Jumat di Paru Keude

SF-UPDATE,– Berkesempatan tunaikan shalat Jumat berjamaah diantara reruntuhan puing-puing Masjid Jami' Nur Abdullah, Paru Keude, Banjar Baru- Pidie Jaya, Aceh, 23 Des 2016, rasa hati ini campur aduk. Saat menoleh ke samping kiri,  serpihan bangunan yang bertumpuk itu membuat dahi ini berkernyit sembari geleng-geleng kepala, lalu mengusap dada. Allaah, betapa dahsyatnya efek gempa 6.4 SR, yang menghentak Serambi Mekah jelang Subuh, 7 Desember 2016 lalu itu. 

Pandangan lantas beredar ke sekitar. Perlahan, satu per satu jamaah warga sekitar Banjar Baru mulai memenuhi shaf yang tersedia.

Teringat cerita Ibrahim, Muadzin masjid Nur Abdullah, pagi tadi, saat tim Sinergi Foundation (SF) bersilaturahim bersama pengurus Masjid yang ambruk itu. "Baru saja speaker dipersiapkan untuk ingatkan jamaah, bahwa waktu subuh sudah dekat. Tiba-tiba bumi bergetar, menghentak-hentak bangunan masjid!"

Ibrahim belum sempat berlari. Listrik seketika padam. Material bangunan masjid mulai berjatuhan. Menurut saksi mata di luar, menara di sudut masjid ambruk menimpa rumah Allah di samping kanan Jalan Raya Medan – Banda Aceh arah Medan itu. Beruntung di saat-saat yang begitu pekat, ia nekad menerobos reruntuhan, sambil terus berzikir memohon ampunan.

Ibrahim selamat, meski masjid Nur Abdullah, tempat ia selama ini menjadi muadzin, tak lagi berdiri tegak seperti sedia kala. Fisik bangunan masjid ambruk. Yang tersisa tinggal kenangan.

Pagi itu pula Ibrahim seperti diingatkan, saat muncul satir dalam diskusi, "Tsunami 2004, meskipun guncangan dahsyat berskala 8,9 SR, tapi masjid tak bergeming dilibas gelombang. Kemarin Gempa Aceh 6.4 SR, banyak masjid yang ambruk seketika. Termasuk Masjid Nur Abdullah. Pertanda apa ini dari Allah?"

Dan hari ini, Ibrahim ada di antara jamaah shalat Jumat, yang digelar dalam kondisi darurat, di tengah-tengah puing reruntuhan Masjid.  Shalat Jumat kali ketiga, paska gempa.

Ia menyimak dengan khusyuk pesan khatib, Ustadz Ridwan dalam khutbahnya. Bahwa peristiwa gempa yang baru saja terjadi pada dasarnya adalah bagian dari ujian Allah. Khatib mengingatkan, bahwa jangan sampai berhenti berpikir pada peristiwa gempanya saja, melainkan cobalah renungkan ada apa di balik ujian gempa yang terjadi.

"Jangan sampai kita takut pada goncangan gempa, tapi sama sekali tak gusar jika iman kita yang tergoncang. Padahal itulah harta yang teramat berharga untuk bekal kita nanti," jlebb, pesan ustadz Ridwan begitu menyentuh, sekaligus mengingatkan. 

Pasca gempa, masyarakat sekitar Paru Keude, terpaksa shalat Jum'at di halaman masjid, di antara puing-puing rumah Allah yg masih berserakan. Saat tim Sinergi Foundation (SF) bersilaturahim ke lokasi, dan menyampaikan gagasan "Masjid (Sederhana) Ramah Gempa", masyarakat begitu antusias. Sedianya, pilot project Masjid (Ramah) Gempa akan dilakulan di Trienggading. Namun lantaran beberapa pertimbangan non teknis, akhirnya SF putuskan untuk mengalihkan ke Paru Kedue.

Hari itu juga, selepas shalat Jumat, material bangunan masjid berupa: batu bata, baja ringan, papan, dan kelengkapan lainnya siap sedia di samping lokasi. Termasuk relawan SF yang sedianya akan bekerja tak kenal lelah, agar Masjid (sederhana) Ramah Gempa segera tampak wujudnya.

Betapa Masjid begitu penting artinya. Dari sana, spirit kebersamaan dalam bingkai ukhuwah, terjaga. Menjadikan asa tetap menyala di tengah ujian Allahu Ta'ala, berupa gempa yang baru saja mendera. Wallahu a'lam

Salurkan kepedulian Anda via Program "Membangun Masjid, Membangun Kehidupan."

Mari bergabung bersama kami, membantu meringankan beban saudara kita yang sedang ditimpa musibah. Peduli kita, ringankan beban mereka.
 

Salurkan donasi kemanusiaan Anda ke:

BCA 008 305 3485

BNI Syariah 9255 3468

Mandiri 13000 7004 2000

Mandiri Syariah 700 5463108

Bank Muamalat 116 000 1931

a.n Sinergi Foundation
 

Call Center 0851 0004 2009

www.sinergifoundation.org

 

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.