Bersinergi, Hidupkan Filantropi

Kamis, 08 Juni 2017 11:03 WIB

Geger. Berita meluapnya air sungai Cimanuk Garut telah tersiar ke seluruh penjuru Nusantara. Banjir bandang menghempas Kota Intan. Tak terelakkan, foto-foto di TKP tersebar di dunia maya. Air bah berwarna kecoklatan nampak merendam daratan. Mobil-mobil terseret tak tentu arah, sementara warga terpaksa ‘bertengger’ di atap rumah. Dalam waktu kurang dari 24 jam, tagar #SaveGarut mendadak viral.

Jutaan klik itu beralih rupa menjadi jutaan uluran tangan. Orang-orang terketuk hatinya, bersedia menyisihkan sedikit dari biaya hidup sehari-hari, demi saudara mereka yang terdampak banjir. Tak hanya uang. Ada pula, yang rela mengetuk rumah satu persatu, mencari tahu apakah sang penghuni memiliki baju layak pakai untuk disumbangkan.

Sementara itu, tim-tim kemanusiaan mulai terjun ke lapangan. Kondisi di lokasi banjir rupanya jauh lebih buruk. Pemukiman warga porak poranda, bangunan-bangunan rusak parah. Reruntuhannya terserak. Sampah dan lumpur melebur, menumpuk di bantaran sungai. Wajah-wajah di pengungsian begitu nelangsa.

Lalu, di temaramnya sudut surau malam itu, mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan, sekelompok orang berkumpul. Membawa baju lengan panjang bertuliskan ‘RESCUE’ di belakang punggung. Sebagian, membalut diri dengan rompi hitam. Semua mengenakan emblem dari lembaga sosial masing-masing.

Mereka berbincang serius, mencoba mencari jalan cepat dan solutif untuk menolong para korban banjir. Seraya menyesap kopi hitam, mereka membagi tugas. Ada yang membuka posko kesehatan dan trauma healing, menyediakan logistik bagi korban, hingga rencana gotong royong membersihkan perkampungan dari sisa banjir.

Tak ada yang saling sikut. Semua bersinergi. Bahkan ketika resik kampung, mereka tak ragu saling bahu membahu. Tujuannya satu: kemanusiaan. Menolong mereka yang terpaksa menahan sesak di dada karena semua harta tak bersisa tersapu banjir. Dan tentu, menjadi perantara uluran tangan segenap masyarakat peduli. Pantang pulang sebelum dana umat itu tersalurkan.

Syahdan, konsep berbagi itu tak hanya soal materi. Perkara pikiran dan tenaga yang dikerahkan pun adalah bagian dari mendermakan diri. Jika satu sungging senyum saja bisa melenyapkan rasa khawatir di wajah-wajah pilu itu, bukankah itu adalah bagian dari sedekah pula?

***

Pembaca, ilustrasi di atas dapat ditemukan di sudut mana pun di bumi pertiwi. Gemar tolong-menolong, sebuah perilaku yang tak bisa dilepaskan dari rakyat Indonesia. Bahkan, seiring dengan pemahaman Islam yang semakin baik, kesadaran masyarakat untuk berfilantropi terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Menurut anggota Badan Zakat Nasional, Nana Mintarti, filantropi Islam di Indonesia semakin menggeliat selama dua puluh tahun terakhir. Nana memberi contoh, filantropi di Nusantara meningkat secara signifikan, hampir 100 persen setiap tahunnya, pada 2005 dan 2007.

“Ini diperkirakan sebagai implikasi dari tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta. Dua tragedi yang dianggap sebagai bencana nasional,” ujarnya, dalam helatan Konferensi Filantropi Islam Internasional Asia Tenggara (SEAIIPC), sepenggal Februari lalu. 

Ini membuktikan, tambah Nana, kepedulian sosial masyarakat memang sangat baik. Hal ini ditambah pula dengan kesadaran mereka berfilantropi, terutama dalam perkara zakat. Ia menyatakan perkembangan zakat di negeri ini meningkat secara signifikan ketika UU Zakat No. 38/1999 diluncurkan. Masyarakat semakin termudahkan.

“Berdasarkan UU ini, zakat dapat dikelola oleh lembaga zakat pemerintah (Badan Amil Zakat) dan juga pribadi yang dibuat oleh masyarakat (LAZ). Namun, seiring waktu, perubahan besar terjadi dengan digantinya UU Zakat No. 38/1999 menjadi UU No. 23/2011,” kata Nana.

Dalam aturan baru tersebut, ia melanjutkan, UU Zakat No 23/2011 bertindak sebagai dasar dari seluruh operasi zakat di Indonesia. “Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan zakat, mengoptimalkan manfaat zakat untuk kesejahteraan masyarakat, dan pengentasan kemiskinan," imbuhnya.

Semakin besar kesadaran masyarakat, Nana meyakini makin besar pula potensi di dalamnya. Ia menuturkan, dalam dekade terakhir, zakat memang mengalami pertumbuhan yang pesat. Nana mengutip satu studi dari Public Interest Research & Advocacy Public (PIRAC) yang menunjukkan bahwa potensi zakat di Indonesia memiliki kecenderungan meningkat setiap tahun.

Dalam data Baznas sendiri, potensi zakat Indonesia bisa mencapai 217 triliun. Kendati demikian, Nana mengakui bahwa besarnya potensi ini tak sesuai dengan realisasi. Menurutnya, ada kesenjangan yang tinggi antara kedua hal tersebut. Jika dilihat dari data penghimpunan ZIS semua lembaga zakat pada 2015, realisasi hanya tercapai Rp 3,7 triliun. 

“Dengan kata lain, ini kurang dari 1,3 persen dari potensi yang besarnya mencapai 217 triliun itu,” katanya.

Atas hal ini, setidak-tidaknya, Nana Mintarti melihat tiga sebab. Pertama,  kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat, dan kecenderungan filantropi muzakki yang masih berorientasi jangka pendek. Kedua, masyarakat masih memahami zakat hanya sebatas zakat mal dan zakat fitrah saja.

“Ketiga, masih rendahnya insentif bagi muzakki untuk membayar kewajiban ini, khususnya terkait zakat sebagai pengurang pajak, sehingga muzakki tidak terkena beban ganda,” terang Nana.

Namun, ia sendiri tak lantas pesimis. Nana memprediksi, pertumbuhan zakat di masa depan akan terus berkembang seiring dengan kemajuan ekonomi, dan meningkatnya jumlah muslim kelas menengah.  Oleh karena itu, dengan proyeksi yang tepat atas tiga permasalahan tadi, ia yakin zakat bisa menjadi kekuatan besar untuk merentas kemiskinan.

Potensi Wakaf

Sementara itu, wakaf yang juga menjadi salah satu pilar ekonomi Islam, tak kalah besar potensinya di Indonesia. Baik wakaf harta bergerak, maupun yang tidak bergerak. Menurut Kasubdit Edukasi, Inovasi dan Kerjasama Zakat dan Wakaf Kemenag RI, M Fuad Nasar, kini wakaf, terutama wakaf uang, terus dikampanyekan oleh nazhir.

Ia menuturkan, wakaf bisa ditujukan untuk banyak hal yang berorientasi kemaslahatan umat. Misalnya: sarana dan kegiatan ibadah, sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan, bantuan kepada fakir miskin, yatim piatu, beasiswa, kemajuan dan peningkatan ekonomi umat, dan kemajuan kesejahteraan umum lainnya.

Semua itu, katanya, tidak boleh bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan data Kemenag, Indonesia memiliki potensi tanah wakaf sebesar 21.441 hektar, yang tersebar di 195.029 lokasi. Lahan-lahan tersebut masih belum dioptimalkan, dan baru terpusat di tiga provinsi besar: DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kendati demikian, peranan wakaf dalam upaya menyejahterakan umat terus hidup. Di penjuru Indonesia, sejumlah program berbasis wakaf terwujud, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan ekonomi. Misalnya saja, kehadiran Smart Ekselensia Indonesia, sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak dari golongan papa, yang dibangun di atas lahan wakaf seluas 20.446 m2.

Atau, ada pula inovasi lain di bidang pemakaman. Adalah keberadaan Taman Wakaf Pemakaman Muslim, Firdaus Memorial Park yang mencoba meretas solusi atas permasalahan mencekiknya biaya pemakaman bagi dhuafa. Sebab berkonsep wakaf, pengelolaannya tak lagi berbicara bisnis atau komersil yang merugikan kaum papa. Baik pemulasaraan maupun lahan makam, semua dibebaskan dari biaya.

Jauh sebelum dua program tersebut, institusi pendidikan Pesantren Gontor telah lama mempraktekkan wakaf produktif di Indonesia. Pada 1958, aset wakaf yang dimiliki Gontor seluas 4.995 m2. Sebagian di antara lahan tersebut, kemudian diproduktifkan melalui Koperasi Pondok Pesantren La Tansa.

Dalam satu wawancara bersama Alhikmah, Ketua Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern Gontor, KH Imam Shobari menyebut hasil wakaf disalurkan dalam banyak bentuk. Misalnya beasiswa, biaya pengiriman kader, biaya pembangunan, perbaikan dan pemeliharaan gedung, pembelian aset tanah, dan pemberdayaan kehidupan keluarga pondok agar seluruh elemen mengabdi dengan maksimal.

”Manfaat wakaf pondok juga dirasakan masyarakat sekitar pondok. Selain menambah peluang kerja, hasil wakaf ini juga untuk kegiatan dakwah sosial masyarakat,” jelasnya.

Menyinergikan Seluruh Elemen

M Fuad Nasar menyatakan, problematika yang menghimpit Indonesia telah semakin merongrong kehadiran pilar-pilar ekonomi Islam sebagai alat menyejahterakan umat. Ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial, katanya, menjadi persoalan krusial bangsa Indonesia dewasa ini.

“Jurang antara orang kaya dan miskin di Indonesia tumbuh lebih cepat dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara,” kata konsultan The Fatwa Center ini.

Ia mengutip penelitian Oxfam Indonesia dan INFID, yang menyebut bahwa dalam 20 tahun terakhir, Indonesia berada di peringkat enam terbawah dunia dalam hal ketimpangan. Bahkan, ia melanjutkan, harta dari empat orang terkaya Indonesia setara dengan harta 100 juta orang miskin di Indonesia.

Atas masalah-masalah tersebut, pemerintah sendiri mulai memfasilitasi pengembangan dan pemberdayaan filantropi Islam. Ini ditunjukkan melalui pembentukan regulasi di bidang zakat dan wakaf, penataan institusi kelembagaan, dan sebagainya. Fuad Nasar menerangkan, filantropi Islam pun telah masuk dalamArsitektur Ekonomi dan Keuangan Syariah di Bappenas.

“Saya kira, usaha ini juga akan mendorong pengembangan sektor filantropi Islam,” kata Sekretaris Baznas periode 2004-2015 ini.

Namun, dalam hal ini, ia menilai pemerintah tak bisa bekerja sendirian. Masalah-masalah tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Ia menegaskan, sangat penting adanya political will untuk meluruskan kiblat ekonomi bangsa.

Pun, Fuad Nasar mengapresiasi geliat pertumbuhan LAZ. Jika para pengelola zakat bersatu berorientasi pada kepentingan umat, katanya, maka sumbangan LAZ pada kesejahteraan akan tampak nyata. Akan tetapi kalau masing-masing hanya berpikir membesarkan lembaganya sendiri daripada saling menguatkan, maka dunia perzakatan di tanah air belum akan mampu membuat lompatan besar.

Senada dengan Fuad Nasar, Ketua Forum Zakat (FOZ), Nur Efendy menegaskan bahwa gerakan filantropi umat telah memasuki fase kolaborasi. Semua elemen harus bahu membahu dalam merentas kemiskinan di negeri ini. Ia sendiri menawarkan 4 pola sinergi.

Pertama, sinergi dengan pakar dan akademisi. Dua elemen ini yang kemudian melakukan evaluasi, analisis, dan rekomendasi program umat yang berkelanjutan. Kedua, sinergi organisasi sosial dan media. Pada poin kedua ini, seluruh elemen terkait perlu secara aktif mendorong lembaga zakat untuk mempublikasikan portofolio program.

Ketiga, sinergi dengan pemerintah. Nur Efendy mengharapkan pemerintah mampu membuat regulasi yang mendukung pertumbuhan zakat di Indonesia. “Dan terakhir, sinergi antar lembaga filantropi. Perlu ada interkoneksi antar lembaga, baik penghimpunan maupun distribusi. Dan terpenting, meningkatkan kompetensi lembaga dan amilnya sendiri,” tandasnya. (agh)


 

 


SINERGI FOUNDATION (SF) adalah lembaga independen milik publik yang concern mendorong pengembangan kreativitas dan inovasi Sosial-Pemberdayaan berbasis Wakaf Produktif dan ZIS (Zakat, Infaq- Sedekah). Dengan sinergi antar segenap elemen peduli guna meningkatkan kapasitas serta memperluas jangkauan pengabdian, SF berkomitmen meretas jalan bersama melalui pendayagunaan sumberdaya lokal, menuju terwujudnya masyarakat yang mandiri, produktif dan berkarakter.


Kantor

SF Bandung

Jl. HOS Tjokroaminoto (Pasirkaliki)

No. 143 Bandung 40173

Telp: (022) 6120 218

Fax: (022) 6120 130

 

Gedung Wakaf 99

Jl. Sidomukti No. 99 H Bandung 40123

Telp: (022) 251 3991

Fax: (022) 2511 865

 

SF Jakarta

Hotel Kartika Chandra (Safari Suci Office) Kav.12

Jl. Jend. Gatot Subroto Jakarta Selatan 12930



Copyright Sinergi Foundation © 2017 - Disclaimer | Privacy Policy