Kisah Member RBC, Menyulam Syukur di Jalan Ketabahan

 

Namun Allah Maha Pengasih lagi Penyayang, di tengah ujian itu selalu ada ceruk jalan keluarnya, bak setangkup air segar di cawan yang usang. Momen itulah yang mempertemukan Nur Salam dengan RBC. Ia direkomendasikan tetangganya untuk melahirkan di program sosial milik Lembaga Sinergi Foundation tersebut.

SF-UPDATE,– Tak ada yang mendamba saat berumah tangga mesti membesarkan buah hati seorang diri. Menjadi single parent tentu bukan keinginan. Namun apalah daya ketika tantangan kehidupan mengharuskan kita untuk menjadi ibu sekaligus pencari nafkah.

Bertolak ke Bandung pada tahun 2010 bersama suaminya, untuk memenuhi biaya sehari-hari, perempuan ini ‘melamar’ menjadi pengrajin. Hey, pembaca, jangan dibayangkan sebuah pekerjaan yang besar dan menghasilkan jutaan rupiah. Di bilangan Kopo, ia bekerja di sebuah usaha kecil yang memproduksi keset. Sebabnya tiada lagi keahlian yang ia punya.

Kehidupan inilah yang mesti dijalani salah seorang member dari Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC), Nur Salam dalam menghidupi keenam buah hatinya. Di momentum Oktober yang gemericik, Tim Newsroom SF berkesempatan berbincang hangat dengan perempuan asal Sulawesi Selatan itu.

“Saya ini anggota RBC, pernah melahirkan di sini dua kali, karena tidak memiliki uang,” ucap Nur Salam mengawali obrolan.

Hal itu terjadi bukan tanpa sebab, kehidupan sederhananya sedang diuji. Suaminya yang entah ke mana silap pada dunia. Masih terus mengejar bonus puluhan juta rupiah yang dijanjikan hanya dari sebuah pesan singkat.

Padahal Nur Salam selalu mengingatkan suaminya bahwa itu hanyalah penipuan.  Tak sampai pikir, hal tersebut membuat suaminya melupakan tanggung jawabnya sebagai penopang keluarga.

Alih-alih mendapatkan apa yang diinginkan, hartanya terus tergerus. Penghasilan tak seberapa itu pun kian terkikis. Akibatnya, kehidupan gali lubang tutup lubang terpaksa ia jalani, demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Awal-awalnya suaminya juga bekerja sebagai guru privat mata pelajaran Bahasa Arab dan agama. Namun ke sini-sini, Nur Salam pun tak tahu pekerjaan apa yang dilakukan suaminya itu. Hingga kekinian pun, tak dikenal rimbanya. Di tengah tanpa kabar itu, memang suaminya suka pulang, lalu pergi lagi. Namun, Nur Salam dengan sabar menerima kondisi tersebut.

Melihat kondisi ini, tak bisalah ia menopang dagu seorang diri di rumah. Kebutuhan anak-anaknya mesti ia penuhi. Setelah bekerja di pengrajin keset di bilangan Cigondewah, ia pun mendapatkan pekerjaan serupa di tempat yang lain. Selama setahun itu, ia bekerja di dua tempat. Enam bulan di tempat pertama, sisanya di tempat yang kedua.

Dari hasil menganyam kesetnya itu, Nur Salam mendapatkan uang sebesar 5.000 per hari. Uang ini hanya cukup untuk makan sehari-hari. Berbeda di tempat yang keduanya, ia yang mulai disibukan dengan urusan rumah tangga, mulai mengurangi produktivitasnya menghasilkan kerajinan keset. Otomatis berkurang pula pundi rupiah yang masuk ke sakunya.

Apalagi di tengah kondisi yang sulit itu, Nur Salam mengandung anaknya yang kelima. Pikirannya melarung begitu luas, ke manakah ia harus melahirkan buah hatinya ini. Bulan demi bulan berganti, melipat serupa penantian yang menyublim menjadi rasa takut.

Namun Allah Maha Pengasih lagi Penyayang, di tengah ujian itu selalu ada ceruk jalan keluarnya, bak setangkup air segar di cawan yang usang. Momen itulah yang mempertemukan Nur Salam dengan RBC. Ia direkomendasikan tetangganya untuk melahirkan di program sosial milik Lembaga Sinergi Foundation tersebut.

“Tak usah hirau dengan biaya, karena RBC gratis untuk kaum yang papa,” kata Nur Salam sambil mengungkapkan kembali perkataan tetangganya itu.

Setelah melalui serangkaian proses kelengkapan surat tak mampu dan peninjauan lokasi, Nur Salam pun akhirnya resmi menjadi member RBC. Sedikit berkuranglah beban di pundaknya. Tak lama kemudian, lahirlah anaknya yang kelima dengan selamat.

Silaturahim dengan RBC pun bukan sebatas itu. Nur Salam kepincut pada program pemberdayaan kaum papa dengan pelatihan menjahit. Namun jarak yang cukup jauh membuat ia sedikit kepayahan mengikuti ritme waktu pelatihan. Ia harus menyisihkan 10 ribu untuk ongkos. Baginya, uang sebesar itu adalah nafas kehidupannya. Sangat berat bila harus terpakai oleh biaya perjalanan ke RBC.

Akhirnya ia membuka obrolan dengan pihak RBC, dan pada saat itu, Nur Salam direkomendasikan ke sebuah lembaga tahfiz yang dekat di area sebagai solusi agar ia bisa ikut pelatihan menjahit.

Alhamdulillah, dari lembaga sangat terbuka menerima saya dan anak-anak. Kami diberi tempat tinggal dan makan,” lanjutnya.

Sebagai ‘gantinya’, Nur Salam diminta untuk sedikit menyisihkan tenaganya membantu kebersihan di lembaga tahfiz tersebut. Sekadar mencuci dan merapikan barang-barang di sana. Girang bukan main, Nur Salam mendapatkan tawaran tersebut. 

Nur Salam mengaku seperti mendapatkan angin segar. Di tengah kegirangan itu, suaminya kembali muncul dan mencarinya. Nur Salam pun meminta izin kepada pengurus lembaga tahfiz agar suaminya bisa menetap. Dengan alasan agar bisa membantu dalam pengajaran sekolah, khususnya mengajar Bahasa Arab.

Waktu terus berlipat menjadi masa lalu. Hari-hari Nur Salam mulai berubah. Apalagi dengan kehadiran suami di sisinya. Namun entah apa yang ada di benak suaminya itu, meski dengan bantuan yang demikian, tak sampai pikir, ia masih keluyuran tidak jelas. Di saat keluyuran itulah, Nur Salam kembali dikaruniai anak keenam di tahun 2014.

“Saat pergi ke RBC, dari merekanya mensyaratkan bisa melahirkan di sini asal didampingi suami,” kisah Nur Salam mengenang.

Saat ia menelepon suaminya dengan alasan demikian akhirnya suara di seberang sana mengangguk untuk menyanggupi. Namun, pembaca, tak berselang berapa lama suaminya tak kembali ke rumah melainkan menghilang lagi tak terlihat batang hidungnya. Astaghfirullah..

“Saya mau minta cerai sebenarnya, tidak ingin digantungkan seperti ini. tapi saya kasihan ke anak-anak. Jadi sebetulnya saya ini dilema,” jawab Nur Salam saat ditanya hubungannya dengan suaminya saat ini.

Di lembaga tahfiz itu sendiri Nur Salam pun diberikan penghasilan. Waktu awal-awal ketika tugasnya masih banyak, dalam sebulan ia diberi 300 ribu selama setahun rutin. Namun, ketika ia sudah disibukkan dengan tugas mengurus anaknya, tugas di lembaga pun sedikit berkurang, otomatis penghasilan pun tidak seperti sebelumnya. Kendati demikian ia masih tetap bersyukur bisa tinggal di sana. []

 

Penulis : Senandika Maharevin

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.