Ketua FOZ Nilai Pengelolaan Zakat Perlu Dikolaborasikan Secara Aktif

SF-UPDATES,– Dari data riset BAZNAS pada 2011, potensi zakat Indonesia mencapai 217 triliun rupiah. Namun dalam realisasi, angkanya sama sekali tak menyentuh 5 persen dari potensi. Menurut ketua Forum Zakat, Nur Efendi, ini merupakan PR besar bagi bangsa ini. Ia menjelaskan, perlu dicari cara sinergi dan kolaborasi, agar potensi bisa terserap 100 persen, dan terasa kebermanfaatannya.

Ia pun mengusulkan sejumlah tawaran-tawaran kolaborasi, yang diajukan dalam acara World Zakat Forum 2017, 15-16 Maret 2017 lalu. Ia menilai, sinergi antar lembaga saja tidaklah cukup. “Kita perlu memperluas sinergi ini. Maka saya usulkan beberapa hal yang mengolaborasikan pemerintah, akademisi, lembaga filantropi, dan bisnis,” katanya.

Pertama, bersama pemerintah, ia menawarkan perlu ada blue print bersama tentang pengelolaan zakat di Indonesia. Jadi, katanya, antara Kemenag, BAZNAS, dan LAZ kesepakatan yang harus kita jalankan dan inilah yang menjadi panduan dan acuan. Kalau masing-masing berbeda, ia menilai ini bisa merepotkan, sebab selamanya lembaga-lembaga yang giat di filantropi itu tidak akan bertemu di satu titik.

Lalu, ia juga mengusulkan regulasi yang support memberantas ketimpangan ekonomi, terutama yang terkait dengan kemiskinan struktural. Problema ini, katanya, adalah dampak dari kebijakan, maka perlu ada regulasi yang mendukung pertumbuhan zakat, sebagai salah satu solusi permasalahan ekonomi Indonesia.

Kedua, bagi pakar dan akademis, ia usul untuk melakukan asessment kompetensi lembaga. “Ini penting, supaya tahu di manakira-kira suatu lembaga core dan kompetensinya, sehingga kita bisa saling menguatkan satu dengan yang lain.” jelasnya.

Ia juga menyarankan para pakar filantropi melakukan evaluasi, analisis, dan rekomendasi program yang berkelanjutan. “Masih banyak program yang sifatnya masih charity, kita perlu program-program yang strategis dan yang berkelanjutan,” kata Nur Efendy.

Untuk lembaga filantropi sendiri, ia berujar perlu ada peningkatan kapasitas lembaga dan amil untuk menunjang profesionalitas. Hal ini, katanya, tengah digodok dan akan segera diterapkan.

Lembaga-lembaga ini pun harus berkolaborasi global. “Jadi saya usulkan, di World Zakat Forum ini, mari bersepakat membantu negara yang kelaparan berat. Ada 20 juta masyarakat muslim yang menanti bantuan kita. Kita kesana, kemudian bersama membantu saudara yang ada disana,” katanya.

Lalu terakhir, ia mendorong agar LAZ mempublikasikan portofolio program lembaga ke publik. Ini, katanya, bentuk dari transparansi dan report kepada publik, juga bagian dari akuntabilitas lembaga.

“Saya mendorong, mari share setiap program kita ke publik. Selain transparansi, kita biasakan memproses upaya sosialisasi kita kepada masyarakat terkait zakat,” pungkasnya. (agh)

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Ada yang bisa Kami bantu?