[Kisah Haru Member RBC] Hingga Bernafasnya Sang Buah Hati…

Ia sedang di pabrik. Bekerja menyortir barang-barang konveksi. Naik-turun tangga membawa benda berat, tanpa peduli kondisi janin di perut. Atau tepatnya, terpaksa tak acuh dengan bakal calon buah hati. Pikir Lisnawati sederhana: kalau ia tak bekerja, bagaimana ia akan menghidupi sang darah daging kelak?

Masalah ekonomi telah menjerat sedemikian rupa. Pekerjaan fisik itu yang dilakoni, meski diwanti-wanti bidan yang merawat Lisnawati agar tak berlebihan. Tapi justru, terpaksa di usia ketujuh kandungan, Lisnawati masih ‘bandel’ bekerja. Kadang, meski sudah terasa sesak, ia memaksakan diri bergerak. Beradu dengan hiruk pikuk pabrik.

Lalu tiba-tiba, ada air merembes deras keluar dari bawah celana. Lisnawati menahan nafas, mencoba tak panik. Ada apa ini? Terjadi sesuatukah dengan kandungannya? Bukankah persalinan dua bulan lagi? Jantung Lisnawati berdegup kencang. Semakin mencoba tenang, perasaannya jadi tak keruan.

Teman-teman wanita di pabrik itu memapah Lisnawati perlahan. “Ketubanmu pecah duluan,” kata mereka. “Lebih baik segera bawa ke bidan.”

Mereka membantu menghubungi sang suami. Tak perlu berlama-lama. Lisnawati segera memohon izin meninggalkan pabrik lebih awal. Ia tahu harus menuju ke mana. Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC), sebuah tempat layanan kesehatan pratama bagi para ibu dari golongan papa.

Lisnawati kembali mengingat masa-masa di belakang. Sejak usia kandungan tiga bulan, Lisnawati telah mendaftarkan diri sebagai member RBC. Seorang teman menganjurkan ia ke sana. Karena memang, keuangan keluarganya sulit. Sang suami, Yusup, hanya buruh lepas dengan penghasilan tak tentu. Dalam satu hari, belum tentu ia pulang membawa nafkah.

Pun pekerjaan Lisnawati sebagai pekerja pabrik, tak banyak menjanjikan. Ia harus mencari cara agar persalinan kedua ini berjalan lancar, dan tentu sedikitnya melegakan leher yang lama tercekik biaya hidup melangit.

Ada banyak yang ia dapatkan di RBC. Layanan kesehatan? Tak perlu ditanya. Secara rutin, ia diharuskan memeriksakan diri atau sekadar ikut senam hamil. Atau, petugas sana akan membagikan makanan gratis. Misal, bubur kacang. Lumayan, bisa mengganjal perut yang keroncongan.

Tapi tidak, maksudnya lebih dari itu. Di sana, ia disirami secara spiritual. Diperdengarkan kalam-kalam suci, juga gelaran kajian Islam setiap bulan. Kegiatan yang membuat Lisnawati tentram.

Dan kini, di sanalah ia berada. Di sebuah ruangan sejuk, Al Ma’tsurat dan ayat suci mengudara. Menunggu kelahiran sang buah hati, ditemani sang suami yang ikut tergopoh-gopoh karena panik. Bidan telah memberikan asupan yang diperlukan, juga menginfus Lisnawati.

“Kemungkinan infeksi. Bisa jadi karena sanitasi yang tak terjaga atau kekebalan tubuh buruk karena gizi kurang, sehingga mudah infeksi,” kata dokter. “Nanti (selepas pecah ketuban), akan membuat perut berkontraksi.”

Namun anehnya, ia tak merasa mulas. Bahkan hingga tiga hari berada dalam perawatan bidan RBC, sakit perut yang ditunggu itu tak kunjung muncul. Begitulah, hingga bidan mengizinkan Lisnawati pulang.

Qadarullah, rupanya ketika menghenyakkan diri di bangku angkot, mulas itu justru mulai datang. Lagi-lagi panik membayang di wajah Lisnawati dan Yusup. Keduanya turun dari angkot, bergegas kembali ke RBC. Di sana, bidan segera sigap menanganinya.

Di sanalah, bayi bernama Ahmad Maulana Habibie itu hadir di dunia. Ada rasa haru saat melihat putra yang dinanti itu. Tapi, usai persalinan, perasaan bahagia itu langsung berbaur sedih. Darah daging yang terlahir prematur itu, beratnya hanya 1,6 kilogram. Tapi ada satu hal yang membuat bibir Lisnawati bergetar, tangis tak berhenti tumpah. Sang buah hati ternyata tak bisa bernafas.

Awalnya, ia heran mengapa putranya itu tak mengeluarkan tangis, bahkan tak bergerak. Bidan telah mengambil alat bantu oksigen, namun sang bayi bergeming. Lisnawati mencelos, separuh jiwa seakan terenggut. Air mata tak mau berhenti membanjiri pipinya. Di samping Lisnawati, sang suami nampak sama kalut.

“Bu, bayinya harus dirujuk ke rumah sakit. Peralatan medis di sana akan lebih lengkap,” kata bidan. Ia tak mengerti, tapi Lisnawati hanya mengangguk-angguk. Cara apa saja, tolong, yang penting putraku selamat…

Dengan ambulans RBC, sang buah hati diboyong ke sebuah RS tak jauh dari rumah. Ada satu dokter dan satu bidan yang menemani, membantu mengurus segala keperluan. Akan tetapi, sampai di sana, tak ada alat medis yang perlu dipakai sang bayi. Lisnawati sudah lemas, khawatir dengan kondisi putranya.

Tapi mereka tak boleh larut dalam kekecewaan. Ambulans itu kembali melaju, meraung-raung di tengah padatnya kota. Mereka menuju RS di Pajagalan. Derap langkah cepat bidan dan dokter yang mengiringi Lisnawati kembali terdengar. Namun, setelah lama bertanya dan mengurus sana-sini, lagi-lagi, pil pahit harus ia telan. Tak ada ruangan kosong.

Mereka tak mau berputus asa, bergegas menuju RS Hasan Sadikin. Di sana pun, hingga berlipat-lipat kekecewaan ia cecap. Bayinya tak mendapat ruang. Semua penuh. Lisnawati dan sang suami mulai bersusah hati. Peluh sudah bercucuran, tapi tak ada RS yang bisa merawat putra keduanya.

“Bu Lisnawati, kita kembali ke RBC. Biar bayinya kami rawat. Namun kami tekankan, peralatan medis yang ada belum selengkap di rumah sakit. Tapi kami bisa berikan oksigen dan merawatnya dalam inkubator,” sayup-sayup suara dokter terdengar di tengah tangis Lisnawati. Lagi, ia mengangguk.

Begitulah, bayi kecil bernama Ahmad Maulana Habibie itu kemudian dirawat secara intensif di RBC. Setiap hari, siang malam, Lisnawati ikut menjaga sang putra. Memandanginya dari balik inkubator. Ayat-ayat suci yang mengalun, mengiringi setiap doa yang ia panjatkan untuk buah hati.

Sang suami dan putrinya, kerap menemani usai menyelesaikan pekerjaan dan sekolah. Malam hari, keduanya akan pulang ke kontrakan. Tapi lambat laun, entah karena keinginan menggebu untuk selalu bersama keluarga, juga rasa ingin melihat setiap perkembangan bayi kecil mereka, akhirnya ayah beranak itu ikut menetap dengan Lisnawati.

Satu dua hari, dokter memantau pernafasan putranya itu. Sampai menginjak genap satu bulan, buah hati Lisnawati disebut telah bernafas dengan normal. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Syukur tak lepas menggumam dari bibir Lisnawati. Keluarga kecil itu akan segera berkumpul kembali.

Usai dirawat pun, ia tetap memeriksakan diri ke RBC setiap dua minggu sekali. Memastikan darah dagingnya itu senantiasa dalam kondisi yang sehat. “Saya selalu berdoa, agar putra saya bisa terus sehat hingga ia besar nanti. Dan semoga, ia menjadi anak yang bermanfaat,” harapnya.

Lisnawati bahagia, akhirnya ia bisa menggendong, dan memberi sang putra ASI sepuas hati. Setelah melahirkan, ia tak lagi bekerja. Lisnawati curahkan semua waktu untuk bayi dan keluarga. Ia tak khawatir soal rezeki, semua diserahkan pada-Nya. Lisnawati tahu sang suami telah bekerja keras, dan Sang Maha Pemberi Rizki pasti akan membalas setiap keringat yang ditorehkan.

Reporter: Aghniya

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Ada yang bisa Kami bantu?