Belajar Kearifan Agama dari Kampung Nagrak – Garut

SF-UPDATE,– Mari ucapkan selamat pagi, di hari yang indah ini Bandung nampak lebih berseri. Menyisakan setangkup rindu yang bersemi. Bagaimana tak demikian, perayaan qurban yang dinanti kan tiba tak lama lagi. Dengan langkah lembut, sinar mentari mulai menyentuh sepertiga daratan. Bulir-bulir embun yang berbaris acak, mulai terangkat dari pucuk-pucuk dedaunan, bergelut dengan pekatnya rutinitas di jalanan.

Menyambut Iedul Qurban, Sinergi Foundation siap menjalankan syariat lewat program Green Kurban. Berangkat dengan niat ketulusan, agar lebih banyak kaum muslim di pelosok daerah yang juga bisa turut berbahagia, merayakan euforia hari raya Islam ini. Ragam klasifikasi daerah distribusi kurban. Dari daerah terpencil, rawan akidah, hingga memang daerah yang masyarakatnya notabene kaum papa. Dan saya, bersama lima anggota lainnya diamanahi memonitoring daerah Garut dan Pangandaran.

Beranjak pukul delapan, beberapa tim telah mendahului ke titik distribusinya masing-masing. Kemudian, setelah semua persiapan dirasa lengkap, berangkatlah tim kedua ini.

Untuk ke Garut sendiri estimasi perjalanan memakan waktu sekira 4-5 jam. Sepanjang perjalanan, meski belokan hanya terbagi dua; kanan dan kiri, namun tingkat lengkungan atau ketajamannya sangatlah beragam. Ada yang memang tumpul-tumpul nanggung, tapi sekalinya tajam berasa nancep banget.. Tapi biarlah, bukankah sebuah petuah bijak pernah berkata, nakhoda yang tangguh lahir dari terjangan badai dan amukan ombak. Begitulah sesuatu yang luar biasa dihasilkan dari kondisi yang memiliki tingkat tantangan yang besar.

Gugusan pohon yang menyelimuti kanan-kiri, deretan tanaman yang menjulang ke langit, serta kelokan jalan-jalan tajam nan curam. Jangan tanya seberapa sering jantung ini seakan berhenti berdetak, karena jalan yang sempit sehingga hampir menyenggol pengendara lain. Silang sengkarut, perjalanan Bandung Garut ditempuh dengan cukup lancar.  Meski tadi, kelokannya ampun dah. Sesekali bercanda dengan saling menggencet satu sama lain,, xixii. Meski untuk kondisi jalannya sendiri, tidaklah terlalu buruk.

Perjalanan pertama bertolak ke kawasan Cisompet Garut, Ahad (11/09/2016). Tepatnya dilakukan di dua tempat, Kampung Nagrak dan Kampung Lengkong Jaya. Masing-masing memiliki kesan tersendiri.

Tiba di Kampung Nagrak, sebagai lokasi pertama droping monitoring green kurban. Jarum jam dengan antengnya bertengger di angka dua siang. Kita pun bertemu dengan Pak Jajang sebagai nara hubung dan tokoh masyarakat di sana, Ustaz Wawan.

Sambil melepas lelah dan rehat-rehat manja, kita pun bercengkrama akrab dengan Pak Jajang. Tentang seluk beluk desa sekaligus tentang kondisi qurban di tempat tersebut.

“Karena di sini mayoritas buruh tani, ya termasuk yang langka ada yang bisa membeli hewan kurbannya,” jelas Pak Jajang.

“Sudah dua tahun ini, tidak ada yang kurban di sini,” kisahnya kemudian.

Kendati demikian, pembaca, tak bolehlah kita memandang remeh tempat tersebut. Keguyuban masyarakat Kampung Nagrak sungguhlah luar biasa. Sekekurangan apa pun mereka, namun tetap berusaha untuk saling membantu.

Hal ini diutarakan Ustaz Wawan, selaku pengasuh pondok pesantren Nurul Hikmah. “Alhamdulillah, kita sudah punya madrasah dan masjid, pesantren sedang dalam masa pembangunan. Sedikit-sedikitnya hasil swadaya masyarakat. Ada yang menyumbang uang ada juga yang menyumbang tenaga,” kenang Ustaz Wawan.

“Mereka ingin terlibat sekecil apa pun kontribusi yang bisa diberikan. Karena mereka merasa ingin memiliki juga,” lanjutnya.

Di Kampung Nagrak, anemo masyarakat menghadapi Iedul Qurban begitu terasa. Selepas Shalat Isya, sejumlah anak-anak, pemuda, baik laki-laki dan perempuan tumplek blek di area Masjid Nurul Hikmah. Ada yang menabuh bedug, sisanya bershalawat. Tak sedikit dari mereka yang lari-lari ceria.

Senandung takbir dan shalawat terus menggema, diiringi sahutan suara domba-domba yang terikat. Perayaan setahun sekali yang begitu terasa khidmat. Kendati gemuruhnya memekik telinga, namun suara-suara khas anak kecil yang bershalawat meningalkan kesan tersendiri. Hingga fajar menyeruak, barulah gema takbir berganti tadarusan lalu azan. Bocah-bocah yang tertidur kelelahan, kemudian dibangunkan untuk menunaikan shalat Subuh.

Detik terus berdetak, hingga jarum jam merangkak manis di angka enam. Hampir semua warga Kampung Nagrak bersiap menunaikan Shalat Ied. berpakaian sederhana, pakaian terbaik yang mereka punya, nampak dengan bangga mereka pakai. Mayoritas baju koko berwarna putih, lengkap dengan peci dan sarung. Pun yang perempuannya, kian meneduhkan dengan mukena-mukena yang menutupi tubuh.

Lokasi Shalat Ied sendiri memang bukan di Kampung Nagraknya, karena langgar yang mereka punya terlalu kecil. Kita harus berjalan lagi sejauh 500 meter dengan kondisi jalan yang menanjak. Dinginnya suasana pagi tersebut, membuat hati kian merasa nyaman. Apalagi, melihat senyum dan sapaan hangat dari para warga sekitar, meski kita tak saling kenal..

Setiba di lokasi shalat Ied, di Masjid Al Hikmah, ratusan jamaah sudah memadat. Beberapa orang menggelar sajadah di halaman masjid. Shalawat dan takbir kembali menggema. Tapi eh tapi,, ada yang terlihat kelelahan, mungkin capek menabuh bedug semalam suntuk kali ye..

Tak lama Sang khotib naik mimbar, mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus memahami nilai penting yang terkandung dalam syariat qurban ini. Di antara materi yang disinggung sang khotib adalah meneladani dua sosok insan mulia, Nabi Ibrahim dan Ismail kecil.

“Syariat qurban ini, tak bisa terlepas dari sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail,” kata sang khotib membuka ceramahnya.

“Keteladanan dua manusia yang teramat bersejarah. Contoh keteguhan dalam menjalankan perintah Allah Swt,” lanjutnya.

Kemudian, sang khotib pun mengilaskan cerita syariat qurban yang sekarang diikuti umat Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Dari mulai turunnya perintah menyembelih Ismail sampai purna cerita digantinya Ismail kecil dengan seekor hewan (gibas).

Usai khutbah, tibalah waktunya untuk menunaikan shalat Ied. Takbir kembali memantul di sudut-sudut dinding Masjid Al Hikmah. Terasa sekali bagaimana kekhusyukan para jamaah dalam shalatnya. Tak berhenti di sana, selepas shalat, para jamaah membentuk barisan kemudian saling bermusafahah. Masyaa Allah, betapa indahnya persatuan dan bermaafan.

Kampung Nagrak memang bukan tempat yang begitu luas, hanya berjumlah 400 KK, namun meninggalkan segudang kearifan agama yang membekas di hati. Iedhul qurban kian menjadi momentum perekat ukhuwah. Tak yang senja, para pemuda dan bocah-bocah turut menyemut di sekitaran pemotongan hewan kurban. Walaupun ada yang masih malu-malu, namun mereka cukup mudah diatur untuk direkam testimoni dan sepenggal ucapan terima kasih dengan kamera. Yah, berkali-kali take, rasanya gak masalah. Anggap saja tontonan komedi gratis. Hehe

Golok dan pisau telah diasah, satu persatu domba pun mulai diakadkan untuk dikurbankan. Selain basmalah, takbir, dan do’a juga disebutkan nama pequrban. Terselip juga harapan dan ucapan terimakasih yang tulus.

Langit Garut agaknya sedikit ‘galak’, pukul 10 pagi saja, badan sudah dibuat berkeringat. Belum lagi, bau domba dan darah-darah yang meleleh hanyir, sungguh menusuk hidung. Beberapa domba yang telah purna tersembelih, mulai disayat- dan dicacah kecil-kecil. Meski bau yang tak sedap menyeruak, namun nampak segali gurat bahagia dari para panitia lokal penyembelihan qurban tersebut. Bahkan saking bahagianya, ada dari mereka yang nyeletuk, “Asyik, tiasa ngegel daging uy (asyik, bisa makan daging, uy_terj).”

Saat simbolis penyerahan pun, sering sekali terdengar ucapan yang membuat hati merasa gerimis. Do’a-do’a yang tulus mereka panjatkan, untuk para tim monitoring, lembaga Sinergi Foundation, cum para muqarib yang telah menyisihkan sebagian hartanya.

“Aamiin.. sama-sama!” begitulah balas kami atas do’a-do’a yang telah dipanjatkan.

Berusaha komitmen dengan konsep green (hijau), ada yang berbeda dari penyerahan daging kurban dari tim monitoring ke masyarakat. Di antaranya yang kentara adalah tidak menggunakannya plastik saat pembagian. Penggantinya adalah belahan daun-daun pisang yang masih hijau mencolok. Hal ini dilakukan salah satunya sebagai ikhtiar merawat bumi dengan meminimalisir sampah plastik.

Sebagian dari daging tersebut, kemudian dimasak secara berbarengan di beberapa rumah warga. Puluhan ibu dan para kembang desa berkumpul, berlomba-lomba menyajikan olahan daging dengan peralatan masak seadanya. Kebanyakan masih menggunakan kayu bakar, walaupun ada yang sudah memakai kompor gas. Hasilnya, kebahagiaan yang terpancar sesaat kuat dan empuknya daging dilumat bersisa tulang oleh para warga, khususnya anak-anak yang sedari awal begitu antusias dengan kedatangan kami. []

 

Penulis : Maharevin

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Ada yang bisa Kami bantu?