atlanctic)


 

Lihat Berita Lainnya



Members of Sinergi Foundation



Mitra Corporate