Di Bulan Kedermawanan Ini, Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Begitu Saja

SF-UPDATE,– Ramadhan disebut sebagai Syahrul Jud, bulan kedermawanan. Rasulullah Saw., sering bersedekah dan lebih sering lagi bersedekah di bulan Ramadan. Sedekah di bulan Ramadan lebih besar pahalanya dibandingkan dengan sedekah yang sama yang dilaksanakan di bulan selain Ramadhan.

Sedekah sunat yang dilakukan di bulan Ramadan mendapat pahala seperti sedekah wajib yang dilakukan di luar Ramadan. Dan sedekah wajib di bulan Ramadan mendapat pahala 70 kali lipat dibandingkan sedekah wajib yang sama yang dilakukan di luar Ramadan.

Slogan tiada hari tanpa sedekah harus menjadi tekad dan amalan setiap Muslim di bulan Ramadan. Harta adalah anugerah Allah yang harus disyukuri. Harta juga harus dipertanggungjawabkan, semakin banyak harta seorang semakin panjang proses hisabnya nanti. Harta juga bisa menjadi fitnah (ujian) keimanan yang cenderung menjadikan seseorang menjadi arogan dan sombong karena memiliki kekayaan yang banyak.

Islam juga mengajarkan bahwa harta hendaknya menjadi bekal ibadah kepada Allah Swt. Pesan Al Quran "berjuanglah kalian dengan harta kalian dan dengan diri kalian".

Seorang Muslim diperintahkan oleh Allah untuk bekerja keras, agar bisa ibadah harta secara maksimal. Allah SWT sangat menghargai orang-orang yang suka memberi "tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah". Seorang Muslim yang banyak memberi pasti lebih unggul daripada Muslim lain yang banyak diberi.

Seorang Muslim diwajibkan bekerja keras mencari nafkah supaya ia bisa memberi kepada orang lain. Nabi menyampaikan pesan bahwa orang yang mencari nafkah dengan sungguh-sungguh jauh lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang meminta-minta.

Kerja keras mencari nafkah itu ibadah, jihad, amal soleh, dan kifarat penghapus dosa. Rizki yang paling berkah adalah rizki yang diperoleh dengan keringat sendiri. Demikian pesan Nabi Saw. Usaha mencari nafkah selain harus ditempuh dengan cara yang halal juga dipesankan oleh Alquran agar kekayaan itu jangan terkonsentrasi pada sekelompok kecil orang-orang yang kaya saja.

Ekonomi kapitalisme yang dapat mengkonsentrasikan kekayaan menumpuk pada sekelompok kecil orang-orang kaya tidak sesuai dengan Islam. Untuk terciptanya pemerataan kekayaan atau lebih tepatnya menghindari adanya penumpukan kekayaan tersebut pada sekelompok kecil masyarakat.

Selain diciptakan suatu aturan yang dapat mendukung pemerataan kekayaan dan dilarang segala macam usaha monopoli, dilarang terjadinya usaha mendapatkan kekayaan dalam bentuk riba, maisir, penimbunan, ghoror. Pun ditetapkan bahwa dalam kekayaan seseorang yang sudah mencapai nisab (85 gram Emas atau 1 ton padi untuk tanaman), di dalamnya terdapat harta yang menjadi hak-hak mustahik zakat sebanyak 2,5%, atau 5% atau 10% atau 20% yang mesti diberikan kepada fakir, miskin, sabilillah, ibnu sabil, amilin, mualaf, dan ghorimin.

Karena itulah, orang yang mengeluarkan zakat bukan seorang dermawan. Sebab zakat yang diberikannya bukan miliknya, melainkan milik mustahik zakat yang dititipkan oleh Allah kepada muzzaki atau pemegang titipan dari Allah yang harus diberikan kepada mustahik tersebut.

Orang yang sudah wajib zakat tapi tidak mengeluarkannya dapat dikatakan sebagai perampok yang oleh Alquran Surat Al Ma’un disebut sebagai pendusta agama. Allah SWT memberikan jaminan bahwa tidak akan ada orang menjadi miskin karena zakat dan tidak akan ada orang menjadi sengsara gara-gara zakat. Yang ada justru sebaliknya dengan zakat harta yang ada menjadi tambah barokah dan zakat itu bisa menjadi kifarat penghapus dosa.

Begitu pentingnya zakat, Khalifah Abu Bakar Siddik pernah bersumpah akan memerangi orang yang tidak zakat walaupun mereka melakukan shalat. Sumpahnya yang terkenal itu Wallohi Lauqotilannas Man Farrogo Bainasholah Wazzakat.

Demi Allah saya akan tetap berperang dengan orang-orang yang memisahkan shalat dan zakat. Alquran sendiri memberikan wewenang kepada penguasa untuk merampas harta orang-orang kaya yang tidak mengeluarkan zakatnya.

Selain zakat, ada bentuk-bentuk ibadah harta lainnya seperti sedekah, infak, fidyah, kifarat, hibah, nafkah, dll. Intinya adalah pengeluaran harta dari seseorang kepada orang lain yang secara hukum ada yang bernilai wajib seperti zakat dan ada yang bernilai wajib atau sunat seperti infak, sedekah, dan lain-lain.

Ramadhan adalah saat yang paling tepat untuk menyalurkan harta kepada orang-orang yang berhak menerimanya, baik langsung kepada yang bersangkutan atau melalui lembaga-lembaga yang menangani zakat, infak, sedekah tersebut yang betul-betul amanah, terpercaya. Karena Ramadan adalah bulan kedermawanan. Wallahu alam.

***

 

Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Begitu Saja

Informasi dan Layanan Donasi Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf

Call Center : 0851 0004 2009 (TSel)

Website : http://www.sinergifoundation.org/
Twitter : @sinergiID
Instagram : @sinergi_foundation

Our Office
Jl. HOS Tjokroaminoto (Pasirkaliki)
No. 143 Bandung 40173
Telp: (022) 6120218 Fax: (022) 6120130
Indonesia

Gedung Wakaf 99
Jl. Sidomukti No. 99 H Bandung 40123
Telp: (022) 2513991 Fax. (022) 2511865
Indonesia

Hotel Kartika Chandra (Safari Suci Office) Kav.12 
Jl. Jend. Gatot Subroto Jakarta Selatan 12930
Tlp (021)-5207548 Fax. (021) – 5252287
Indonesia

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.