Gema Kebahagiaan Idul Adha di Kampung Sadarbakti Cianjur Selatan…

Landai. Jalan sepanjang menuju Cianjur Selatan begitu mulus. Tak terganggu bebatuan, atau jalan berlumpur. Membuat siapa saja yang melalui perjalanan terlena, hanyut dalam rasa kantuk. Rupanya, jalan menuju Kampung Sadarbakti Desa Sukasirna Cianjur Selatan yang katanya jauh dan terpencil itu tak sesulit yang dibayangkan. Begini saja sih, enteng!

Tapi lambat laun, jalan kian menanjak. Naik, naik, berbelok, naik lagi, teruuss naik. Hampir dua jam setelah kami keluar dari jalan utama. Namun rasanya kami, tim monitoring Green Kurban 2016, belum menemukan tempat yang kami tuju. Seketika kami dilanda cemas, khawatir tersesat.

Surya mulai terkikis awan gelap di ufuk barat. Mendung, dan sebentar lagi gelap. Jalanan sepi, tak ada kehidupan. Baru satu jam kemudian, setelah rasanya menyusuri bukit tak berujung itu, kami bertemu dengan utusan mitra kami yang hendak menjemput.

Kami diajak masuk ke jalan kecil, sekeliling kami hutan. Dan hanya cukup satu mobil. Jika ada kendaraan lain melintas, terpaksa kami menepi. Deg! Kami tegang, karena samping kiri mobil adalah ngarai curam. Andai tak berhati-hati, amanah yang diemban pada kami mungkin tak akan tersampaikan. Alhamdulillah, anggota tim yang menjadi driver kami tangguh sekali.

Kami kira, tempat tujuan hanya tinggal sepenggal langkah saja. Apalagi, jika sudah dijemput. Tapi rupanya, kami salah besar. Setelah bersenang-senang ria dengan jalanan yang mulus, kami melihat jalanan berbatu besar yang membentang di hadapan kami. Terjal, rusak, dan tak ada penerangan. Aarrgh, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai!

Gijlag, gijlug, mobil Granmax yang kami tumpangi terus melewati satu batu ke batu lain. Penerangan yang hanya bertumpu pada lampu mobil, rasanya tak cukup. Ditambah harus waspada agar tak tergelincir, juga perlu mengawasi mitra kami yang telah meluncur dengan motor matic-nya. Sungguh, kami tertampar. Kami yang memakai mobil saja, setengah mati kesulitan. Tapi, mereka? Wow!

Dari data survey, daerah yang kami tuju memang super duper jauh sekali. Jarak yang ditempuh menuju pusat pemerintahan saja mencapai 230 kilometer. Terbayang kan sulitnya!

Singkat kisah, perjalanan panjang yang telah menyedot waktu 12 jam secara keseluruhan itu berakhir bahagia. Kami tiba di rumah mitra yang bernama Ahmad Nurjen dengan selamat. Sambil sempoyongan karena lelah, lapar, dan pusing, kami diajak melihat-lihat 20 domba amanah donatur yang akan disembelih esok hari. Tak kelihatan, sudah gelap.

Perjalanan panjang itu berakhir dengan kami terkapar tidur di rumah beliau. Lelah luar biasa. Kami harus menjaga stamina, agar pekerjaan besok tetap terlaksana dengan lancar.

***

Pukul 3 pagi. Di luar kamar, telah ada hiruk pikuk. Sedikit menengok, kami mendapati ibu-ibu sibuk menyiapkan aneka panganan beras, seperti nasi dan lontong dalam jumlah besar. Rupanya mereka memiliki tradisi sendiri dalam merayakan ibadah suci Idul Adha.

“Kami biasa seperti ini pada hari raya. Membuat banyak makanan, lalu dinikmati bersama-sama,” kata Ahmad Nurjen.

Eits, ternyata bukan hanya itu kebiasaan masyarakat di sini. Selepas mentari menyembul dari Timur, kami bersiap menunaikan shalat ied. Tapi alangkah terkejutnya, ketika Ahmad Nurjen menjelaskan bahwa para wanita tak diperkenankan shalat ied. “Tak apa, kan hanya ibadah sunnah,” tukas mitra kami itu. Yaahh… L

Pembaca, jangan salah paham dulu. Ini bukan bid’ah. Rupanya, masjid yang mereka kecil sekali. Tak sampai 8×8 meter. Tidak akan cukup menampung semua warga. Menurut Nyai, salah seorang warga, setiap tahun perempuan di sana memang tak dilibatkan dalam shalat ied.

“Ramadhan lalu, masjid kami bahkan hampir ambruk. Atapnya mau roboh. Tapi kami semua tak punya biaya untuk memperbaiki,” kisah Nyai.

Dan sedihnya, khutbah shalat ied yang menggema dari toa masjid, tiba-tiba tak terdengar. Listrik di seluruh kampung mengalami kelumpuhan. Katanya, memang biasa seperti ini di sini. Ah, ternyata memilukan sekali kondisi beribadah di tempat terpencil…

Untunglah, selang dua jam, listrik kembali menyala. Ahmad Nurjen mengumumkan penyembelihan domba ke seantero kampung. Rencananya, kurban akan dilakukan di halaman masjid. Usai pengumuman, masyarakat girang. Berbondong-bondong, tua, muda, laki-laki, maupun perempuan, menyemut mengelilingi lokasi.

Baru pertama kali, kurban dirayakan semeriah itu di Kampung Sadarbakti. Dua puluh hewan kurban! Bayangkan! Padahal dulu, jarang sekali ada orang yang berkurban. Sekali dua ada, tapi jarang sekali. Kalaupun ada, masyarakat hanya bisa mendapat sedikit. Ya terang saja, mereka kan harus membagi jatah untuk 143 KK di kampung itu.

“Di setiap rumah, bisa ada sampai 2-3 keluarga. Karena banyak anak yang masih menumpang rumah orang tua. Dan bisa dibayangkan, daging kurban yang sedikit, dibagikan untuk orang sebanyak itu,” kata Ahmad Nurjen.

Kejadian-kejadian itu tak terulang di tahun ini. Masyarakat mendapat daging yang cukup, mencapai tiga kilogram setiap rumah. Bahkan, sebagian domba, diberikan pada kampung sebelah yang tak melaksanakan kurban. Alhamdulillah.

Sebelum penyembelihan dilakukan, tak lupa tim monitoring memberikan edukasi penghijauan. Kami mewanti-wanti agar tak memakai bahan plastik yang berpotensi mencemari lingkungan. Alih-alih, lebih baik memakai dedaunan dari pohon pisang yang memang rimbun tumbuh di sana.

Tapi, pembaca, tradisi Idul Adha di Kampung Sadarbakti memang berbeda. Jika umumnya masyarakat gemar menggunakan kantung plastik sebagai media distribusi, di sini justru lain. Ada pelepah daun pisang, dan ganting (irisan bambu) yang digunakan untuk wadah daging yang siap diibagi ke masyarakat.

“Kami umumnya mendayagunakan bambu tak terpakai untuk mengaitkan daging,” terang Ahmad Nurjen.

Dan salah seorang tim monitoring, Fauziah, mengapresiasi yang dilakukan warga. Ia menilai jarang sekali, ada masyarakat yang kreatif menggunakan tumbuhan di sekelilingnya. Meskipun ia tahu, mereka memanfaatkannya bukan karena aware pada pelestarian bumi.

“Tapi setidaknya mereka tidak menggunakan bahan yang berbahaya bagi alam. Dan tetap harus diberi tahu, urgensinya bagi bumi bagaimana,” kata Fauziah.

Sampai prosesi penyembelihan selesai, masyarakat masih ramai di sekeliling masjid. Antusias karena mereka segera mengantongi daging untuk keluarga. Sebungkus daging kurban saja, namun perasaan bahagia itu membuncah di hati mereka.

Semoga, Green Kurban dapat terus menebar manfaatnya ke seluruh penjuru bumi. Dan tawa itu, bisa kembali hadir tahun-tahun berikutnya…

Penulis adalah jurnalis Tabloid Alhikmah, Aghniya Ilma Hasan.

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.