lombok, gempa bumi, bencana alam, let's hep lombok

Menghangatkan Mereka di Tenda Pengungsian

“Allahu Akbar…Lailahailallah…”

Gemuruh takbir saling bersahutan bersama gemuruh hebat dari bawah bumi. Sunyi malam itu itu pecah! Takbir dan kalimat tauhid bersahutan terdengar dari tenda-tenda. Malam itu, 19 Agustus 2018, Dusun Jorong Sembalun Bumbung Lombok Timur kembali diguncang gempa sangat hebat!

Tenda – tenda begoyang. Rumah berdinding bata yang sudah reyot karena ratusan gempa berturut-turut selama tiga pekan sebelumnya kini benar-benar rata dengan tanah. Anak-anak menangis.

“Drrrr…drrr…drrr…….dukk!”

Bersamaan dengan gempa 7 SR malam itu, terdengar gemuruh longsor dari kaki Gunung Rinjani. Para pengungsi hanya bisa mengelus dada, mempasrahkan diri kepada sang Rahman, berharap batu gunung tak jatuh hingga tenda mereka.

Sebagian warga panik. Bagaimana tidak? Di tempat ini dulunya persis danau purba, laiknya periuk, Sembalun persis ada di tengah-tengah, dikelilingi oleh bukit Nanggi, Pergasingan, Pusuk Sembalun, dan tentu Gunung Rinjani.

“Alhamdulillah untung masih belum hujan,” kata warga Jorong, Rusdi. Katanya, tahun 2006, saat musim hujan tiba, longsor bebatuan turun bersama air bah dari gunug. Walhasil, sebagian kawasan di Sembalun terkena reruntuhan batu gunung dan air bah.

Di tengah rasa was-was warga, masih pula warga harus menahan dinginnya malam dan pagi yang begitu mengigit. “Di sini kalau pagi bisa sampai 8 – 10 derajat celcius,” kata Ilian, salah satu warga Jorong.

“Dua selimut tebal saja tak cukup,” tambahnya. Ia terkadang menangis, melihat bagaimana anak-anak kecil harus menahan dingin, yang terkadang membasahi mereka. Tenda berlapis terpal itu tak kuasa menahan dinginnya malam. Jelang subuh tiba, air embun menetes membasahi para penghuni tenda.

Ewis Susanti, salah satu pengungsi mengatakan bahwa sudah lebih dari 1 bulan mereka hidup di tenda. “Saya sedih, sering nggak bisa tidur karena dingin. Ingin pulang ke rumah, tapi rumah saja sudah tidak ada,” kenang Ewis.

Apalagi kata Ewis, musim hujan akan segera tiba. Ia berharap, segera dapat pindah dari tenda, ke sebuah tempat yang lebih layak, yang bisa sekadar menahan dinginnya malam dan ramah gempa.

“Sebelum hujan, semoga kami bisa pindah ke hunian kecil tak apa, hunian sementara,” kata Ewis.

Ewis tak sendiri. Ada 500 KK kini bersiap melawan dingin dan masuknya musim hujan. Di sini, boleh jadi kita bisa tertidur nyenyak di balik selimut. Tapi di sana?

Mari kita hangatkan ‘musim dingin’ di Sembalun, wujudkan 500 hunian ramah gempa di Dusun Jorong Sembalun! Kawan-kawan, mari bantu warga Lombok untuk kembali bangkit.

Let’s Help Lombok! Salurkan kepedulian Anda dengan klik di sini

Atau transfer donasi Anda ke:
Mandiri Syariah 7060 300 709
a.n Sinergi Foundation

Informasi dan konfirmasi transfer:
WA 0812 2066 7263

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.