Di (Balik) Sepetak Lahan, Saksi Kerasnya Kehidupan Petani

Sepetak lahan ini, begitu lama menjadi saksi kerasnya kehidupan petani. Hasil panen yang seharusnya mampu membuat mereka makmur dan sejahtera, nyatanya tidak cukup menutupi biaya makan sehari-hari.

 

SF-UPDATE,– Saya baru saja terbangun ketika dua petani muda tengah tersenyum ramah kepada kami, para penumpang mobil yang memasuki jalanan setapak desa. Tidak jauh dari sana, seorang anak perempuan yang mungkin baru berusia 6 tahun, membukakan portal bambu sambil tersenyum malu-malu. Penduduk di sini ramah-ramah, bisik saya lirih.

Selasa (02/02/2016), satu rombongan kecil terdiri dari 5 orang, di antaranya saya serta CEO Sinergi Foundation Ima Rachmalia, melakukan sebuah perjalanan dari Bandung menuju Desa Lengkongjaya, kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Awalnya saya enggan turut serta, tetapi begitu tahu bahwa tempat yang kami tuju adalah sebuah desa yang memiliki antusiasme dan harapan besar terhadap kesejahteraan Indonesia, maka tanpa ragu, segera saya katakan “ayo, saya mau”.

Masyarakat Cigalontang telah cukup lama menjadi salah satu mitra Sinergi Foundation dalam sebuah program bernama Lumbung Desa (Lumdes). Program ini berbentuk community enterprise dengan basis profit dan benefit. Berfokus di bidang pengelolaan pertanian, program ini diharapkan dapat memberikan keuntungan melalui optimasi hasil pertanian sekaligus turut berkontribusi dalam perbaikan masyarakat dan lingkungannya.

Namun, saya sedikit menyayangkan, kedatangan kami bertepatan dengan curah hujan pertama bulan Februari. Kami tidak dapat secara leluasa menikmati panorama, menatap berkas-berkas cahaya yang berjatuhan dan berhamburan di Tanah Ciwarujaya. Meski demikian, nyatanya Ciwarujaya ini menghadirkan sisi keindahannya yang lain. Dan saya, hanya bisa ternganga sambil berkata, “Masya Allah, indah nian desa ini”.

Desa Lengkongjaya, tidak jauh berbeda dari kebanyakan desa di bilangan Kabupaten Tasikmalaya. Di sepanjang jalan, petakan sawah rapi berjejer, membentuk garis-garis lurus bersekat. Di kanan dan kiri jalan, nampak rumpun padi bertengger dari hijau hingga subur kekuningan. Beberapa ruas jalan ditanami Pohon Singkong, Ubi, bahkan beberapa jenis Perdu juga tak luput tumbuh di sana. Saya sempat menemukan beberapa sungai besar berkelok, yang ternyata justru menambah keasrian Lengkongjaya sebagai salah satu desa tani di Tasikmalaya.

Sesekali, kami melewati kelebat Hutan Karet. Pohon-pohonnya ramping lagi kokoh, berbaris rapi bagai punggawa yang selalu siap menyambut para tamu di desa. Daun-daun yang basah, sebagiannya gugur dan berjatuhan di sepanjang jalan, seolah menegaskan bahwa Lengkongjaya adalah desa yang lugu, yang selalu berbahagia meski hujan terus merembas dan meluap di luasan tanahnya.

“Masih lama, Pak?” tanya saya kepada Pak Aep, satu-satunya lelaki dalam rombongan, yang sekaligus membuatnya bertugas mengendarai mobil selama perjalanan ini berlangsung.

Mobil kami menuruni perbukitan, menuju pemukiman masyarakat setempat. Rumah-rumah dengan bilik bambu, mayoritas bercat putih dan hijau, genteng-genteng merah kecokelatan, nampak di kejauhan. Meski rumah-rumah di Lengkongjaya masih terhitung sedikit, begitupun penduduknya, ada banyak jamban yang bisa saya lihat secara jelas melalui kaca mobil, hingga membuat saya terkekeh pelan.

“Tuh, sudah kelihatan!” jawab Pak Aep, sambil menunjuk sebuah rumah tembok bercat abu-abu dengan corak hijau.

Pak Aep memarkir mobil di samping rumah tersebut. Begitu mendekat, selain mesin huller serta berkarung-karung gabah yang teronggok di dalam ruangan, tidak ada perabotan khas perumahan di sana. Ada satu ruangan terbuka di samping rumah tersebut, tetapi isinya hanya dus-dus kosong serta hamparan kulit gabah di satu ruangan yang lain.

“Kantornya di sana, bukan yang itu” kata Pak Aep, menunjuk sebuah rumah lain di seberang rumah tadi.

Masih sama seperti sebelumnya, pun rumah yang baru saja ditunjuk itu bercat abu-abu dengan corak hijau. Kendati banyak orang yang sibuk beraktivitas di sana, rumah itu justru nampak sepi. Bahkan sama sekali tidak ada orang. Mungkin karena hujan deras, batin saya.

Rumah itu tidak begitu luas, bahkan terkesan sempit untuk disebut sebagai kantor. Ruang tamu hanya berukuran satu kali tiga meter, lengkap dengan sofa berjejal serta meja penerima tamu dan satu unit komputer di atasnya. Begitupun ruangan lain, yang katanya akan didekorasi sebagai kantor Lumbung Desa, hanya sekitar tiga kali tiga meter. Selain bermeter-meter kabel dan terminal listrik di dinding, serta satu gulung karpet beludru yang teronggok di sudut ruangan, nyaris tidak ada barang lain di ruangan itu.

Ustaz Gungun, Koordinator Pengurus Lumdes Lengkongjaya, tidak lama kemudian datang menghampiri kami. Di tangannya, ia menggotong sekeranjang manggis.

Hapunten, Ibu. Teu ngawartosan, iyeu teu gaduh cai-cai acan. (Maaf Bu, cuma ada ini. Ibu gak bilang mau ke sini_terj),” ucapnya dengan wajah panik, merasa bersalah kepada para tamunya.

Wios, Ustaz. Teu keudah ngarerepot (Tidak apa-apa Ustaz. Tidak perlu merepotkan_terj),” balas Bu Ima, yang ikut merasa bersalah karena membuat Ustaz Gungun berlarian mencari jamuan untuk kami.

Masyarakat Lengkongjaya memang bersiteguh memelihara budaya Islam untuk menjamu tamu dengan sebaik-baik jamuan. Maka tidak heran, ketika mengetahui bahwa kami berkunjung, apalagi dengan kondisinya yang tidak mendapat pemberitahuan terlebih dahulu, Ustaz Gungun kalang kabut. Setelah satu keranjang manggis tersaji untuk kami, kini Ustaz Gungun beserta istri sibuk menggoreng tahu serta beberapa camilan lainnya. Aghniya, salah satu Jurnalis Alhikmah yang turut serta menyaksikan kegaduhan tersebut, hanya menggeleng sambil tersenyum.

Di samping berbagai suguhan enak nan lezat dari Ustaz Gungun beserta istri, tersuguh pula panorama indah di luar jendela kantor ini. Berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus meter dari tempat saya duduk, nampak sebuah sungai besar beserta arusnya yang deras. Dari sana, sumber pengairan sawah berasal. Kala hujan, air sungai bergulung-gulung mengalir, menghanyutkan dan menggemburkan tanah di sepanjang dinding sungai itu.

“Sungainya dalam,” ujar Teh Wini, anggota lain rombongan kami. “Tapi di sekitar sungai itu ada petakan sawah yang luas, sebagiannya milik Lumbung Desa,” tambahnya.

Terlepas dari budaya dan keindahan alam Lengkongjaya, desa ini menopang harapan besar masyarakatnya. Di sepanjang garis perbukitan serta petakan sawah bersekat rapi itu, ada senyum anak-anak desa yang mengharapkan pendidikan lanjutan, ada senyum para janda yang tak lagi mampu mencari nafkah dengan tangan-tangannya yang terlanjur mengkerut, ada senyum para ayah serta ibu yang mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan keluarganya meski sekadar sepiring nasi setiap pagi dan malam hari.

Sepetak lahan ini, begitu lama menjadi saksi kerasnya kehidupan petani. Hasil panen yang seharusnya mampu membuat mereka makmur dan sejahtera, nyatanya tidak cukup menutupi biaya makan sehari-hari.

“Desa identik dengan bertani. Namun, adanya pandangan bahwa petani merupakan pekerjaan yang tidak menjanjikan membuat banyak desa justru ditinggalkan putra-putri terbaiknya,” ujar Bu Ima, membuat saya merasa semakin berharap besar terhadap Lumbung Desa Lengkongjaya.

Benar, harapan para petani ada di sini, di desa Lengkongjaya ini… []

 

Reporter Program SF : Asih Purnamasari

Editor : Pipin Nurullah

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.