bambu, kurban, green kurban, lumbung bambu, penghijauan

Kurban dan Filosofi Bambu

Ibadah Kurban, tak lepas dari peristiwa ‘penyembelihan’ Ismail oleh sang Ayah, Nabiullah Ibrahim.Tauhid yang menghujam kuat dalam dada, membuatnya tak kuasa menolak titah sang Maha, untuk menyembelih buah hati tercinta, yang tengah bertumbuh lucu-lucunya.

Nalar manusia biasa sudah pasti menolak seketika. Entah Ibrahim yang akan menyembelih, atau sang anak yang akan menjadi korban sembelihan.  Tapi Iman memang bukan perkara nalar makhluk manusia yang lemah. Iman mengalahkan cinta ayah-anak itu terhadap dunia yang membuat terlena. Inilah manifestasi penghambaan sang hamba pada Khaliknya yang sungguh fenomenal.

Ketika fundamen aqidah sudah tertanam sedemikian rupa. Buah proses yang tak instan, sejak dari kandungan hingga lahir ke alam dunia. Begitu pula saat bapak para Nabi itu harus tega meninggalkan istri dan jabang bayi yang dinanti kehadirannya sejak lama, di tengah lembah tandus kerontang. Satu fase yang Allah siapkan, untuk meneguhkan aqidah sang Nabi, yang kelak akan melahirkan generasi-generasi terbaik, pembawa risalah Allah.

Lantas, apa hubungannya dengan Bambu?

Bambu, di antara makhluk Allahu Ta’ala yang ‘ajarkan’ manusia sebuah kearifan. Di tahun-tahun awal ditanam, tak akan terlihat pertumbuhan yang signifikan. Namun, menurut informasi yang terhimpun, setelah berusia di atas tiga hingga lima tahun, barulah tampak bertumbuh. Mengapa demikian?

Dalam kurun waktu awal, ternyata pertumbuhan bambu berfokus pada penguatan akar. Pengorbanan dan kesabaran menjalani proses, menjadikan akar bambu sebagai pondasi tak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga teramat berguna bagi lingkungan sekitar. Bagi bambu, akar yang kuat, tentu akan menopang keberlangsungan batang bambu, yang tingginya bisa mencapai puluhan meter, kelak.

Selain itu, dalam kaitannya dengan konservasi, Mukoddas Syuhada, Founder Banten Creative Community, dalam artikelnya “Bambu Atasi Kekeringan” menuliskan, sebuah penelitian di China, hutan bambu mampu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah hingga 240% dibandingkan hutan pinus. Penghijauan dengan bambu pada bekas tambang batu bara di India mampu meningkatkan muka air tanah 6,3 meter hanya dalam 4 tahun. Berdasarkan laporan penelitian tentang hutan di China, dedaunan bambu yang berguguran di hutan bambu terbuka paling efisien di dalam menjaga kelembaban tanah dan memiliki indeks erosi paling rendah dibanding 14 jenis hutan yang lain.

Penelitian Prof. Koichi Ueda dari Kyoto University menyatakan bahwa sistem perakaran bambu monopodial sangat efektif di dalam mencegah bahaya tanah longsor. Hutan bambu dapat menyerap CO2 62 ton/Ha/Thn sementara hutan tanaman lain yang masih baru hanya menyerap 15 ton/Ha/Thn. Bambu juga melepaskan oksigen sebagai hasil foto sintesis 355 lebih banyak dari pohon yang lain. Masya Allah.

Green Kurban, sejak pertama kali diluncurkan Dalam kurun waktu 2013-2016, jenis pohon yang  ditanam berupa pohon produktif (Buah dan Kayu) di wilayah pesantren yang tersebar di Jawa Barat. Selain itu, penanaman pohon juga dilakukan di kawasan terpadu Firdaus Park, Kabupaten Bandung Barat dan  kawasan konservasi Gunung Batu Kacapi, Malangbong, Kabupaten Garut.

Kini, pada perkembangannya, dengan beragam pertimbangan di atas, pohon Bambu menjadi salah satu concern kami. Saat Anda membaca artikel ini, dan lalu bergabung bersama ribuan pekurban lainnya dalam program Green Kurban, semoga bisa menambahkan sebuah nilai positif (menanam pohon bambu) yang mengiringi ibadah kita. Menjadi bagian dari amal jariyah yang senantiasa mengalirkan kebaikan, berujung kebahagiaan. Amiin. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Deputi CEO Sinergi Foundation, Asep Irawan.

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.