kurban, pelosok, green kurban, dhuafa

‘Dari Zaman Jepang, Baru Sekarang Ada Kurban’

Itu kata Uci. Kami memanggilnya Abah Uci. Kakek itu berusia lebih dari 80 tahun, tepatnya tidak ada yang ingat. Tapi dia ingat, sejak zaman Jepang, ia sudah tinggal di atas bukit di sini, Desa Cikuluwung, yang dapat  disusur dengan berjalan kaki selama hampir satu jam dengan melewati tanjakan berundak-undak yang melelahkan!

Lokasi pendistribusian kali ini memang termasuk sangat terpencil. Tepatnya terletak di Kampung Lebak Leungsir, Desa Cikuluwung, Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Untuk mencapai kampung Lebak Leungsir saja, kami harus memasuki hutan dan jalanan yang berupa batu, dan berkelok-kelok.

“Astagfirullah..” saat ada turunan, sebelah kiri mobil adalah jurang. Sedikit terperosok saja, tidak tahu seperti apa nasib kami.

Kami pun masuk ke kawasan hutan di perbukitan. Jalanannya tidak bagus, tidak rata, penuh dengan tanah dan batu. Tanjakan masih harus dilewati berkilo-kilo meter lagi. Dengan susah payah, seluruh tim akhirnya tiba di desa Cikuwulung di puncak bukit. “Di sini karena dulu kita harus menghindari penjajahan Jepang,” kata Pak Uci, sesepuh desa.

“Baru dua minggu, jalan batu itu bisa dilewati motor, dulunya tidak bisa , hanya tanah,” tambah Pak Uci. Bahkan, kata Pak Uci, listrik saja baru masuk tiga tahun lalu, itu pun hasil patungan masyarakat.

“Di sini makan sehari-hari yang paling nasi, itu ditumbuk sendiri, ada ubi sama sayur-sayuran. Kambing nggak pernah. Ini pertama kali dari zaman Jepang ada yang kurban di sini, terima kasih,” lirih Pak Uci.

Dalam terik panas, 10 ekor kambing yang dibawa dengan berjalan kaki 1 jam ini akhirnya bisa dipotong. Takbir menggema di puncak bukit. “Allahu akbar..Allahu akbar..Allahu akbar..”

Idul Adha, dengan anjuran ibadah kurbannya, sudah di depan mata. Ibadah ini mengandung hikmah agar kita lebih dekat pada Sang Pencipta. Dan tentu ibadah ini juga mengajarkan umat Islam untuk memupuk rasa empati pada sesama, melatih diri menjadi pribadi peduli, serta menghindarkan dari sikap tamak.

Di pedalaman Indonesia, ada banyak lagi yang bernasib seperti warga Desa Cikuluwung. Mereka berada di daerah terpencil, jauh dari mana-mana, dan penghasilan mereka minim. Tertatih-tatih menghidupi sehari-hari, tak terpikir untuk melakukan kurban.

Mari tunaikan ibadah kurban, dan galang kepedulian untuk mereka. Dengan bergabung di Green Kurban, insya Allah Anda berpartisipasi kurban untuk wilayah miskin, terpencil, wilayah konflik, rawan gizi, dan wilayah minus lainnya di negeri ini.

“Pada setiap lembar bulu (hewan kurban) itu kita memperoleh satu kabaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Yuk kurban! Klik di sini

No votes yet.
Please wait...
Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.