[Kisah Member RBC] Sedekah di Kala Susah

illustrasi

Dinding-dinding ruangan itu berwarna merah muda. Binar terangnya mengelabu, seiring dengan cat-catnya yang mulai mengelupas. Suminarni berdiri di muka pintu. Bersenandung, sesekali membelai bayi dipangkuannya yang terlelap tidur. Pelan-pelan, ia memasuki kamar, menidurkan puterinya di kasur yang bertumpuk-tumpuk di sudut ruangan.

Ia terduduk di lantai. Kamar yang telah ia tinggali selama empat tahun itu hanya menyisakan sedikit ruang untuk sekadar menyelonjorkan kaki. Seluruh ruangan padat diisi perabot. Lemari pakaian, rak, dan peralatan masak. Fungsi-fungsi tempat tidur, dapur, juga ruang tamu tumplek dalam ruangan 2×3 meter itu.

Suminarni merogoh saku celananya. Ada uang seribu, sisa ia membeli sayuran pagi tadi. Ia meraih sebuah box dari rak. Transparan, dengan garis-garis berwarna hijau muda memenuhi sisi-sisinya. Serupa celengan uang, namun di bagian depan tertulis ‘Daily Sedekah’. Ia tersenyum. Kotak sedekah itu sudah mulai penuh. Bayangan bisa berbagi pada yang membutuhkan tergambar di pelupuk matanya.

Baginya, sedekah serupa membagi harapan hidup dengan orang lain. Ia memang bukan orang kaya, yang bangga menenteng tas seharga ratus jutaan. Untuk makan saja Suminarni harus berhemat! Banyak pula kebutuhan hidup yang harus diprioritaskan, misalnya uang sewa kontrakan yang saat ini ia tinggali. Lalu kenapa?  Bukankah sedekah tidak hanya diperuntukan bagi orang kaya? Keinginan berbagi Suminarni toh tak hancur tergerus rintangan hidup.

Sejak kecil, ia kerap diajari memberi oleh orangtuanya. Berbagi kebahagiaan, baik berupa uang atau makanan, dengan saudara-saudaranya walau sedikit. Kian lama ia tumbuh dewasa, kebutuhan ekonomi mereka tak bisa dikatakan baik. Pun ketika menikah dengan Ikin Sodikin, suaminya. Ia yang lama menetap di Cilacap akhirnya diboyong ke Bandung demi mencari penghidupan yang lebih baik. Berharap bisa mendapat upah hasil jerih payah untuk dikirim ke kampung halaman.

Penanaman orangtuanya tentang sedekah itu terus membekas di hati Suminarni. Tak hanya berbagi dengan keluarga, namun secara luas pada masyarakat yang lebih tak beruntung darinya. Sebab itu, saat ada yang menawari konsep derma melalui kotak Daily Sedekah, ia langsung menerimanya.

Awalnya, ia terkesima saat seorang ustaz menyampaikan materi keutamaan sedekah di Majelis Taklim Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) yang dia ikuti. Mendapat syafaat, terhalang dari api neraka, pahala yang mengalir, dan lainnya. Sebegitu banyak kah ganjaran berlipat-lipat yang akan ia terima dari-Nya?

Bersemangat, ia mengambil salah satu dari kotak-kotak Daily Sedekah itu. Jika kotak telah penuh, uang tersebut ia berikan pada lembaga Sinergi Foundation, yang nantinya akan mereka salurkan ke masyarakat membutuhkan melalui program sosial dan pemberdayaan masyarakatnya. Suminarni pulang ke rumah dengan perasaan tak sabar menjelaskan tentang kotak Daily Sedekah pada suami dan anak pertamanya.

“Kalau ada sisa uang, receh pun tak apa, masukkan ke kotak ini. Nanti kalau sudah banyak, akan dipakai untuk membantu orang-orang yang membutuhkan,” katanya semangat. Dua orang di hadapannya menyimak antusias. Suminarni pun menjelaskan ulang materi sang ustaz, tentang kelapangan hati yang didapatkan orang-orang yang bersedekah.

Sebenarnya, kalau Suminarni mau menengok ke kehidupannya, ia bisa saja dengan egois menolak bersedekah. Suaminya hanyalah buruh sablon, dengan gaji Rp300.000 perminggu. Untuk menghidupi empat orang anggota keluarga, bayar sewa kontrakan, juga keperluan sekolah anak, tentu pas-pasan. Sering jika terdesak, mereka terpaksa tak mengirim uang ke kampung halaman mereka.

Bahkan, merunut finansial keluarga Suminarni satu tahun lalu, mereka kekurangan uang untuk persalinan si bungsu. Pada akhirnya, ia mendaftarkan diri sebagai mustahiq di Rumah Bersalin Cuma-Cuma. Ia terbantu. Suminarni bersalin tanpa perlu mengeluarkan biaya.

Namun, di tengah kegembiran atas lahirnya puteri mereka, Allah memberikan ujian. Pasca kelahirannya, bayi mereka sakit-sakitan, terindikasi menghisap air ketuban saat dalam kandungan. Ia terpaksa diinapkan di salah satu RSU Pajagalan. Dua belas hari puteri mereka dirawat, bukan main kagetnya mereka melihat tagihan yang diterima. Sembilan juta.

“Saya tak punya uang sebanyak itu. Akhirnya, keluarga saya di kampung datang, memberi sedikit bantuan,” kisahnya. Suminarni dan Ikin pun membatalkan rencana cukuran puteri mereka. Uangnya, ditambah hasil pinjaman dan pemberian keluarga, dipakai untuk menutup biaya perawatan sang anak di RS.

Sekali lagi, andai ia tak mengambil kotak Daily Sedekah, tentu kelihatannya akan lebih mudah. Uang sedekah itu bisa mereka pakai untuk kehidupan mereka.  Tapi tidak. Suminarni tetap mengambil kotak itu, tanpa sedikitpun terbersit perasaan, bahwa sedekah akan memberatkan hidup mereka.

“Tak apa, uang masih bisa dicari lagi. Kan Allah yang Maha Pemberi. Rezeki lebih sedikit pun, harus tetap dibagi, jangan dimakan untuk sendiri,” katanya. Pun, ia menuturkan, ia tak mengharap apapun dari sedekah yang ia berikan. Semata karena ingin menabung pahala, dan beribadah dengan baik pada-Nya.

Maka terus terisilah kotak sedekah itu. Ia kerap menyisihkan uang belanja hariannya. Begitu juga dengan sang suami. Dari sisa uang makannya di tempat sablon, Ikin bisa bersedekah karena ia tak merokok sebagaimana kawan-kawannya yang lain. Barang sekadar seribu, dua ribu, mereka masukkan ke dalam kotak tersebut.

Dan sebagaimana yang diajarkan orangtuanya, Suminarni pun mengajak putra sulungnya yang masih menginjak kelas 4 SD untuk bersedekah. Ia sering meminta anaknya agar tak langsung menghabiskan uang saku. Meski receh, Fikri, putranya  itu, sering pula memenuhi kotak Daily Sedekah.

Seperti yang dijanjikan Allah pula, Suminarni merasakan hatinya menjadi lapang. Ditambah, perasaan bahagia karena bisa berbuat baik. Uang-uang yang disedekahkan tak menyempitkan keluarga mereka. Allah tak pula membuat mereka merasa berkekurangan. Dengan rezeki yang diperoleh, Suminarni sudah merasa bersyukur.

“Kalau rezeki yang ada dikatakan tak cukup, kita tidak bersyukur. Selama ini, saya merasa cukup,” tukasnya. [agh]

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.