kurban, green kurban, penghijauan, bumi

Green Kurban, Berbagi Sembari Cegah Bencana

Biasanya kegiatan berkurban hanya dilakukan dengan memotong hewan dan membagikannya kepada masyarakat. Namun di Jawa Barat, sebuah lembaga filantropi menjadikan kurban sebagai usaha menghijaukan bumi.

Dengan mengusung tema “Green Kurban”, dari seekor hewan yang dikurbankan, turut ditanam satu buah pohon.

CEO Sinergi Foundation Ima Rachmalia mengatakan ide Green Kurban ini berawal dari maraknya kerusakan lingkungan di Indonesia.

Ima menyoroti meningkatnya permasalahan lingkungan di tingkat global, termasuk kerusakan hutan di Indonesia.

Di Garut, misalnya kata Ima, kerap terjadi alih fungsi lahan. Hal ini mengakibatkan terjadinya banjir bandang dan tanah longsor.

Ima mengatakan lembaganya mulai melakukan terobosan Green Kurban pada tahun 2013

Sejak saat itu, 20.501 bibit pohon kini ditanam guna menghijaukan bumi dan mencegah bencana. Sementara penyebaran hewan kurban sudah menyapa masyarakat membutuhkan di pelosok Indonesia, bahkan hingga Palestina dan Suriah.

Saat memulai Green Kurban, kata Ima, lembaganya fokus menanam benih pohon-pohon produktif di pesantren.

Jenis pohon yang ditanam di antaranya nangka, sawo, jambu batu, jambu bangkok, jambu air, durian, mangga, rambutan, petai, dan sukun.

“Rara-rata tumbuh pohon hingga panen mencapai 1 tahun,” terang Ima.

Penyebaran pohon produktif ini dilakukan di 10 pesantren di Bandung, Purwakarta, Garut, Subang, Sukabumi, Cianjur, Sumedang, Majalengka, Ciamis, dan Tasikmalaya.

Tanam bambu cegah bencana

Seiring waktu, Sinergi Foundation mulai mengembangkan konsep Green Kurban dengan kampanye menanam pohon bambu.

Hal ini tidak lepas dari banjir bandang yang mengempas Kabupaten Garut pada 2016 lalu akibat alih fungsi lahan ke sektor perumahan.

Saat itu, puluhan orang tewas dan ribuan warga mengungsi. Lahan-lahan pohon bambu yang menjadi mata pencarian warga ikut lenyap.

Kondisi ini membuat Garut terancam menjadi kota bencana alih-alih sebagai wilayah penghasil bambu.

Akhirnya pada 2017, Sinergi Foundation mulai menanam 1000 benih pohon bibit bambu sebagai tanaman konservasi lingkungan di Kecamatan Selaawi, Garut, Jawa Barat.

“Kami berharap ini bisa memperbaiki lahan kritis,” tukas Ima.

Garut selama ini memang terkenal sebagai kabupaten pengekspor kerajinan bambu. Berdasarkan data statistik pada Dinas Kehutanan Garut, total luas tanaman bambu di Garut mencapai sekitar 2.000 hektare.

Ima akhirnya juga melakukan pemberdayaan masyarakat lewat penguatan ekonomi kreatif para petani bambu.

Ima mengatakan ada 77 kelompok mitra tani yang dibina Sinergi Foundation. Selain fokus kepada konservasi dan pembibitan, kelompok ini juga fokus kepada produksi kerajinan.

Produk-produk kerajinan itu antara lain sangkar burung, kursi, bakul, ayakan, caping, dan lain sebagainya.

Target penghijauan pemerintah

Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PDASHL) Ida Bagus Putera Prathama mengapresiasi terobosan berkurban dengan misi penghijauan.

Ida menyampaikan baru ide Green Kurban adalah terobosan baru di Indonesia yang bermanfaat untuk melestarikan lingkungan.

“Kalau perlu dukungan, kami dengan senang hati siap menyiapkan bibit,” ujar Ida kepada Anadolu Agency.

Ida mengatakan kini lahan kritis yang ada di Indonesia mencapai 14 juta hektar. “Bayangkan dari jumlah itu, satu tahun kita baru bisa berapa ratus ribu,” kata Ida.

KLHK sendiri menargetkan penanaman pohon seluas 230 ribu hektare pada 2019. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana.

KLH mencatat rata-rata penanaman pohon masih seluas 25 ribu hektar per tahun. Padahal penanaman ideal seharusnya menjangkau 200 ribu hektare per tahun.

Oleh karena itu, kata Ida, pemerintah selalu menggandeng NGO, termasuk lembaga agama, untuk berkontribusi dalam pelestarian lingkungan.

KLHK, kata Ida, selama ini sudah menggandeng NU dan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

“Kita sudah ada MoU dengan NU dan Muhammadiyah,” ungkap Ida.

MoU itu berisi kerja sama antara pemerintah dan ormas-ormas Islam tersebut untuk melakukan penanaman pohon.

“Misalnya Muhammadiyah punya area yang ingin ditanami pohon, maka kami siapkan bibitnya,” terang Ida.

Ida pun mengutip perkataan tokoh agama Din Syamsuddin bahwa mesjid harus hijau dengan ditanami pohon di sekelilingnya.

“Sekarang program penanaman pohon di mesjid pun sudah jalan,” kata Ida.

Ida berharap banyak lembaga-lembaga agama mau peduli terhadap lingkungan karena bumi adalah milik bersama.

“Kita bisa saling bersinergi dan berkoordinasi,” ucap Ida. []

Source: Anadolu Agency

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Ada yang bisa Kami bantu?