Bang Idin, Masyarakat, Gerakan, Konservasi, Bambu

Bang Idin Ajak Masyarakat Galakkan Gerakan Konservasi Bambu

SF-UPDATES,– Berkiprah selama 30 tahun dalam isu lingkungan dan budaya membuat pria bernama Chaerudin yang akrab disapa Bang Idin ini disegani, bahkan oleh pemprov DKI.

“Untuk mengajak anak muda bergerak itu tidak sulit, cukup beri mereka pengetahuan tentang jati diri bangsa ini melalui legenda daerahnya,” ujarnya membuka silaturahim bersama Sinergi Foundation di Training Center, Gedung Wakaf 99, Jl. Sidomukti No. 99 H, Bandung, Selasa (17/04/2018).

Pada kesempatan tersebut tim Sinergi Foundation dan Lumbung Desa banyak memperoleh ilmu baru dari beliau, terutama dalam pemanfaatan bambu. Namun, sebelum mengulas lebih dalam mengenai bambu, Bang Idin terlebih dulu membahas kondisi Pasanggrahan di masa lampau yang terkenal dengan gunungan sampah dan sungai yang tercemar semenjak tahun 1980.

Kesal dengan keadaan tersebut tak lantas membuatnya menggelar aksi protes ke bundaran Hotel Indonesia. Ia justru melakukan perjalanan dengan berjalan dan menaiki rakit seorang diri menyusuri Sungai Pesanggrahan dari hulunya, yaitu di Gunung Pangrango, hingga ke muaranya di kawasan utara Jakarta–sejauh kira-kira 136 kilometer. Selama perjalanannya, dia rajin mencatat pepohonan, ikan-ikan jenis apa, serta satwa apa saja yang hilang akibat perilaku manusia.

Sepulang dari perjalanan ‘protes’ itu, Bang Idin lantas melakukan hal yang paling sederhana, yaitu mengangkut sampah dari aliran sungai dan bantarannya ke tempat pembuangan sampah. Sambil mengkoordinir masyarakat sekitar agar tidak membuang sampah sembarangan.

Proses tersebut, bukan tanpa kendala, aku Bang Idin. Pernah ia sampai cekcok dengan seorang pejabat yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Perkaranya sederhana, sang pejabat tersinggung karena diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

“Dia membentak saya: siapa kamu?! Saya kelompok tani, pak. Siapa suruh kamu?! Nggak ada yang nyuruh. Dari mana kamu sk (surat keputusan)-nya?! Mata saya langsung menyala, dan saya bilang: SK saya dari langit,” ungkap Bang Idin, mengulang lagi materi percakapannya dengan pemilik rumah tersebut.

Tidak puas, esoknya Chaerudin meletakkan sejumlah kantong sampah di pagar rumah orang tersebut. “Supaya mereka paham, bagaimana rasanya ada sampah di depan hidungnya.”

Pergerakan menuju perubahan yang lebih baik itu berlanjut. Bang Idin beserta kawan-kawannya mulai mengusahakan bibit pohon-pohon yang cocok ditanam di pinggiran sungai, dan menanamnya secara berkelanjutan hingga sekarang. Pun ia berhasil meyakinkan warga setempat untuk membawa bibit pohon dan menanamnya secara bersama-sama. Dari sekian banyak pepohonan yang ditanam sebagian besar adalah bambu.

Bang Idin memahami betul manfaat bambu untuk menanggulangi pencemaran. Pasalnya, bambu dapat menjadi filter untuk memroses air yang tercemar menjadi layak dikonsumsi. Belum lagi pori-pori di kedua sisi daunnya, amat bermanfaat menyerap sisa polutan dari proses pembakaran sampah untuk dijadikan pupuk.

Kesuksesan Bang Idin memang tak hanya di bidang konservasi saja, melainkan juga pengolahan sampah. Ia bahkan mendirikan incinerator di tengah hutan bambu untuk membantu menanggulangi masalah sampah yang dihadapi pemprov.

“Sehari bisa mengolah sampah hingga 24 truk sampah. Akan berbahaya jika kami menggunakan filter kanvas, karenanya kanvas itu diganti dengan air. Meski begitu, masih belum aman sepenuhnya. Karena itu, saya sangat bersyukur menanam bambu, sebab bisa menyerap sisa polusi yang dihasilkan dari pembakaran.”

Bercermin dari pengalamannya tersebut, Bang Idin sangat mengapresiasi langkah penghijauan yang dilakukan Sinergi Foundation dengan memanfaatkan bambu. “Saya sangat setuju langkah konservasi yang dilakukan SF ini, mengingat Bandung itu dikelilingi gunung aktif dan bentuk demografinya seperti mangkok. Jika tidak segera melakukan penanaman bambu tentu akan berbahaya. Selain karena fungsi bambu yang dapat menyimpan air, ia juga bisa menjadi peredam gunung berapi.”

“Harus segera digalakkan gerakan konservasi bambu ini di sekitar gunung aktif di Bandung, sebelum terlambat,” pungkasnya menutup silaturahim siang itu. []

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.