Garis Arsir Kurban dan Penghijauan

SF-UPDATE,– Menanam pohon kini tampak biasa. Dampaknya, memang tak akan langsung terasa. Butuh waktu cukup, untuk menuai hasilnya. Boleh jadi nanti di era generasi pelanjut cita-cita, pohon itu kelak akan terasa manfaatnya. Maka yakinkan, dengan doa dan sejuta harapan, benih pohon yang sekarang  ditanam, kelak akan menjadi warisan tak terperi bagi semesta, pun anak-cucu kita nanti. Memaknai  lebih ibadah kurban sebagai manifestasi penghambaan kita, makhluk yang mengemban amanah, menjaga serta melestarikan bumi tercinta.

Amanah yang tak mudah, di tengah dunia yang seolah baru terbangun dari tidur panjang. Dunia yang sebagaian besar penghuninya – kita di antaranya – seperti baru sadar, bahwa lingkungan sekitar tak lagi lestari. Lahan-lahan hijau masif bersalin rupa menjadi hutan-hutan beton, yang diklaim sebagai mahakarya peradaban manusia. Di beberapa tempat, bahkan berdiri kokoh dengan angkuhnya, seperti ksatria bumi yang menantang penghuni langit.

Lahan-lahan produktif, semisal area persawahan, demikian pula. Perlahan tapi pasti, terus tergerus digilas roda industry. Tak peduli bagaimana caranya. Selama dipandang menguntungkan dari sudut materi, hamparan hijau dan produktif di manapun ia berada, biarlah tinggal cerita dan sejarah keberadaannya saja. Maka wajar adanya jika kebakaran hutan, pembalakan liar, dan modus-modus alih fungsi lahan lainnnya terus terjadi, tanpa ada yang bisa menghalangi.

 

Kurban Plus Penghijauan

Isu lingkungan memang bukan sesuatu yang baru. Ramai mencuat kembali sekitar satu-dua dekade ini. Tentu bukan latah, atau belaka membebek arus utama. Tapi kesadaran dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa amanah adalah sesuatu yang kelak dipertanggungjawabkan, maka Sinergi Foundation menggagas Green Kurban, sebagai inovasi Program Kurban Plus penghijauan, dimana dari satu hewan yang Anda kurbankan, turut ditanam satu pohon sebagai ikhtiar hijaukan bumi. 

CEO SF Ima Rachmalia menerangkan, resmi diusung di tahun 2013 lalu, sebagai gagasan baru di ranah pengelolaan Kurban yang telah dimulai sejak tahun 2002. Total kepedulian yang dihimpun sampai dengan tahun 2015 lalu mencapai 13.730 hewan kurban (setara kambing/domba), dengan akumulasi penerima manfaat mencapai satu juta lebih warga miskin, terpencil, rawan gizi dan wilayah minus lainnya di negeri ini, mulai Aceh hingga Papua. Bahkan hingga melintas ke negeri jiran, wilayah minoritas muslim di Pattani (Thailand), dan Kamboja.

Di pelosok Papua, ujung Timur negeri ini, misalnya. Distribusi hewan Kurban menembus 10 desa di 6 Kecamatan, yang tersebar di Kabupaten Sorong dan Raja Ampat. Di salah satu titik distribusi, Selat Kalobo, perjalanan distribusi hewan Kurban harus ditempuh dengan menyeberang samudera selama sekitar 2 jam dari laut Sorong.

Adapun, imbuh Ima, jenis pohon yang ditanam sebagai nilai plus program ini adalah jenis Pohon Produktif, antara lain: Pohon Nangka, Pohon Sawo, Jambu Batu, Jambu Bangkok, Jambu Air, Durian, Mangga, Rambutan, dan jenis pohon buah lainnya. Ia pun menjelaskan bahwa alasan pemilihan pohon buah, lantaran selain turut serta menghijaukan, pula diharapkan dapat berdampak pada peningkatan taraf ekonomi penerima manfaat, kelak setelah pohon itu mulai menghasilkan.

Ketika ditanya soal sebaran lokasi penanaman pohon, Ima pun menjawab gamblang, “Sementara ini fokus penyebaranpohon dilakukan melalui pola kemitraan, dengan skala prioritas di wilayah pesantren, sebagai sentra dakwah di pelbagai pelosok negeri. Adapun kriteria mitra pengelola, antara lain: Pesantren yang telah dekat, bahkan membaur dengan masyarakat setempat. Berpengalaman mengelola usaha, khususnya di bidang pertanian. Memiliki agenda kegiatan belajar-mengajar regular (rutin). Dan tak kalah penting adalah ketersediaan lahan untuk penanaman, serta pengelolaan.”

Masih menurut Ima, bahwa Green Kurban hanyalah bentuk Ikhtiar kecil, yang diharapkan dapat mendorong dan menginspirasi gerakan kolektif yang lebih besar, hijaukan alam raya.

“Karenanya kami mengajak seluruh kaum Muslimin untuk bergabung bersama ribuan pekurban lainnya dalam program Green Kurban. Memaknai  lebih ibadah kurban sebagai manifestasi penghambaan kita, makhluk yang mengemban amanah, menjaga serta melestarikan bumi tercinta,” pungkas Ima.

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.