ÔÇ£Hampir Saja ÔÇÿRBCÔÇÖ Saya Berikan pada Orang LainÔÇØ

SF-UPDATE,– Memiliki lima anak dalam kondisi ekonomi yang sangat karut marut, terbayang bagaimana beratnya menjalani kehidupan yang demikian. Belum soal cibiran sana-sini sebab suami tak juga mendapat panggilan pekerjaan. Di tengah kondisi demikian, Allah hadirkan calon buah hati yang saat itu masuk usia dwisemester kehamilan.

Sepenggal kondisi itulah yang dirasakan Ira Astika Dewi kala almanak menginjak di tahun 2005 silam. Menurutnya, itu juga adalah bagian dari lipatan episode tersulit dalam hidupnya.

Sambil terisak, Ira bercerita, demi mengais sepiring nasi, Ira kemudian berjualan lotek. Di tengah perutnya yang kian membesar, tangannya dengan lincah menggerus bumbu di atas cobek batu. “Oleh hal penghasilan saya yang tak tentu, tak jarang saya mesti menekan rasa malu untuk tak menolak pemberian nasi sisa dari tetangganya yang iba,” ucapnya, saat ditemui di bilangan Dipatiukur Bandung di awal April 2017.

Dari semua kondisi yang harus ia hadapi itu, ada satu pikiran yang mengusik batinnya. Apalagi kalau bukan soal biaya melahirkan sang buah hati. Ia bingung setengah mati, ke mana harus mengiba bantuan. Di era itu, biaya persalinan normal sekira 500 ribu hingga satu juta rupiah. Dari mana ia menggenggam uang sebanyak itu.

Sang suami tercinta juga bukan tumpah tindih tanpa perih. Selama terjangkau dan bisa ia lakukan plus pekerjaan yang halal, tak sungkan kan dilakoninya. Namun memang permintaan tak senantiasa datang saban hari, tetap saja ia kelimpungan menunggu dan mencari orderan.

Sampai suatu ketika, di ujung tenggorokan rasa putus asanya, tawaran itu datang. Seolah adalah solusi namun menyisakan selaput kegamangan sebagai seorang ibu. Kakaknya pernah berujar, kalau memang Ira merasa berat dan tak sanggup untuk mengurus anaknya kelak, ada seorang dosen di sebuah kampus ternama yang siap menerimanya. Berapapun biaya persalinannya. 

“Hati saya gamang. Di satu sisi dengan kondisi saat itu saya merasa tak mampu untuk sekadar melahirkan. Di lain hal, sebagai seorang ibu, bila hal itu terjadi, tentu akan menjadi tekanan batin seumur hidupnya,” kata Ira.

“Iya kalau saya masih bisa melihatnya. Bagaimana kalau sebaliknya. Jangankan menatap dari kejauhan, kalau mendengar rimbanya saja tak kasat di telinga, bagaimana?,” lanjutnya.

Namun Ira tak punya pilihan lain. Menghidupi kelima anaknya saja sesak nafasnya setengah mati. Ini mau ditambah satu lagi. apalagi kebutuhan bayi juga bukan barang enteng.

Sambil menahan ragu, ia akhirnya sempat mengiyakan tawaran itu. Walaupun belum sampai pada proses transaksi, kenal dengan orangnya saja belum.

“Saya terus berdo’a kepada Allah. Bila memang Ia masih memberikan setangkup kepercayaan untuk mengurus buah hatinya kelak, saya berharap diberikan jalan keluarnya,” ucapnya.

Doa yang ia panjatkan saban waktunya, Allah jawab dengan cerita yang tak dinyana. Tatkala ibunya tengah jalan-jalan, sekelebat ia membaca spanduk bertuliskan Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC) yang saat itu masih beralamatkan di Jalan Holis No 127.

Lamat dibaca, ragam tanya pun bermunculan di benaknya. Benarkah gratis? Tapi kemudian ia berpikir untuk tak ada salahnya mencoba mencari tahu lebih dulu. Maka, ia segera memberi tahu Ira untuk datang ke RBC, dengan harapan bisa memetik setitik jawaban itu.

“Di usia kandungan saya yang sudah tujuh bulan, saya kemudian survei. Karena tak punya kendaraan, Ira berinisiatif untuk meminjam barang sejenak motor punya tetangganya,” cerita Ira.

Lokasi yang strategis membuat Ira tak kesulitan menemukan RBC, bangunan yang cukup luas dengan warna hijau meneduhkan pandangan. Bukan hanya itu, mengurus persyaratannya pun terbilang mudah.

“Saat diwawancara pihak RBC, saya ceritakan semua kondisi saya yang sebenarnya. Mulai dari suami pengangguran hingga rencana akan diambilnya anak ketika lahir nanti,” terang Ira.

Di sisa-sisa usia kehamilannya, Ira rasakan betul bagaimana profesionalnya dokter dan bidan saat menangani pasien. Meski nirbiaya tapi pelayanannya begitu maksimal. Bahkan lebih baik bila disandingkan dengan rumah bersalin atau rumah sakit serupa.

“Saya betul-betul terenyuh dengan kebaikan mereka, tanpa membeda-bedakan pasien dengan sabar RBC melayani dan memberikan edukasi terhadap saya. Belum saya temukan di tempat lain,” kenangnya.

Dengan diterimanya Ira sebagai member RBC, pupuslah segala gundah yang membebani pikirannya selama ini. Ketika tangisan itu pecah, saking merasa terbantu dengan keberadaan RBC, sebentuk rasa terima kasih, ia sematkan nama RBC pada anak bungsunya itu.

Alhamdulillah dede lahir dengan normal dan selamat. Atas inisiatif keluarga terbitlah nama Razak Braja Cakti (RBC), diharapkan ia tumbuh menjadi lelaki yang diberikan limpahan rizki dan kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup,” tandas Ira.

Kehadiran Razak seolah menjadi gerbang rezekinya. Kehidupan Ira dan keluarga mulai menapak layak. Sang suami pun akhirnya bekerja sebagai tukang parkir di sebuah mall di bilangan Dago. Ia tak lagi menumpang di orang tua, bisa menempati rumah sederhana sambil berjualan cemilan ringan.

Di selang waktu, penuh bangga ia ceritakan kepada Razak tentang RBC. Hal ini membuat Razak juga memikul nama ‘RBC’ dengan penuh kebanggan.

“Dede saya ceritakan kenapa nama akhirnya Cakti bukan Sakti. Karena dia lahir di RBC. Saya menanamkan agar dia bangga menyemat nama RBC. Karena memang keberadaa RBC begitu sesuatu. Kalau tidak ada RBC, mungkin jalan ceritanya akan berbeda. Hampir saja, saya memberikan ‘RBC’ pada orang lain,” tutupnya sambil tersenyum. []

(Maharevin/SF-Newsroom)

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.